.png)
JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan
(karhutla) masih menjadi salah satu kejadian bencana yang mendapat
perhatian dalam pemantauan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Sejumlah peristiwa karhutla dilaporkan terjadi di wilayah Maluku Utara,
Jawa Tengah, Kalimantan Timur, dan Aceh dengan luas lahan terdampak
mencapai puluhan hektare. Tim gabungan di masing-masing daerah terus
melakukan pemadaman, pendinginan, asesmen, dan pemantauan untuk mencegah
api kembali meluas.
Berdasarkan
pemantauan Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat (Dit.
Koordalops) BNPB periode Sabtu (29/8) pukul 07.00 WIB hingga Minggu
(30/8) pukul 07.00 WIB, beberapa lokasi telah berhasil mengendalikan
kebakaran. Namun, penanganan di sejumlah wilayah masih menghadapi
tantangan berupa kondisi medan, keterbatasan sumber air, cuaca panas,
serta tiupan angin yang dapat mempercepat penyebaran api.
Di
Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, karhutla terjadi di
Desa Gotowasi, Kecamatan Maba Selatan, pada Jumat (28/8) sekitar pukul
18.40 WIT. Kebakaran menghanguskan lahan sekitar tiga hektare.
Berdasarkan informasi yang diterima, kebakaran diduga dipicu oleh
aktivitas oknum yang tidak bertanggung jawab. Tiupan angin yang cukup
kencang di lokasi menyebabkan api dengan cepat menyebar dan membakar
lahan secara tidak terkendali.
Tidak
terdapat korban jiwa akibat kejadian tersebut. Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Halmahera Timur segera berkoordinasi
dengan instansi terkait dan melakukan asesmen di lokasi. Penanganan
melibatkan BPBD Kabupaten Halmahera Timur, pemadam kebakaran, serta
masyarakat setempat.
Pada Sabtu
(29/8), api telah berhasil dipadamkan. Petugas dan unsur terkait tetap
melakukan pemantauan untuk memastikan tidak terdapat titik api yang
kembali muncul dan mengantisipasi potensi penyebaran kebakaran.
Sementara
itu, di sejumlah wilayah Jawa Tengah juga mengalami karhutla. Di
Kabupaten Sukoharjo, kebakaran terjadi di Desa Kamal dan Desa Sanggang,
Kecamatan Bulu, pada Jumat (28/8) sekitar pukul 18.15 WIB. Hasil kaji
cepat sementara per-Sabtu (29/8), luas lahan yang terbakar diperkirakan
mencapai 22 hektare. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.
BPBD
Kabupaten Sukoharjo telah melakukan asesmen dan berkoordinasi dengan
instansi terkait untuk mempercepat penanganan. Bersama tim gabungan,
BPBD melakukan upaya pemadaman di sejumlah titik yang masih berpotensi
menimbulkan penyebaran api.
Upaya
pemadaman menghadapi kondisi medan yang curam dan sejumlah titik api
yang berada di lokasi sulit dijangkau. Meski demikian, titik api yang
mendekati permukiman telah berhasil diamankan. Kondisi asap tebal juga
berkurang secara signifikan.
Tidak
terdapat laporan korban jiwa dalam kejadian tersebut. Petugas gabungan
masih melakukan pemantauan dan penanganan di lokasi untuk memastikan api
tidak kembali meluas, khususnya pada area yang memiliki potensi
munculnya titik api baru.
Penanganan
karhutla di Kabupaten Sukoharjo dilakukan dalam situasi wilayah yang
telah menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan, kebakaran
hutan dan lahan. Status tersebut ditetapkan melalui Keputusan Bupati
Sukoharjo Nomor 300.2/268 Tahun 2026 untuk periode 1 Mei hingga 30
November 2026. Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menetapkan
status siaga darurat serupa melalui Keputusan Gubernur Jawa Tengah
Nomor 100.3.3.1/237 Tahun 2026 yang berlaku 1 Juni hingga 31 Desember
2026.
Berikutnya, karhutla juga
terjadi di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dengan sebaran lokasi yang
lebih luas. Kebakaran dilaporkan terjadi pada Jumat (28/8) sekitar pukul
11.25 WIB dan tersebar di tujuh desa yang berada di enam kecamatan.
Adapun lokasi kebakaran meliputi Desa Paseban, Kecamatan Bayat; Desa
Meger dan Desa Ngawonggo, Kecamatan Ceper; Desa Sabrang, Kecamatan
Delanggu; Desa Sorogaten, Kecamatan Tulung; Desa Sawit, Kecamatan
Gantiwarno; serta Desa Bulurejo, Kecamatan Juwiring.
Luas
lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 9,28 hektare. Beberapa
kejadian diduga dipicu oleh pembakaran sampah yang tidak terkontrol,
sementara penyebab kebakaran di lokasi lainnya masih dalam penyelidikan.
BPBD
Kabupaten Klaten melakukan asesmen dan berkoordinasi dengan instansi
terkait untuk menangani kejadian tersebut. Upaya pemadaman dilakukan
secara bersama-sama dengan melibatkan unsur TNI, Polri, pemadam
kebakaran, relawan, dan warga.
Berdasarkan
pemutakhiran pada Sabtu (29/8), seluruh kejadian kebakaran telah
berhasil dikendalikan. Tidak terdapat laporan korban jiwa maupun korban
luka-luka akibat kejadian tersebut.
Penanganan
karhutla dilakukan dalam kondisi Kabupaten Klaten telah menetapkan
status siaga darurat bencana hidrometeorologi kering melalui Keputusan
Bupati Klaten Nomor 32/360/6 Tahun 2026 yang berlaku 1 Agustus hingga 31
Oktober 2026.
