Di tengah berbagai tantangan dan
pertumbuhan ekonomi global dimana menurut IMF, OECD, dan Bank Dunia,
pertumbuhan global sekitar 2,6% hingga 3,3%, Indonesia dapat mencapai
pertumbuhan ekonomi yang kuat, sebesar 5,11% pada tahun 2025, menjadi
salah satu yang tertinggi di antara negara anggota G20. Ketahanan
Indonesia ditopang oleh ekonomi domestik yang kuat, dengan didukung
sektor konsumsi, investasi, dan belanja Pemerintah, serta diperkuat oleh
stabilitas sektor eksternal, kebijakan yang disiplin, dan koordinasi
kelembagaan yang erat.
Sektor konsumsi rumah tangga masih menjadi
penopang utama pertumbuhan dengan kontribusi 54% terhadap PDB,
sementara Mandiri Spending Index tetap berada pada level kuat, yakni
360,7. Di sektor pangan, produksi beras nasional tercatat hampir
mencapai 34,7 juta ton dengan stok cadangan beras Bulog mendekati 4,6
juta ton, ini menjadi salah satu cadangan beras terkuat yang pernah
dimiliki Indonesia. Sementara itu, di sektor energi, Pemerintah terus
memperkuat kemandirian melalui implementasi program B50 dan mencatat
surplus energi sebesar 4,84 juta kiloliter
“Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di
atas 5,3%. Dan pada kuartal pertama tahun ini, optimistis pertumbuhan
ekonomi Indonesia sekitar 5,5%,” tutur Menteri Koordinator Bidang
Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Media Briefing: Update on
Economic and Reform Measures di Badan Komunikasi Pemerintah RI, Senin
(13/04).
Menko Airlangga juga menyampaikan bahwa
perekonomian Indonesia memasuki triwulan II tahun 2026 dalam posisi yang
kuat. Hal ini tercermin dari inflasi yang terkendali, surplus neraca
perdagangan yang telah berlangsung selama 70 bulan berturut-turut, serta
tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi. Sektor manufaktur masih
berada pada fase ekspansi dengan indeks 50,1, sementara cadangan devisa
tetap kuat sebesar USD148,2 miliar. Kemudian, sektor perbankan nasional
tetap solid dengan rasio permodalan yang kuat dan risiko kredit yang
terkendali.
Dari sisi sektor eksternal, kenaikan
ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, karet, nikel, tembaga, dan
aluminium yang mencapai USD47 miliar turut memberikan natural hedging
terhadap tekanan dari sektor minyak dan gas. Dari sisi fiskal, APBN
terus berfungsi sebagai bantalan ekonomi melalui penyaluran bantuan
pangan, diskon transportasi, subsidi bahan bakar, dan kompensasi senilai
sekitar Rp11,92 triliun. Selain itu, defisit APBN tetap terjaga rendah
di level 0,93% terhadap PDB (per Maret 2026).
“Lalu transaksi mata uang lokal Indonesia
tahun 2025 meningkat menjadi USD25,6 miliar. Angka ini dua kali lipat
dibandingkan tahun 2024, dengan negara-negara seperti Malaysia, Korea
Selatan, Thailand, Jepang, dan China, yang sudah menerima transaksi
pembayaran QRIS Indonesia,” ujar Menko Airlangga.
Berbagai indikator sosial ekonomi juga
menunjukkan tren perbaikan. Tingkat kemiskinan berhasil ditekan menjadi
8,25%, diikuti dengan penurunan tingkat pengangguran menjadi 4,7%, serta
rasio gini yang menurun menjadi 0,363. Sejalan dengan itu, peningkatan
kualitas pertumbuhan juga didukung oleh realisasi investasi yang mampu
menyerap tenaga kerja secara signifikan. Sepanjang tahun 2025, realisasi
investasi tercatat berhasil menyerap sekitar 2,71 juta tenaga kerja
baru.
Selain itu, Menko Airlangga menyampaikan
salah satu program yang didorong oleh Presiden Prabowo Subianto yaitu
hilirisasi. Pada 2025, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp584,1
triliun (USD36,5 miliar), tumbuh 43,3 persen (yoy) dan berkontribusi
30,2% terhadap total realisasi investasi 2025. Kontribusi terbesar
berasal dari sektor mineral dan batu bara, diikuti perkebunan dan
kehutanan, serta minyak dan gas, perikanan, dan kelautan.
Pemerintah juga terus memperkuat kemudahan
berusaha dengan pembentukan Satgas Percepatan dan Penyelesaian
Permasalahan Investasi (Satgas P2SP) dan reformasi regulasi melalui
Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 guna mendorong penyederhanaan
perizinan melalui penerapan SLA, penguatan kebijakan berbasis risiko,
serta digitalisasi melalui OSS-RBA, sekaligus membuka peluang investasi
lebih luas. Selain itu, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) terus menunjukkan
kinerja positif sebagai motor investasi dan pertumbuhan sektor bernilai
tambah. KEK telah berkembang di sektor strategis seperti manufaktur
maju, hilirisasi mineral, ekonomi digital, serta pariwisata dan
kesehatan.
Dari sisi hubungan kerja sama
internasional, selama masa pemerintahan Presiden Prabowo, berbagai
capaian strategis telah diraih melalui kemajuan sejumlah kerja sama
ekonomi dan perdagangan internasional, termasuk dengan Uni Eropa,
Kanada, kawasan Eurasia, serta penguatan peran Indonesia di berbagai
forum global seperti BRICS, G20, OECD, RCEP, ASEAN, dan CPTPP.
Lebih lanjut, dalam sesi diskusi, Menko
Airlangga menegaskan bahwa kebijakan subsidi energi yang dilakukan
Pemerintah tetap difokuskan untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung
pertumbuhan ekonomi. Di tengah fluktuasi harga minyak dunia, Pemerintah
juga menyiapkan cadangan fiskal yang memadai sehingga kebijakan harga
energi dapat dievaluasi secara berkala sesuai perkembangan global.
Sedangkan di sektor investasi, komitmen penanaman modal asing (FDI)
terus menunjukkan tren positif, mencakup proyek-proyek strategis,
termasuk sektor energi, semikonduktor, dan pusat data.
“Indonesia memiliki lahan, Indonesia
memiliki harga energi yang kompetitif, dan kita juga memiliki energi
bersih. Harga air kita juga kompetitif. Jadi, sebagian besar perusahaan
AS, atau bahkan perusahaan regional, termasuk China, berkomitmen untuk
berinvestasi di pusat data Indonesia. Indonesia memiliki populasi lebih
dari 280 juta jiwa. Saya pikir digital adalah salah satu hal yang masih
menarik bagi sebagian besar investor, terutama dengan AI, komputasi
kuantum, mereka membutuhkan lebih banyak pusat data,” pungkas Menko
Airlangga.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut
diantaranya yaitu Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan
Friderica Widyasari Dewi, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad
Qodari, dan Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI Angga Raka
Prabowo.
Sumber : https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/6882/melaju-di-tengah-tantangan-global-ekonomi-indonesia-tunjukkan-resiliensi-dan-optimisme