Di tengah dinamika global yang masih
diwarnai gejolak harga energi, tekanan perdagangan, dan volatilitas
pasar keuangan, outlook ekonomi dunia terlihat semakin membaik, dimana
diproyeksikan naik dari 2,8% pada 2026 menjadi 3,1% pada 2027.
Perekonomian Indonesia juga terbukti tetap solid dan resilien ditandai
oleh terkendalinya inflasi dalam rentang sasaran 2,5±1% di angka 2,88%
(yoy) pada Juli 2026, aktivitas manufaktur yang tetap ekspansif di level
50,2 pada Juli 2026, pertumbuhan kredit perbankan 12,67% (yoy) pada
Juni 2026, serta cadangan devisa sebesar USD145,6 miliar atau setara
dengan 5,5 bulan impor pada Juni 2026.
Kinerja positif tersebut didorong oleh
efektivitas langkah strategis Pemerintah dalam penguatan sektor-sektor
prioritas, seperti swasembada energi, dengan program B50, Biosolar bagi
Nelayan, dan Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati (Biofuel). Selain itu
juga dengan stimulus konsumsi domestik melalui diskon transportasi,
bantuan pangan, THR ASN, BHR ojol, Program Magang 150.000 peserta dan
Vokasi 220.000 peserta. Akselerasi pertumbuhan juga didorong oleh
penyaluran kredit program hingga Rp169,9 triliun, pemulihan pariwisata
dimana kunjungan wisman mencapai 7,4 juta orang pada Januari-Juni 2026,
serta digitalisasi.
“Pemerintah mendorong program magang untuk
Gen Z yang tadi disampaikan. Itu magang 150.000 peserta. Dan saya minta
beberapa perusahaan APINDO untuk ikut mendaftar. Jadi saya minta
teman-teman dari APINDO bisa menerima magang. Karena magang ini
mahasiswa Gen Z dan diberi gaji oleh Pemerintah selama 6 bulan,” tutur
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Rapat
Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) Asosiasi Pengusaha Indonesia
(APINDO) ke-XXXV di Makassar, Selasa (4/08).
Di sisi investasi, Pemerintah terus
menjaga kepercayaan investor melalui kebijakan fiskal yang prudent dan
reformasi struktural. Indonesia kembali memperoleh afirmasi peringkat
layak investasi dari S&P Global Ratings dengan outlook stabil,
sekaligus menjadi sinyal positif di tengah penyesuaian outlook oleh
lembaga pemeringkat global lainnya. Pemerintah juga berkomitmen menjaga
defisit fiskal tetap berada pada batas aman dengan pengelolaan APBN yang
ekspansif namun terukur. Kredibilitas kebijakan dan disiplin fiskal
akan terus dijaga untuk memperkuat kepercayaan pelaku usaha dan
investor.
Sebagai bagian dari upaya memperluas
sumber pembiayaan, Pemerintah juga telah menerbitkan Panda Bonds
berdenominasi yuan yang memperoleh peringkat AAA/Stable dari Lianhe
Credit Rating. Langkah tersebut diharapkan semakin memperkuat
diversifikasi pembiayaan sekaligus memperluas akses Indonesia ke pasar
keuangan internasional.
Kemudian, untuk menjaga stabilitas harga
pangan, Pemerintah terus mempercepat penyaluran beras SPHP dan bantuan
pangan beras kepada masyarakat. Pemerintah juga terus memperkuat daya
saing melalui pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) dimana Hingga
Semester I Tahun 2026, realisasi investasi kumulatif KEK telah mencapai
Rp368 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 283.234 orang,
serta penguatan ekosistem keuangan melalui Bullion Bank.
“Pemerintah mendorong tiga mesin utama.
Yang pertama adalah mesin ekonomi konvensional, yaitu industri padat
karya. Nah industri padat karya, sesuai arahan Bapak Presiden untuk
dibantu. Kita sudah siapkan kredit untuk investasi maupun kredit modal
kerja. Tinggal teman-teman dari APINDO untuk bagaimana mendorong para
industri ini untuk memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh
Pemerintah. Karena sekarang investasi dari berbagai negara masuk,
terutama juga di sektor tekstil. Juga tentu kita ingin melihat bahwa
domestik industri juga bisa mengganti mesinnya agar lebih efisien,” ujar
Menko Airlangga.
Kemudian yang kedua dengan pengembangan industri semikonduktor, percepatan digitalisasi, dan pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).
Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai pemain penting dalam
ekonomi digital global. Setelah menjadi penggagas percepatan negosiasi
ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA), Indonesia kini juga resmi menjadi salah satu negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization
(WAICO) bersama 28 negara lainnya, yang diharapkan semakin meningkatkan
peluang investasi, khususnya pada sektor pusat data (data center).
Lalu yang terakhir, Pemerintah terus
meningkatkan produktivitas dan daya saing sumber daya manusia melalui
penguatan ekonomi berbasis talenta (gig economy), antara lain dengan
memperluas program magang nasional yang diharapkan dapat mempercepat
penyerapan tenaga kerja sekaligus menyiapkan SDM yang adaptif terhadap
kebutuhan industri masa depan.
“Kita akan berjaya bukan hanya kalau
pengusahanya bersatu, tetapi kalau pengusaha dan Pemerintah
bersama-sama, juga dengan BUMN, itu yang namanya Indonesia Incorporated,” kata Menko Airlangga.
Lebih lanjut, Juru Bicara Kemenko
Perekonomian Haryo Limanseto menegaskan bahwa Pemerintah akan terus
memperkuat sinergi dengan dunia usaha agar berbagai kebijakan strategis
dapat berjalan efektif dan memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan
ekonomi nasional. "Pemerintah terus memastikan stabilitas makroekonomi
tetap terjaga, iklim investasi semakin kondusif, serta reformasi
regulasi dan transformasi ekonomi berjalan secara konsisten. Kolaborasi
yang erat antara Pemerintah dan dunia usaha menjadi fondasi penting
untuk meningkatkan daya saing nasional, memperluas kesempatan kerja, dan
mewujudkan target pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, serta
berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global," pungkas Juru Bicara
Haryo.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut
diantaranya yaitu Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Menteri
Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Ketenagakerjaan
Yassierli, Menteri Hukum Supratman Andi Agtas, Gubernur Sulawesi Selatan
Andi Sudirman Sulaiman, Ketua Umum APINDO Shinta W. Kamdani, Ketua DPP
APINDO Sulawesi Selatan Suhardi, dan Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan
dan Ekonomi Digital Ali Murtopo Simbolon.
Sumber : https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/7042/menko-airlangga-sinergi-pemerintah-dan-dunia-usaha-jadi-kunci-perkuat-ketahanan-ekonomi-nasional