Senin, 13 Maret 2017

Kemiringan Lahan Memicu Longsor Sulit Bangun Talut di Tanah Warga

KUDUS – Faktor utama penyebab longsor di lereng Pegunungan Rahtawu, baik di tanah warga, permukiman, maupun jalan adalah kemiringan lahan, yang beberapa di antaranya hampir tegak lurus. Penanganan longsor tak bisa hanya mengandalkan dana besar.
”Pengalokasian dana sebesar apa pun sulit mengatasi kondisi alam,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kudus, Sam’ani Intakoris, kemarin. Selain kemiringan lahan, juga tidak adanya saluran air di daerah itu.
Sebenarnya kondisi seperti itu dapat diatasi atau paling dampak negatifnya diminimalkan dengan pembuatan talut. Namun sebagian besar lahan milik warga.
Bukan persoalan mudah membuat talut dengan memanfaatkan lahan warga, meskipun hal itu untuk kepentingan mereka sendiri. Banyaknya lahan yang curam dipastikan akan menguras dana sangat besar untuk pembuatan talut.
Dilematis
Camat Gebog, Saiful Huda menambahkan, pengananan longsor di Kawasan Rahtawu dilematis. Selain kondisi sejumlah lokasi yang memang rawan longsor, penataan lahan terkendala masalah kepemilikan dan biaya.
Cuaca juga menjadi penentu terjadinya longsor. Melihat kondisi wilayah, lahan di Rahtawu dan Menawan mempunyai kemiringan tinggi di beberapa lokasi.
Tentu sangat sulit untuk mengubah bentang alat itu. Selain itu, sering terjadi beda penafsiran antara warga di sejumlah desa di lereng Pegunungan Muria dan warga di bawahnya.
Dicontohkan, andai terjadi longsor, masyarakat lereng Muria menganggapnya hal biasa. ”Namun warga kota menganggapnya sebagai kejadian luar biasa.”
Satu hal yang pasti, saat memasuki musim hujan kewaspadaan warga sejumlah desa, terutama yang punya sejarah longsor, harus ditingkatkan.
Namun warga Desa Rahtawu dan Menawan mempunyai kemampuan tersendiri dalam membaca tanda-tanda alam. Pasalnya mereka sudah sangat lama tinggal di kawasan tersebut. 

Sumber Berita : http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/kemiringan-lahan-memicu-longsor/