Serpong (Kemenag) --- Ada dua pesan tegas yang disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar kepada para Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Pertama, akselerasi peningkatan kualitas pendidikan guna mencapai standar internasional. Kedua, tidak ada toleransi (zero tolerance) terhadap segala bentuk kekerasan seksual.
Arahan ini disampaikan Menag usai menghadiri Penguatan Madrasah Mendunia dan Penyerahan Sertifikat International Baccalaureate (IB) Diploma Programme di MAN IC Serpong, Jumat (22/5/2026). Di hadapan 24 kepala MAN yang hadir, ia menekankan bahwa kunci utama pemerataan kualitas pendidikan madrasah terletak pada kreativitas dan keseriusan para pimpinannya.
"Supaya terjadi pemerataan kualitas dan kuantitas, kata kuncinya adalah keseriusan. Kalau kepala madrasahnya kreatif, otomatis madrasahnya akan baik," ujar Menag.
Target Standardisasi Internasional
Dalam upaya membawa madrasah ke kancah global, Menag menargetkan kepada para Kepala MAN untuk segera mengadopsi kurikulum internasional. Ia meminta para kepala madrasah bergerak agresif dalam berinovasi dan tidak ragu melahirkan gagasan-gagasan cerdas.
"Ke depan, berambisi lah agar madrasah yang kalian pimpin menjadi madrasah unggulan. Jadilah madrasah yang punya agresivitas untuk berinovasi. Targetkan tahun depan madrasahnya sudah IB (International Baccalaureate)," tegasnya.
Selain mengejar prestasi akademik berstandar dunia, Menag juga meminta agar madrasah tidak membatasi potensi non-akademik siswa. Madrasah harus memfasilitasi dan mengembangkan bakat-bakat lain di luar kelas.
"Jangan sampai madrasah terbatas untuk punya keterampilan atau bakat lain. Seperti talenta-talenta olahraga dan seni, itu harus diusahakan untuk dikembangkan," tambahnya.
Mitigasi Kekerasan Seksual
Di samping peningkatan mutu, aspek keamanan dan moralitas lingkungan madrasah menjadi sorotan utama. Menag memberikan peringatan keras terkait isu pelecehan seksual dan meminta seluruh kepala madrasah melakukan langkah preventif yang konkret.
Ia memerintahkan penataan ulang fasilitas madrasah yang berpotensi memicu kerawanan, salah satunya tata letak bangunan asrama. "Jangan ada isu pelecehan seksual, cukuplah yang terakhir. Jangan sampai nanti kedapatan gelagat-gelagat yang buruk, apapun yang menjadi sumber fitnah, seperti gedung asrama putri yang berdempetan dengan gedung asrama laki-laki, mesti diantisipasi," tegas Menag.
Penguatan Sinergi dan Komunikasi
Guna merealisasikan target-target besar tersebut, Menag meminta para kepala madrasah untuk membuka diri dan memperkuat kolaborasi, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Komunikasi yang intensif dengan wali murid juga dinilai menjadi kunci pengawasan serta keberhasilan pendidikan anak.
"Saya mohon para kepala MAN IC, komunikasi ke orang tua murid bisa diperkuat. Jalin kerja sama internal dan eksternal, dan saling bersinergi," pungkasnya.





