Jakarta, 20 Agustus 2026 – Pemerintah Indonesia terus memperkuat
operasi terpadu pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di
Kalimantan, terutama di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan
Kalimantan Selatan. Penguatan dilakukan menyusul peningkatan hotspot
berkepercayaan tinggi serta laporan masyarakat mengenai kabut asap dan
keterbatasan jarak pandang di sejumlah wilayah.
Operasi terpadu melibatkan Kementerian Kehutanan, Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB), BMKG, pemerintah daerah dan Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, Manggala Agni,
Masyarakat Peduli Api, pelaku usaha, relawan, serta masyarakat.
Keselamatan dan kesehatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam
seluruh langkah penanganan.
Hotspot Berkepercayaan Tinggi Meningkat pada 19 Agustus
Berdasarkan pemutakhiran Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI)
Kementerian Kehutanan, pemantauan Satelit NASA-MODIS/Terra-Aqua dengan
tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence menunjukkan perkembangan
hotspot yang dinamis selama 17–19 Agustus 2026.
Pada 17 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, terdeteksi 93 hotspot
berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat, 28 hotspot di Kalimantan
Tengah, dan dua hotspot di Kalimantan Selatan. Jumlah keseluruhan di
ketiga provinsi tersebut mencapai 123 titik.
Pada 18 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, hotspot di Kalimantan Barat
turun menjadi 15 titik. Sementara itu, Kalimantan Tengah meningkat
menjadi 73 titik dan Kalimantan Selatan menjadi 21 titik. Jumlah
keseluruhan hotspot berkepercayaan tinggi pada hari tersebut mencapai
109 titik.
Peningkatan signifikan terdeteksi pada 19 Agustus 2026 pukul 07.00
WIB. Kalimantan Barat mencatat 259 hotspot berkepercayaan tinggi,
Kalimantan Tengah 242 hotspot, dan Kalimantan Selatan 17 hotspot. Jumlah
keseluruhan di ketiga provinsi mencapai 518 titik atau lebih dari empat
kali lipat dibandingkan hari sebelumnya.
Secara kumulatif selama 17–19 Agustus 2026, terdeteksi 367 hotspot
berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat, 343 hotspot di Kalimantan
Tengah, dan 40 hotspot di Kalimantan Selatan. Dengan demikian, total
hotspot berkepercayaan tinggi di ketiga provinsi selama periode tersebut
mencapai 750 titik.
Hotspot kategori high confidence menunjukkan tingkat keyakinan
deteksi yang lebih tinggi terhadap adanya anomali panas. Namun, hotspot
tidak otomatis menunjukkan jumlah kejadian kebakaran. Satu kejadian
kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Oleh karena itu,
setiap informasi tersebut tetap diverifikasi melalui pemeriksaan
lapangan untuk memastikan kondisi, lokasi, penyebab, dan luas area yang
terbakar.
Peningkatan hotspot juga tidak serta-merta menggambarkan tingkat
kepekatan asap di suatu lokasi. Penyebaran asap dipengaruhi oleh lokasi
kebakaran, arah dan kecepatan angin, kelembapan, kondisi atmosfer,
karakteristik lahan, serta akumulasi asap dari sejumlah wilayah. Data
hotspot perlu dianalisis bersama data meteorologi, kualitas udara, citra
sebaran asap, dan laporan lapangan.
Pemerintah Menindaklanjuti Laporan Masyarakat
Pemerintah menerima dan menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai
kabut asap dan terbatasnya jarak pandang, termasuk berbagai video serta
informasi dari Sungai Tabuk, Banjarbaru, Banjarmasin, Palangka Raya,
Pontianak, dan sejumlah wilayah lainnya.
Visual yang disampaikan masyarakat menggambarkan kondisi nyata pada
lokasi dan rentang waktu tertentu serta menjadi masukan penting bagi
pemerintah dalam mengarahkan patroli, pemeriksaan lapangan, pemadaman,
dan perlindungan masyarakat di wilayah terdampak.
Pemerintah memahami kekhawatiran masyarakat dan memastikan bahwa setiap laporan ditangani secara serius.
Angka yang terinfokan oleh masyarakat merupakan pengamatan visual
pada titik tertentu dan tidak serta-merta menggambarkan kondisi yang
seragam di seluruh Kalimantan. Informasi resmi mengenai jarak pandang
perlu merujuk pada BMKG, otoritas bandara, atau instansi berwenang
dengan mencantumkan lokasi, waktu, dan metode pengamatan.
