Senin, 29 Mei 2017

Blora Hadapi Kekeringan

BLORA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora mulai bersiaga guna meminimalisir dampak kekeringan seiring datangnya musim kemarau.
Kepala Pelaksana BPBD Blora Sri Rahayu mengimbau kepada masyarakat agar mulai menghemat penggunaan air bersih dan mewaspadai potensi kebakaran di lahan kering.
”Mengingat tingginya potensi kekeringan di Kabupaten Blora ketika kemarau tiba, kami mengajak seluruh masyarakat untuk siaga.
Kami juga akan membudayakan pengurangan risiko bencana kekeringan melalui beberapa langkah pencegahan,” ujar Sri Rahayu, kemarin.
Selain itu, dia mengajak masyarakat agar melakukan penanaman pohon dan perdu sebanyak-banyaknya pada setiap jengkal lahan yang ada di sekitarnya.
”Perbanyak resapan air dengan tidak menutup semua permukaan tanah dengan paving, cor atau keramik. Lantas lakukan gerakan hemat air dan pembangunan sumur pompa. Pembangunan penampungan air atau embung juga bisa mengurangi dampak kekeringan,” tandasnya.
Diperkirakan, musim kemarau tahun ini akan berlangsung maksimal selama 190 hari. Berdasarkan data yang diperoleh dari BPBD, wilayah yang diperkirakan mengalami kemarau paling panjang adalah di Kunduran, Banjarejo, Jiken, Sambong, Cepu, sebagian Kedungtuban, Ngawen, Jepon serta Blora.
”Kemarau tahun ini merata di seluruh wilayah Blora. Namun untuk risiko kekeringan yang paling rendah ada di Kecamatan Todanan, Kradenan dan Kedungtuban,” ungkap Yayuk, sapaan akrab Sri Rahayu.
Guna menyiapkan diri menanggulangi bencana kekeringan, BPBD akan berkoordinasi dengan beberapa pihak terkait untuk menyelaraskan program bantuan air bersih ke desa-desa yang mengalami kekeringan. ”Sesuai mekanisme, jika ada desa-desa yang mengalami kekeringan, kepala desa silakan lapor ke camat agar diteruskan ke BPBD.
Berdasarkan laporan itu, kami akan buatkan SK tentang status kekeringan yang nantinya digunakan sebagai dasar pemberian bantuan air bersih,” katanya. Begitu juga dengan perusahaan atau komunitas lain yang ingin menyalurkan bantuan air bersih ke desa-desa, kata dia, diminta melapor.
Hal itu dimaksudkan untuk memperlancar koordinasi dengan BPBD agar tidak tumpang tindih dalam penyaluran bantuan air bersih. ”Harapannya, semua bantuan sesuai sasaran dan merata,” katanya.

Sumber Berita : http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/blora-hadapi-kekeringan/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar