Senin, 20 Maret 2017

2019, Seluruh Puskesmas Terakreditasi

JEPARA – Dari 21 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Kabupaten Jepara sampai akhir 2016, hanya sembilan puskesmas yang telah terakreditasi oleh tim surveyor akreditasi puskesmas dari Kemenkes.
Sembilan puskesmas tersebut yakni, Puskesmas Tahunan, Bangsri I, Keling I, Welahan I, Mlonggo, Mayong II, Kedung II, Keling II, dan Puskesmas Jepara kota. Pemerintah Kabupaten Jepara pun menargetkan seluruh Puskesmas akan terakreditasi seluruhnya pada 2019.
Ini demi peningkatan pelayanan di fasilitas andalan masyarakat itu. “Dalam rangka peningkatan mutu dan kinerja pelayanan puskesmas, kita menargetkan pada 2019 seluruh puskesmas di Jepara insya Allah akan terakreditasi seluruhnya dari pusat,” kata Bupati Jepara Ahmad Marzuqi.
Dari data Pemkab Jepara, di tahun 2015 sebanyak 6 Puskesmas telah selesai terakreditasi. Tahun 2016 menyusul 3 puskesmas juga telah terakreditasi.
Kemudian untuk tahun 2017 sesuai usulan ada 8 puskesmas yang akan dinilai yaitu Puskesmas Donorojo, Mayong I, Pecangaan, Kedung I, Kembang, Pakis Aji, Batealit dan Nalumsari.
Di pertengahan September hingga Oktober, ada tiga puskesmas lagi yang diusulkan survey ke Komisi Akreditasi Kementerian Kesehatan RI yaitu Puskesmas Welahan II, Bangsri II, dan Kalinyamatan.
Kemudian untuk Puskesmas Karimunjawa akan dipersiapkan pada tahun 2018. Akreditasi puskesmas, kata Marzuqi, penting sebab merupakan ujung tombak dan sekaligus sebagai tolok ukur pelayanan publik di bidang kesehatan.
Jika ujung tombaknya baik dan mampu memberikan pelayanan sesuai standar yang telah ditetapkan, maka semuanya akan baik. “Jika kepercayaan meningkat maka partisipasi masyarakat juga meningkat,” ungkapnya.
Pelayanan
Peningkatan kualitas pelayanan puskesmas diharapkan tidak kendor setelah akreditasi, tetapi harus lebih meningkat. Akreditasi harus menjadi pemicu kinerja. Puskesmas tetap berperan besar dalam kesehatan masyarakat. Salah satunya dalam menangani kasus kematian ibu dan bayi.
Kepala Puskesmas Kedung I dr Lupi Murwani mengatakan, salah satu program unggulan puskesmas adalah Gerakan Peduli Ibu Hamil Resiko Tinggi (Gerdu Hati) yang menangani kasus anemia dan kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil.
Atas data dasar pada salah satu desa di sana, terdapat 70 persen ibu hamil dengan kasus anemia dan 40 persen KEK.
Salah satunya karena kepercayaan akan pantangan-pantangan mengkonsumsi jenis makanan masih kental di tempat itu. Di antaranya cumi dan ikan pari.
“Warga setempat meyakini jika mengonsumsi jenis lauk itu, bayi lahir menjadi lemas dan sebagainya. Padahal dengan asupan gizi yang kurang menyebabkan ibu hamil menjadi anemia dan KEK,” ujarnya.
Dijelaskan, setelah satu tahun program Gerdu Hati digalakkan, angka ibu hamil dengan anemia dan KEK berhasil turun. Dari angka 70 persen sekarang menjadi 45 persen. 

Sumber Berita : http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/2019-seluruh-puskesmas-terakreditasi/