Data pada 19 Agustus 2026 menunjukkan kondisi jarak pandang yang
berbeda antarwilayah. Di Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat,
BMKG mencatat kondisi berasap dengan jarak pandang sekitar 1,2 kilometer
pada pukul 08.00 WIB. Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pengamatan
Direktorat Meteorologi Penerbangan BMKG sekitar pukul 07.30 WIB
menunjukkan jarak pandang sekitar 3 kilometer. Sementara itu, di Bandara
Internasional Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, data operasional
bandara mencatat jarak pandang menurun hingga sekitar 400 meter pada
pukul 07.00 WITA.
Berdasarkan informasi terkini pada 20 Agustus 2026, kondisi jarak
pandang di sejumlah wilayah menunjukkan perbaikan. BMKG mencatat jarak
pandang di Bandara Supadio sekitar 4 kilometer dalam kondisi berasap
pada pukul 10.00 WIB. Pada waktu yang sama, jarak pandang di Bandara
Tjilik Riwut, Palangka Raya, tercatat sekitar 6 kilometer. Di sejumlah
titik di Banjarbaru, jarak pandang telah kembali mencapai lebih dari 10
kilometer.
Perbaikan tersebut tidak meniadakan kondisi berat yang sebelumnya
dialami masyarakat maupun kebutuhan untuk tetap meningkatkan
kewaspadaan. Data ini menunjukkan bahwa kabut asap bersifat dinamis dan
dapat berubah menurut waktu, lokasi kebakaran, arah dan kecepatan angin,
kelembapan, kondisi atmosfer, serta pola sebaran asap.
Pemerintah Perkuat Satuan Tugas Darat
Berdasarkan data operasi, penanganan di tiga provinsi prioritas di
Kalimantan melibatkan sedikitnya 12.880 personel gabungan, terdiri atas
1.410 personel di Kalimantan Barat, 10.700 personel di Kalimantan
Tengah, dan 770 personel di Kalimantan Selatan.
Unsur yang terlibat meliputi Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BPBD,
Masyarakat Peduli Api, pemerintah daerah, pelaku usaha, relawan, dan
masyarakat. Petugas terus melakukan pemantauan hotspot dan laporan
masyarakat, patroli terpadu, pemeriksaan lapangan, pemadaman darat,
pembasahan dan pendinginan, penyekatan area terbakar, serta penjagaan
lokasi rawan untuk mencegah munculnya kembali api.
Koordinasi melalui posko terpadu terus diperkuat untuk menentukan
lokasi prioritas serta mengarahkan personel dan peralatan sesuai
perkembangan lapangan. Operasi didukung kendaraan operasional, pompa dan
pompa jinjing, selang pemadaman, flexible tank, alat komunikasi, alat
pelindung diri, helikopter patroli, pesawat patroli fixed wing, dan
helikopter water bombing.
Penguatan satuan tugas darat juga dilakukan melalui penambahan sarana
dan prasarana pemadaman, termasuk pembangunan serta pengaktifan sumur
bor di wilayah prioritas. Langkah tersebut diperlukan karena sumber air
permukaan untuk pemadaman semakin terbatas seiring berlanjutnya kondisi
kering.
Sumur bor diperlukan untuk memperpendek jarak pengambilan air,
mempercepat pengisian peralatan pemadaman, serta menjaga kesinambungan
pembasahan dan pendinginan. Ketersediaan air yang memadai sangat penting
pada lahan gambut karena bara dapat bertahan di bawah permukaan dan
berpotensi kembali memunculkan api apabila pembasahan tidak dilakukan
secara menyeluruh.
Operasi Modifikasi Cuaca Terus Dioptimalkan
Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Kalimantan
terus disesuaikan dengan kondisi atmosfer, ketersediaan awan potensial,
serta perkembangan kebakaran hutan dan lahan di lapangan. OMC merupakan
bagian dari strategi terpadu pengendalian karhutla untuk membantu
meningkatkan peluang hujan dan membasahi wilayah rawan. Pelaksanaannya
tetap didukung pemadaman darat, patroli, deteksi dini, serta koordinasi
lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.
Di Kalimantan Barat, OMC telah dilaksanakan pada 13–17 Agustus 2026
melalui Posko Pontianak. Dalam periode tersebut dilakukan 9 sorti
penerbangan, dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian
mencapai 10,92 juta meter kubik. Berdasarkan prakiraan cuaca terkini,
peluang pelaksanaan OMC kembali terbuka pada 23–27 Agustus 2026. BMKG
saat ini tengah berkoordinasi dengan para pihak terkait untuk
mengupayakan pelaksanaan kembali OMC di Kalimantan Barat pada periode
tersebut.
