Minggu, 19 Maret 2017

Petani Ubi Kayu Terpuruk

PATI – Rendahnya harga jual ubi kayu membuat kondisi para petani yang menanam komoditas bahan pembuat tapioka di Pati terpuruk, sehingga tidak ada upaya lain kecuali melepas berapa pun harga jual yang berlaku saat ini.
Sebab, jika tidak terpaksa dipanen risikonya ubi kayu akan membusuk di dalam tanah karena sudah cukup umur.
Apalagi, dalam kondisi cuaca yang kembali turun hujan beberapa hari terakhir ini, harga yang semula bisa mencapai Rp 1.100 per kilogram, kini turun lagi tinggal Rp 900 per kilogram.
Sedangkan selama musim hujan antara Desember tahun lalu (2016) hingga Februari tahun ini, sempat terpuruk karena per kilogram hanya tinggal Rp 700.
Beberapa petani di wilayah Kecamatan Margorejo dan Gembong, Pati, ketika ditanya secara terpisah membenarkan.
Padahal, tanaman yang cocok di lahan tegalan kawasan lereng Patiayam selama ini hanyalah ubi kayu, karena lahannya berupa tanah merah yang gembur, sehingga untuk ditanami jagung juga kurang cocok.
Sedangkan untuk menanam kacang tanah juga terkendala penjualan, meskipun di Pati terdapat dua pabtik kacang cukup besar. Akan tetapi, masing-masing sudah punya pedagang tetap yang mengirim ke kedua pabrik itu, baik dari Sragen maupun Tuban, Jawa Timur.
Jasa Penebas
Karena itu, untuk lahan tegalan di kawasan perbukitan yang dirasa cocok hanyalah tanaman ubi kayu.
‘’Hanya setiap kali panen, harganya selalu terpiruk sehingga para petani terpaksa memanfaatkan jasa penebas, agar bisa masuk pabrik-pabrik yang memproduksi tapioka, di Ngemplak Kidul, Kecamatan Margoyoso, Pati,’’ ujar salah seorang petani di Desa/Kecamatan Gembong, Kardi (56).
Hal itu dibenarkan petani lainnya di wilayah Kecamatan Margorejo, Tarso (35).
Semula dia ikut-ikutan ikut menanam ubi kayu dengan harapan harga jualnya maksimal bisa mencapai Rp 2.000 per kilogram, tapi dari lahan yang disewa seluas satu hektare hasil panenannya tidak bisa untuk menutup uang sewa per tahun yang mencapai Rp 17 juta.
Hal itu belum menghitung, biaya untuk menggarap lahan, pengadaan bibit, dan pupuk, serta biaya memanen serta pengangkutannya dari lahan sampai ke pusat pabrik tapioka.
Jika turun hujan lagi seperti sekarang, kendaraan pengangkut tentu tidak bisa masuk ke lahan terdekat. Karena itu, pemilik harus menggunakan tenaga jasa pengamper yang menggunakan sepeda motor dengan biaya satu rit, maksimal 7 ton adalah sebesar Rp 800.000.
Belum ditambah ongkos truk rata-rata Rp 400.000, dan dari berat ubi kayu sebanyak satu rit ketika sampai di pabrik juga masih harus dipotong rafaksi bisa mencapai antara 40 sampai maksimal 60 persen.
Dari sisi potongan berat tersebut, paling-paling berat bersih tinggal 40 sampai 50 persen, atau maksimal 3,5 ton dikalikan harga yang berlaku hari itu.
Dalam kondisi seperti itu, upaya minta bantuan penebas adalah yang terbaik karena pemilik minimal bisa menerima sisa pembayaran harga jual.
Sedangkan pihak pabrik ke penebas, itu pun pembayarannya tidak bisa tunai karena bila pembelian tunai maka tawaran harga jual justru lebih rendah.
‘’Dengan cara membayar belakang itulah, penebas bisa menolong kami meskipun oleh pabrik yang bersangkutan dibayar belakang.’’

Sumber Berita : http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/petani-ubi-kayu-terpuruk/