Rabu, 29 Maret 2017

Giliran Pro-Semen Gelar Aksi di Depan Istana

SEMARANG – Menjelang penerbitan hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) aktivitas penambangan di kawasan karst Pegunungan Kendeng di Kabupaten Rembang, sejumlah LSM akan menggelar aksi dan doa bersama di depan Istana Negara Jakarta, Rabu (29/3).
Mereka mendukung pemerintah segera mengoperasikan pabrik semen PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di Rembang. Ketua DPC Badan Penelitian Aset Negara Aliansi Indonesia Kabupaten Semarang Anis Supriyadi mengatakan, pengerahan massa ke Istana Negara itu bukan aksi tandingan atas unjuk rasa massa kontra pabrik semen, beberapa waktu lalu. ”Investasi yang dikeluarkan sudah besar. Manfaat pabrik untuk warga sekitar sangat besar. Karena itu, kami mendukung agar segera dioperasikan,”jelasnya.
Menurut dia, keberadaan pabrik semen sangat mendukung ketahanan industri di Indonesia. Karena itu, sudah sewajarnya kiprah BUMN sebagai pengelola aset negara untuk kepentingan masyarakat, didukung. Pihaknya mengajak semua elemen masyarakat menyokong aksi tersebut. “Ini untuk kepentingan bersama. Yang jelas, jika pabrik beroperasi, ekonomi di sekitar pabrik akan terdongkrak.”
Hal senada dikatakan Sekretaris Solidaritas Negeri Merdeka Eddy Husni. Pihaknya menganggap pemerintah telah hadir untuk menyejahterakan rakyat Rembang dengan menyediakan lapangan kerja lewat PT Semen Indonesia. Ia menilai, banyak kelebihan jika pabrik beroperasi. Apalagi pabrik itu dikelola BUMN yang merupakan milik negara.
Cekungan Air Tanah
Sebelumnya, Ketua Penjaminan Mutu Tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Prof Sudharto P Hadi mengatakan, pihaknya telah menyelesaikan hampir 90% penyusunan hasil kajian lingkungan hidup di cekungan air tanah Watuputih, Kabupaten Rembang.
Tim KLHS optimistis hasil kajian dan rekomendasi segera selesai dan diserahkan pada Kantor Staf Presiden pada akhir Maret ini. Hasil kajian sementara, lokasi penambangan di Rembang masuk wilayah karst. Namun apakah wilayah tersebut termasuk bentang alam karst yang dilindungi atau tidak, saat ini masih dikaji. ”Memang itu di kawasan karst. Hanya, apakah masuk bentang geologis yang dilindungi atau tidak, itu yang laporannya sedang disusun. Saat ini tahap finalisasi,”kata Sudharto.
Misalnya nanti area penambangan masuk kawasan yang dilindungi ataupun sebaliknya, lanjut mantan Rektor Universitas Diponegoro itu, akan menjadi catatan ataupun rekomendasi. Jika hasil KLHS sudah ada, selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan rakor antara Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri BUMN, dan Gubernur Ganjar Pranowo. Sesuai rencana, KLHS akan selesai pada akhir Maret ini.

Sumber Berita : http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/giliran-pro-semen-gelar-aksi-di-depan-istana/