PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama
ekosistem KAI Group mengelola lima jenis teknologi perkeretaapian, mulai
dari lokomotif diesel, kereta rel listrik atau KRL, kereta rel diesel
dan listrik atau KRDE/I, LRT dengan sistem operasi otomatis, hingga
kereta cepat dengan kecepatan operasional 350 kilometer per jam.
Keberagaman teknologi tersebut mendukung KAI Group dalam melayani
258.993.359 pelanggan sepanjang Semester I 2026, meningkat 7,55 persen
dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 240.805.920 pelanggan.
Pada periode yang sama, KAI juga melayani 32.498.043 ton barang,
terdiri atas 26.534.095 ton batu bara dan 5.963.948 ton komoditas
nonbatu bara.
Per Juni 2026, KAI memiliki 551 lokomotif, 1.064 KRL, 2.238 kereta
penumpang, 8.907 gerbong barang, serta 96 KRDE/I. KAI juga
mengoperasikan LRT Jabodebek, sedangkan dalam ekosistem KAI Group, PT
Kereta Cepat Indonesia China mengoperasikan Whoosh.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, setiap
teknologi memiliki karakter operasional, sumber tenaga, sistem
pengendalian, serta pola perawatan yang berbeda.
“Perbedaan teknologi tersebut dikelola melalui standar keselamatan,
keandalan, kompetensi pekerja, dan disiplin operasi yang konsisten.
Tujuannya sama, yaitu memastikan setiap perjalanan berlangsung aman,
tepat waktu, andal, dan nyaman bagi pelanggan,” ujar Anne.
Teknologi lokomotif diesel menjadi penggerak utama layanan kereta api
antarkota, lokal, wisata, dan barang. Pada Semester I 2026, layanan KA
Jarak Jauh dan Lokal KAI melayani 29.858.267 pelanggan, meningkat 8,72
persen dibandingkan Semester I 2025 sebanyak 27.463.555 pelanggan.
Lokomotif diesel juga mendukung distribusi berbagai komoditas melalui
layanan kereta api barang di Jawa dan Sumatra. Sepanjang Semester I
2026, KAI melayani 32,50 juta ton barang untuk mendukung rantai pasok
sektor energi, industri, perkebunan, peti kemas, bahan bakar minyak,
semen, dan komoditas lainnya.
Pada segmen wisata, KAI Wisata melayani 164.743 pelanggan, meningkat
64,45 persen dibandingkan 100.176 pelanggan pada periode yang sama tahun
sebelumnya. Peningkatan tersebut didukung beragam pilihan perjalanan,
mulai dari kereta wisata, kereta panoramic, kereta istimewa, hingga
layanan perjalanan berbasis kereta api lainnya.
Untuk mobilitas perkotaan, teknologi KRL dan sarana commuter mendukung
KAI Commuter dalam melayani 204.151.200 pelanggan, meningkat 6,58 persen
dibandingkan Semester I 2025 sebanyak 191.540.583 pelanggan. Layanan
tersebut menjadi penyumbang volume pelanggan terbesar KAI Group dengan
cakupan Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta–Solo, Surabaya,
Merak–Rangkasbitung, serta sejumlah wilayah lainnya.
Sementara itu, teknologi KRDE/I mendukung layanan regional dan
konektivitas bandara. KAI Bandara melayani 3.482.897 pelanggan,
meningkat 0,99 persen dibandingkan 3.448.622 pelanggan pada Semester I
2025. KA Makassar–Parepare melayani 172.011 pelanggan, meningkat 15,42
persen dibandingkan 149.035 pelanggan.
Pada teknologi operasi otomatis, LRT Jabodebek menggunakan sistem
persinyalan berbasis komunikasi dengan tingkat otomatisasi Grade of
Automation 3 atau GoA3. Sistem tersebut memungkinkan pengaturan
kecepatan, jarak antarrangkaian, pemberhentian, serta perjalanan
dilakukan secara otomatis dan dipantau melalui pusat kendali operasi.
Sepanjang Semester I 2026, LRT Jabodebek melayani 16.018.911 pelanggan,
meningkat 22,84 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak
13.040.403 pelanggan. Adapun LRT Sumsel melayani 2.206.496 pelanggan
pada periode yang sama.
Pada layanan berkecepatan tinggi, Whoosh menggunakan rangkaian kereta
cepat yang memiliki kecepatan operasional hingga 350 kilometer per jam.
Sepanjang Semester I 2026, Whoosh melayani 2.938.834 pelanggan,
meningkat 0,08 persen dibandingkan 2.936.578 pelanggan pada Semester I
2025.
