Kamis, 23 Maret 2017

Infrastruktur Penyimpanan Gas Karbon Segera Dibangun Blora Jadi Percontohan Asia Tenggara

BLORA- Realisasi program teknologi tangkap, angkut, simpan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS) menunjukan sinyal positif. Itu setelah rombongan dari Jepang datang ke Blora. Dari evaluasi yang dilakukan, dalam waktu tidak lama lagi akan dipasang alat pengukur getaran di lokasi program CCS di kawasan bekas sumur minyak Jepon-01.
”Pemasangan alat pengukur getaran itu untuk mengetahui berapa getaran yang ditimbulkan ketika gas karbon diinjeksi atau ditanam di tanah,” ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Blora, Sutikno Slamet, melalui Kepala Bidang Penelitian, Pengembangan dan Perencanaan Rini Setyowati, kemarin. Dia mengungkapkan, tim dari Jepang berada di Blora selama dua hari, Minggu dan Senin (19-20/3). Mereka mengevaluasi serangkaian tahapan yang sudah dilaksanakan.
Selain itu, para ilmuwan dan praktisi gas karbon dari universitas tertua di Jepang itu juga menyusun tahapan berikutnya yang akan dilakukan menuju terealisasinya program CCS di Blora. ”Dari evaluasi itulah diputuskan akan dilakukan pemasangan alat pengukur getaran,” tandas Rini Setyowati.
Studi Lapangan
Dia menceritakan, selama berada di Blora, tim dari Jepang melakukan studi lapangan. Di antaranya meninjau lokasi program CCS di sumur Jepon-01 dan mengunjungi Central Processing Plant (CCP) Blok Gundih di Desa Sumber, Kecamatan Kradenan. Rombongan yang didampingi tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) juga bertemu Bupati Djoko Nugroho dan Wakil Bupati H Arief Rohman di rumah dinas bupati.
Dalam pertemuan yang juga dihadiri sejumlah pejabat Pemkab Blora, Perhutani dan Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Asset 4 Cepu, Bupati dan Wabup memberikan dukungan penuh dan berharap program CCS segera terwujud. Apalagi program CCS merupakan program pertama di Indonesia bahkan di Asia Tenggara.
”Silakan dilaksanakan, kami memberikan dukungan penuh, apalagi program ini dilakukan dalam rangka mengurangi pemanasan global akibat gas buang karbon,” tandas Bupati Djoko Nugroho. Program CCS sepenuhnya didanai Asian Development Bank (ADB).
Pemkab Blora tidak mengeluarkan anggaran sedikit pun. Program ini digagas ITB bekerja sama dengan Pemerintah Jepang. Melalui program tersebut, gas karbon dari kawasan pertambangan minyak dan gas (migas) Blok Gundih di Kecamatan Kradenan akan dikumpulkan kemudian diangkut dan diinjeksi atau disimpan di tanah di sumur Jepon-01.
”Dari perencanaan yang ada, program CCS akan direalisasikan tahun ini juga,” kata Rini Setyowati. Untuk mematangkan rencana pelaksanaan program CCS, kata Rini, pada bulan Juli akan digelar simposium. Simposium tersebut merupakan simposium terakhir sebelum melangkah ke pembangunan infrastruktur fisik.
Program CCS dilakukan guna mewujudkan industrialisasi migas yang lebih ramah lingkungan. Penerapan teknologi CCS ini diklaim bisa mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) di udara yang menjadi penyebab pemanasan global yang ditimbulkan dari pabrik, pembangkit listrik dan pengolahan minyak.
Dengan teknologi itu, akan membuat udara menjadi lebih bersih. Secara teknis, CO2 dari Blok Gundih akan ditangkap kemudian direkayasa sedemikian rupa menjadi cair dan selanjutnya diinjeksi ke bumi. Proses CCS terdiri dari tangkap, angkut dan simpan. Jika program ini berhasil, maka Blora akan bisa menurunkan kadar emisi CO2 dan sekaligus keberhasilan nasional.

Sumber Berita : http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/infrastruktur-penyimpanan-gas-karbon-segera-dibangun/