Jumat, 10 Maret 2017

Sabo Dam Kendeng Diminta Direalisasikan

KUDUS- Warga Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan berharap wacana pembuatan sabo dam di hutan Pegunungan Kendeng, dapat segera direalisasikan.
Infrastruktur yang mulai digagas pembangunannya paska banjir bandang dari Pegunungan Kendeng ke arah pemukiman Desa Wonosoco pada akhir 2015, diharapkan dapat mengurangi potensi kerusakan akibat bencana alam yang sudah beberapa kali menerjang kawasan tersebut.
Kades Wonosoco, Setiyo Budi, mengemukakan hal itu kepada Suara Merdeka, Kamis (9/3). Menurutnya, kesempatan teleconference pada Musrenbang Provinsi Jateng yang direncanakan digelar pekan depan, akan dipergunakan untuk mempertajam rencana pembangunan sabo dam.
”Ini menyangkut keselamatan warga yang bermukim di lereng Pegunungan Kendeng,” jelasnya. Hal lain yang akan disampaikan pada ajang tersebut yakni berbagai upaya untuk melakukan pelestarian kawasan Hutan Kendeng. Pasalnya, bila kondisi Hutan Kendeng masih rusak, diyakini potensi banjir bandang dari puncak pegunungan akan dapat diminimalkan.
”Selain itu, lahan ratusan hektare yang sering terendam setiap tahunnya juga akan ditanyakan solusinya,” paparnya. Camat Undaan, Catur Widiyatno berharap agar sabo dam dapat segera direalisasikan. Pada saat bersamaan, pihaknya berharap semua pihak dapat menjaga kelestarian kawasan hutan. Pasalnya, kondisi Hutan Kendeng merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya banjir bandang dalam beberapa tahun terakhir.
Dia mengakui, sabo dam hanya merupakan solusi teknis saja. Sedangkan untuk mengurai akar persoalan banjir bandang di pegunungan Kendeng memang harus komprehensif. Pengertian komprehensif yakni dengan tetap melakukan pembenahan pada sumber persoalan yakni hutan di pegunungan Kendeng. ”Kelestarian hutan juga perlu mendapat penekanan,” jelasnya.
Koordinasi
Kadinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Sam’ani Intakoris, menyatakan usulan pembangunan sabo dam sudah dilakukan Pemkab Kudus. Hanya saja, saat itu pembangunan masih harus menunggu koordinasi dengan Kabupaten Pati dan Grobogan. ”Hutan Pegunungan Kendeng juga berada di dua wilayah kabupaten tetangga tersebut,” jelasnya. Sabo dibuat untuk menahan material seperti tanah dan batu dari lereng Pegunungan Kendeng.
Sedangkan aliran airnya disiapkan infrastruktur saluran agar tidak menerjang ke pemukiman. Namun begitu, potensi banjir bandang tetap sangat dipengaruhi kondisi hutan di Pegunungan Kendeng dan curah hujan. ”Sabo hanya mengurangi potensi luncuran material ke pemukiman,” katanya. Prediksi awal, sekitar 75 persen material akan tertahan atau tertahan lajunya sebelum mengarah ke pemukiman.
Sabo dam sesuai kajian awal akan di pertemuan dua titik aliran air, baik dari hutan Kendeng arah Grobogan dan Pati. Ada dua fungsi utama sabo dam di lereng pegunungan Kendeng, yakni menahan sementara sebagian material dari puncak dan mengurangi laju kecepatan luncuran.
Tanpa ditahan, material akan langsung mengarah ke pemukiman. Sedangkan bila kecepatan luncuran masih terlalu tinggi, maka potensi kerusakan yang terjadi akan cukup besar. Selanjutnya, material akan diarahkan ke kanal-kanal yang mengarah ke sungai terdekat.

Sumber Berita : http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/sabo-dam-kendeng-diminta-direalisasikan/