Senin, 20 Maret 2017

Proposal Jembatan Bengawan Solo Belum Direspons Penghubung Blora Selatan-Bojonegoro

BLORA – Jembatan di atas Sungai Bengawan Solo, yang menghubungkan Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, Blora (Jateng) dengan Desa Luwihaji, Kecamatan Ngraho, Bojonegoro (Jatim), dipastikan belum akan dibangun, tahun ini.
Proposal usulan pembangunan jembatan yang dilayangkan Pemkab Blora, tahun lalu hingga kini, belum direspons Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Bahkan, kemungkinan pembangunan jembatan yang menghubungkan dua provinsi itu sulit terealisasi. Penyebabnya, jalan akses menuju lokasi jembatan bukan jalan nasional, melainkan hanya jalan poros kecamatan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Blora, Samgautama Karnajaya, mengemukakan, hingga kini pihaknya belum mendapatkan kejelasan dari Kementerian PUPR terkait rencana pembangunan jembatan Bengawan Solo di Desa Medalem.
Karena belum ada kejelasan, pihaknya memastikan tahun ini jembatan tersebut belum akan dibangun. ’’Sepengetahuan kami, tahun ini dalam APBN belum dianggarkan dana pembangunan jembatan Medalem-Ngraho,’’ ujarnya, kemarin.
Selain dibutuhkan dana yang besar, sekitar Rp 80 miliar, jembatan yang diusulkan dibangun itu berada di dua wilayah provinsi. Kewenangan pembangunannya pun berada di pusat yakni di Kemen-PUPR.
Pemkab Blora awal tahun lalu mengajukan proposal usulan pembangunan Jembatan Bengawan Solo ke Kemen-PUPR. Bupati Bojonegoro Suyoto turut menandatangani proposal.
Wabup Blora Getol
Bahkan, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bersama Gubernur Jatim Soekarwo memberi dukungan penuh dibangunnya jembatan itu. Tidak hanya pejabat di kedua daerah, dukungan serupa pernah dilontarkan Staf Khusus Wakil Presiden RI Jusuf Kalla Bidang Bidang Ekonomi dan Keuangan, Wijayanto Samirin, saat berkunjung ke Blora, Mei 2016.
Dia diajak Wakil Bupati (Wabup) Blora Arief Rohman meninjau lokasi rencana pembangunan jembatan. Wabup Blora-lah yang selama ini getol mengusulkan sekaligus memperjuangkan pembangunan jembatan Bengawan Solo tersebut
. ’’Mudah-mudahan pada 2018 ada kabar baik terkait rencana pembangunan jembatan Bengawan Solo di Medalem. Paling tidak, kabar baiknya berupa sudah ada perencanaan di Kemen-PUPR,’’ kata Samgautama Karnajaya, yang tahun lalu menjabat kepala Bappeda Blora.
Keberadaan jembatan di Medalem-Ngraho dinyakini akan membawa dampak pesatnya pertumbuhan ekonomi di kedua daerah. Selama ini, transportasi penghubung masyarakat Medalem dan Ngraho hanya melalui perahu penyeberangan.
Setiap hari, perahu penyerangan hilir mudik di atas Bengawan Solo untuk mengantarkan warga maupun barang dagangan. Masyarakat Medalem kerap berjualan ke Pasar Ngraho, demikian pula sebaliknya.
Di hari pasaran, beberapa warga Ngraho dan desa lainnya di Jatim, berjualan pula di Pasar Kradenan. Sekadar diketahui, satu-satunya jembatan Bengawan Solo yang menghubungkan dua wilayah Provinsi Jateng-Jatim (Blora-Bojonegoro) hanya ada di Kecamatan Cepu.
Warga Kradenan harus menempuh jarak sekitar 60 kilometer hanya untuk sampai ke Ngraho jika melewati jalur darat melintasi Cepu.
Dibangunnya Jembatan Ngraho-Medalem diyakini pula bisa menyatukan kembali komunitas Sedulur Sikep Samin di kedua daerah yang selama ini terpisah oleh Bengawan Solo.

Sumber Berita : http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/proposal-jembatan-bengawan-solo-belum-direspons/