Di Kalimantan Tengah, OMC telah dilaksanakan dalam dua periode, yakni
27 Juli–4 Agustus dan 11–15 Agustus 2026. Secara keseluruhan, operasi
tersebut mencakup 13 sorti penerbangan, dengan estimasi volume curah
hujan di wilayah penyemaian sekitar 4,8 juta meter kubik. Namun, hingga
akhir Agustus 2026, kondisi cuaca di Kalimantan Tengah diprakirakan
masih didominasi kondisi kering dengan pertumbuhan awan hujan yang
terbatas. Karena itu, peluang pelaksanaan OMC dalam waktu dekat sangat
minim. Pemantauan atmosfer tetap dilakukan untuk mengidentifikasi
apabila muncul peluang penyemaian awan.
Sementara itu, untuk Kalimantan Selatan, perkembangan cuaca, hotspot,
dan kondisi karhutla terus dipantau secara intensif. Peluang
pelaksanaan OMC akan dinilai berdasarkan ketersediaan awan potensial dan
kebutuhan penanganan di lapangan. Mengingat OMC sangat bergantung pada
kondisi atmosfer, operasi hanya dapat dilakukan apabila tersedia awan
yang memenuhi persyaratan teknis untuk penyemaian.
Di ketiga provinsi tersebut, OMC bukan satu-satunya instrumen
pengendalian karhutla. Pemerintah tetap memprioritaskan pemadaman darat,
patroli terpadu, pendinginan lokasi, penguatan personel dan sarana,
serta pencegahan agar kebakaran tidak meluas. Evaluasi kondisi cuaca dan
operasi lapangan dilakukan secara berkala untuk memastikan setiap
langkah penanganan dilaksanakan secara cepat, tepat sasaran, dan
terkoordinasi.
Dukungan Armada Udara Ditambah
Penanganan karhutla di Kalimantan Tengah diperkuat melalui armada
udara yang terdiri atas helikopter patroli, pesawat patroli fixed wing,
dan helikopter water bombing. Operasi udara mendukung satuan tugas
darat, terutama untuk menjangkau titik api yang sulit atau tidak dapat
diakses melalui jalur darat.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni telah berkoordinasi langsung
dengan Kepala BNPB untuk menambah dukungan armada udara bagi operasi
water bombing di Kalimantan Tengah.
Penambahan armada diharapkan meningkatkan jangkauan operasi,
khususnya pada lokasi yang sulit diakses dan membutuhkan pembasahan dari
udara. Namun, pengerahan armada tetap harus mempertimbangkan jarak
pandang, kondisi asap, cuaca, serta standar keselamatan penerbangan.
Pekatnya asap dalam dua hari terakhir menjadi tantangan bagi operasi
udara, terutama di sekitar Jabiren dan Tanjung Taruna hingga kawasan
Taman Nasional Sebangau. Asap yang terlalu pekat membatasi pandangan
pilot terhadap sasaran dan jalur penerbangan. Dalam kondisi jarak
pandang yang tidak memenuhi standar keselamatan, helikopter tidak dapat
dipaksakan menjangkau lokasi pemadaman.
Keterbatasan operasi udara tidak berarti penanganan berhenti. Ketika
pertumbuhan awan belum mendukung OMC atau jarak pandang belum aman untuk
water bombing, satuan tugas darat tetap melakukan pemadaman,
penyekatan, pembasahan, pendinginan, dan penjagaan lokasi rawan.
Strategi operasi terus disesuaikan berdasarkan kondisi aktual di
lapangan.
Pemerintah bersama aparat penegak hukum juga terus mendalami penyebab
setiap kejadian karhutla. Apabila ditemukan unsur kesengajaan,
kelalaian, atau pelanggaran terhadap kewajiban pengendalian karhutla,
penegakan hukum akan dilakukan sesuai ketentuan. Masyarakat dan pelaku
usaha dilarang membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau menggunakan masker,
mengurangi aktivitas di luar ruang ketika kualitas udara memburuk, serta
segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gangguan pernapasan.
Pengendara diminta mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, dan
menyalakan lampu kendaraan ketika jarak pandang terbatas.
Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan titik api atau kepulan
asap kepada BPBD, Manggala Agni, aparat pemerintah daerah, atau posko
terdekat. Pemerintah bersama seluruh unsur terkait akan terus memperkuat
operasi terpadu dan menyampaikan perkembangan situasi secara terbuka
berdasarkan data yang telah diverifikasi.
Sumber : https://www.kehutanan.go.id/pers/pemerintah-perkuat-operasi-terpadu-karhutla-di-kalimantan-tambah-dukungan-udara-dan-pemadaman-darat