Senin, 20 Maret 2017

Jateng Kekurangan Guru SLB

SEMARANG – Jawa Tengah masih kekurangan sekolah luar biasa (SLB) dan guru SLB. Akibatnya, dari 35.944 anak berkebutuhan khusus di 35 kabupaten/ kota, baru 15.477 yang terlayani hak pendidikannya. Parahnya lagi, ada lima kabupaten/ kota yang belum memiliki SLB berstatus negeri. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jateng, Gatot Bambang Hastowo, menjelaskan, kekurangan guru SLB disebabkan banyak yang memasuki masa pensiun.
Dari 1.437 guru PNS SLB di Jateng, 30 persennya akan pensiun pada 2019. Persoalan ini menjadi salah satu dari 15 persoalan setelah peralihan kewenangan SMA/SMK/- SLB dari kabupaten/kota ke Pemprov. ”Ada 15 permasalahan yang dihadapi. Yang pertama kekurangan guru karena pensiun, kekurangan tenaga terampil dan guru keterampilan. Bahkan ada satu SLB yang hanya punya satu guru PNS,” kata Gatot, kemarin.
Jumlah SLB baik negeri maupun swasta masih sangat sedikit. Tercatat baru ada 173 SLB negeri dan swasta di Jawa Tengah. Lima kabupaten/kota yang belum memiliki SLB negeri adalah Demak, Klaten, Kabupaten Magelang, Banyumas, dan Wonosobo.
Menurutnya, untuk mengantisipasi banyaknya anak berkebutuhan khusus yang belum terlayani hak pendidikannya, tahun ini Pemprov akan membuat SMK inklusipercontohan. Tujuannya, siswa disabilitas mendapatkan keterampilan dan pengembangan potensi agar bisa hidup mandiri. Persoalan lain adalah upaya membangun pendidikan khusus yang lebih bermutu.
Banyak guru yang belum berpendidikan S1 linier dengan mata pelajaran yang diampu, sehingga belum dapat melakukan sertifikasi. Insentif guru honorer di SLB swasta juga dikeluhkan mengingat peralihan kewenangan berdampak pada hilangnya hak mereka. ”Hilangnya insentif guru honorer SLB swasta setelah masuk provinsi ini akan kita coba temukan solusinya, agar kesejahteraan mereka meningkat,” ujarnya.

Sumber Berita : http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/jateng-kekurangan-guru-slb/