Anne mengatakan, capaian tersebut menunjukkan setiap teknologi memiliki peran sesuai karakter mobilitas masyarakat.
“Pelanggan commuter memerlukan kapasitas besar dan frekuensi tinggi,
pelanggan antarkota membutuhkan kenyamanan dan kepastian waktu,
sedangkan layanan regional, bandara, wisata, dan kereta cepat memiliki
kebutuhan operasional yang berbeda. KAI Group menyiapkan teknologi dan
pola pelayanan sesuai karakter masing-masing segmen,” kata Anne.
Keandalan teknologi tersebut didukung fasilitas perawatan sarana yang
tersebar di Jawa dan Sumatra. KAI memiliki enam Balai Yasa sarana,
terdiri atas Balai Yasa Manggarai, Tegal, Yogyakarta, dan Gubeng di
Pulau Jawa, serta Balai Yasa Pulubrayan dan Lahat di Pulau Sumatra.
Keenam Balai Yasa tersebut menjalankan perawatan berat, pemeriksaan
menyeluruh, perbaikan, dan peningkatan keandalan lokomotif, kereta
penumpang, gerbong barang, serta jenis sarana lainnya sesuai fungsi
masing-masing. Perawatan berkala juga didukung depo serta unit teknis di
wilayah operasi KAI.
Pada sisi prasarana, KAI memiliki UPT Balai Yasa Mekanik Cirebon
Prujakan yang menangani pemeliharaan dan perbaikan mesin berat perawatan
jalan rel serta peralatan mekanik. Unit tersebut mendukung kesiapan
mesin yang digunakan untuk menjaga geometri dan kondisi jalur kereta
api.
KAI juga memiliki UPT Balai Yasa Jembatan Kiaracondong di Bandung yang
beroperasi sejak 1921. Balai Yasa tersebut menjalankan produksi dan
perbaikan jembatan baja serta pembuatan peralatan kerja prasarana untuk
mendukung kebutuhan operasional lintas perkeretaapian di Jawa dan
Sumatra.
“Teknologi dengan tingkat kompleksitas yang berbeda memerlukan fasilitas
perawatan, alat kerja, prosedur, dan tenaga teknis yang sesuai.
Pemeriksaan dan perawatan dilaksanakan secara terjadwal agar sarana
maupun prasarana siap digunakan untuk melayani perjalanan,” jelas Anne.
KAI juga memperkuat kompetensi pekerja yang mengoperasikan, memeriksa,
merawat, dan mengendalikan perjalanan kereta api. Jumlah pekerja
tersertifikasi meningkat dari 14.150 pekerja pada 2022 menjadi 15.983
pekerja pada 2023, kemudian 16.186 pekerja pada 2024, dan mencapai
19.167 pekerja pada 2025.
Program sertifikasi pada 2026 mencakup 18.297 kebutuhan sertifikasi
pekerja pada berbagai bidang operasional. Bidang tersebut meliputi awak
sarana perkeretaapian, pengatur dan pengendali perjalanan kereta api,
pemeriksa serta tenaga perawatan sarana dan prasarana, hingga Penjaga
Jalan Lintas.
Setiap pekerja operasional mengikuti pendidikan, pelatihan, pengujian
kompetensi, dan sertifikasi sebelum menjalankan tugas. Penguatan
kemampuan juga dilakukan melalui simulasi operasional, lokakarya, forum
teknis, pelatihan penyegaran, dan latihan penanganan kondisi darurat.
Perkembangan teknologi turut menghadirkan kebutuhan kompetensi baru,
termasuk pengoperasian sistem otomatis, perangkat elektronik,
persinyalan berbasis komunikasi, pemantauan kondisi sarana secara
digital, analisis data operasional, serta pengendalian perjalanan
melalui pusat kendali.
KAI juga menggunakan aplikasi Safety Railway Information atau SRI
sebagai kanal pelaporan potensi bahaya dan kondisi tidak aman. Laporan
pekerja melalui aplikasi tersebut digunakan untuk mempercepat mitigasi
dan mencegah risiko yang dapat mengganggu keselamatan perjalanan.
“Dari lokomotif diesel hingga kereta cepat, teknologinya berbeda tetapi
prinsip operasinya tetap sama. Keselamatan dijaga melalui pekerja yang
kompeten, fasilitas perawatan yang memadai, disiplin terhadap prosedur,
serta pengawasan yang berjalan selama 24 jam,” tutup Anne.
Sumber : https://kai.id/information/full_news/7720-kai-group-kelola-lima-jenis-teknologi-perkeretaapian-dari-lokomotif-diesel-hingga-kereta-cepat-350-km-per-jam