Di Kalimantan Timur,
karhutla berdampak pada area yang lebih luas. Kebakaran lahan belukar
dan kebun terjadi di Kampung Pepas Eheng, Kecamatan Barong Tongkok,
Kabupaten Kutai Barat, pada Jumat (28/8) sekitar pukul 11.20 WITA. Luas
lahan yang terdampak diperkirakan mencapai 50 hektare. Penyebab kejadian
masih dalam penyelidikan.
BPBD
Kabupaten Kutai Barat melakukan asesmen dan berkoordinasi dengan unsur
terkait untuk penanganan di lokasi. Tim gabungan melakukan pemadaman
secara langsung menggunakan mobil pemadam serta metode pemadaman manual
pada area yang sulit dijangkau kendaraan.
Penanganan
melibatkan BPBD Kabupaten Kutai Barat, Manggala Agni, TNI, Polri, dan
pemadam kebakaran. Untuk mendukung operasi, BPBD Kabupaten Kutai Barat
mengerahkan lima mobil penanganan kebakaran, satu unit mobil _water
supply_, satu unit mobil komando, satu unit mobil operasional patroli,
serta satu unit mobil operasional Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan.
Manggala Agni turut mengerahkan satu unit mobil operasional, sedangkan
pemadam kebakaran mengerahkan dua unit mobil.
Proses
pemadaman menghadapi kendala berupa asap tebal yang menyebabkan
gangguan pernapasan dan menurunkan jarak pandang petugas. Kondisi
tersebut menjadi tantangan dalam menjangkau sejumlah area yang terdampak
kebakaran.
Tidak terdapat laporan
korban jiwa akibat kejadian tersebut. Berdasarkan pemutakhiran pada
Sabtu (29/8), kondisi di lokasi dilaporkan kondusif dan api telah
berhasil dipadamkan. Petugas tetap melakukan pemantauan untuk
mengantisipasi munculnya kembali titik api.
Penanganan
karhutla berlangsung dalam periode status siaga bencana
hidrometeorologi di Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan Keputusan
Gubernur Kalimantan Timur Nomor 100.3.3.1/K.76/2026 yang berlaku 1 April
hingga 31 Desember 2026.
Berbeda
dengan beberapa lokasi sebelumnya, penanganan karhutla di Kabupaten Aceh
Selatan masih berlanjut. Kebakaran lahan berupa alang-alang terjadi di
Gampong Drien, Kecamatan Bakongan, pada Sabtu (29/8) sekitar pukul 11.42
WIB. Kebakaran tersebut berdampak pada lahan seluas sekitar empat
hektare.
BPBD Kabupaten Aceh Selatan
berkoordinasi dengan Damkar PB 05 Bakongan dan unsur terkait untuk
melakukan penanganan di lokasi. Proses pemadaman melibatkan personel
Koramil, Polsek, serta masyarakat setempat.
Petugas
pemadam kebakaran bersama tim gabungan melakukan pemadaman pada area
yang terbakar dan memastikan api pada sejumlah bagian telah berhasil
dipadamkan. Namun, hingga pemutakhiran pada Sabtu (29/8), api belum
sepenuhnya padam sehingga proses pemadaman akan dilanjutkan pada Minggu
(30/8) pagi.
Penanganan di lapangan
menghadapi sejumlah kendala, antara lain jarak lokasi kebakaran sekitar
empat kilometer dari pinggir desa, keterbatasan sumber air, serta
kondisi cuaca yang panas disertai tiupan angin sedang. Kondisi tersebut
berpotensi menyebabkan api kembali menyebar sehingga petugas terus
melakukan pemantauan di sekitar lokasi.
Tidak
terdapat laporan korban jiwa akibat kejadian tersebut. Petugas
Pusdalops PB BPBD Kabupaten Aceh Selatan telah menerima informasi dan
menyusun laporan kejadian sebagai bagian dari pemantauan serta
penanganan bencana.
Di Kabupaten
Bener Meriah, Aceh, penanganan karhutla telah berhasil dilakukan.
Kebakaran terjadi di Kampung Uning Gelime, Kecamatan Weh Pesam, pada
Sabtu (29/8) sekitar pukul 13.35 WIB. Kebakaran tersebut menghanguskan
lahan seluas sekitar 20 hektare. Penyebab kebakaran masih dalam
penyelidikan.
BPBD Kabupaten Bener
Meriah segera bergerak menuju lokasi untuk melakukan asesmen sekaligus
penanganan. Bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait,
petugas melakukan pemadaman secara manual dan dilanjutkan dengan proses
pendinginan untuk mencegah api kembali muncul.
Berdasarkan
pemutakhiran kaji cepat lapangan pada Sabtu (29/8), api telah berhasil
dipadamkan. Petugas tetap melakukan pemantauan di sekitar lokasi untuk
memastikan tidak terdapat titik api yang berpotensi kembali memicu
kebakaran.
Tidak terdapat laporan
korban jiwa akibat kejadian tersebut. Sementara itu, kerugian yang
teridentifikasi berupa lahan yang terbakar dengan luas sekitar 20
hektare.
BNPB mengimbau masyarakat
untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan
lahan, terutama selama periode kekeringan dan cuaca panas. Masyarakat
diminta tidak melakukan pembakaran terbuka maupun aktivitas lain yang
dapat memicu kebakaran. Apabila menemukan titik api, masyarakat
diharapkan segera melaporkannya kepada petugas atau BPBD setempat agar
dapat ditangani sedini mungkin dan tidak berkembang menjadi kebakaran
yang lebih luas.
Sumber : https://www.bnpb.go.id/berita/perkembangan-situasi-dan-penanganan-bencana-di-tanah-air-30-agustus-2026
Sumber : https://patikab.go.id/frontpanel/berita/detail/TTV1YkVhWWNyYjRISE5FNG1oVjBaZz09