Yogyakarta, 2 Oktober 2026 – Setelah mengawali
rangkaiannya di Pura Mangkunegaran, Solo, Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG)
2026 berlanjut ke Daerah Istimewa Yogyakarta dengan menghadirkan WIG Talks,
Artisan Market, serta berbagai kegiatan yang mempertemukan kekayaan gastronomi
Indonesia dengan industri dan pasar.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana membuka
WIG Talks 2026 di Grand Hotel De Djokja, Yogyakarta, Jumat (2/10/2026). Forum
ini menghadirkan 22 pembicara dalam lima sesi diskusi dan satu sesi ulasan
buku, dengan antusiasme tinggi sehingga jumlah peserta melampaui target 300
orang.
"Kita mempertemukan pemerintah, pelaku industri, chef,
praktisi, akademisi, dan komunitas untuk membicarakan gastronomi dari berbagai
sisi, sebagai identitas dan penggerak sosial-ekonomi, bagaimana warisan kuliner
dapat berkembang menjadi bisnis, potensi wisata gastronomi, hingga bagaimana
rasa dan cerita Indonesia dapat dibangun menjadi narasi global," kata
Menpar Widiyanti.
Menurut Menpar, wisata gastronomi tidak berhenti pada
pengalaman mencicipi makanan. Kekayaan kuliner Indonesia perlu dikembangkan
menjadi daya tarik yang mampu menggerakkan perjalanan wisata sekaligus
memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan bagi masyarakat.
"Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat orang mencicipi
makanan Indonesia. Kita ingin rasa menjadi alasan orang melakukan perjalanan,
datang ke suatu daerah, bertemu masyarakatnya, mengenal bahan pangannya,
mendengar ceritanya, lalu meninggalkan manfaat ekonomi bagi mereka yang hidup
di sepanjang rantai gastronomi tersebut," tuturnya.
Warna-Warni Kuliner Nusantara
Semangat mempertemukan kekayaan rasa dengan peluang bisnis
juga diwujudkan melalui Artisan Market yang berlangsung pada 2–4 Oktober 2026
di Grand Hotel De Djokja. Sebanyak 21 tenant dari wilayah Joglosemar dan
Jakarta hadir, bersama 13 kolaborator yang menghadirkan berbagai workshop,
sharing session, serta live cooking demo. Selama tiga hari penyelenggaraan,
kegiatan ini ditargetkan menarik hingga 1.300 pengunjung.
Artisan Market menjadi ruang temu yang merayakan
keberagaman, kreativitas, dan kualitas produk gastronomi lokal. Pengunjung
dapat menjumpai berbagai produk berbahan baku lokal, mulai dari beras beraroma
khas, rempah pilihan, keju artisan berstandar internasional, hingga teh dan
kopi nusantara serta jamu tradisional dengan sentuhan modern.
Beragam produk daerah lainnya turut meramaikan aktivasi ini,
antara lain madu murni, gula kelapa organik, tempe berkualitas tinggi, kue
kering artisanal, serta minuman fermentasi seperti kombucha dan soda artisan.
Keragaman ini menunjukkan besarnya potensi bahan baku lokal sekaligus
kreativitas para pelaku gastronomi Indonesia dalam mengolahnya menjadi produk
bernilai tambah yang, dengan pengembangan yang tepat, mampu bersaing di pasar
global.
"Produsen dan UMKM dari berbagai daerah dipertemukan
dengan pasar melalui beragam produk. Ini penting, karena ekosistem gastronomi
hanya akan berkembang ketika mereka yang menghasilkan produk juga memperoleh
akses kepada pembeli, industri, dan peluang pasar yang lebih luas," kata
Menpar.
Menurut Menpar, keberadaan ruang temu antara produsen, UMKM,
industri, dan konsumen menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem
gastronomi yang berkelanjutan. Dengan demikian, kekayaan kuliner tidak hanya
terjaga sebagai warisan, tetapi juga terus berkembang menjadi sumber nilai
tambah dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Produksi Keju di Mazaraat Artisan Cheese
Upaya menghadirkan pengalaman gastronomi secara lebih utuh
juga diwujudkan melalui Tastemaker Gastronomy Trip. Salah satu tujuannya adalah
Mazaraat Artisan Cheese, pionir produsen keju artisan di Indonesia yang
didirikan oleh Jamie Najmi dan Nieta Pricillia.
Di Mazaraat, pengunjung dapat melihat langsung proses
produksi berbagai jenis keju, mencoba membuat keju sendiri, hingga menikmati
kudapan cheese spread di tengah lanskap persawahan Yogyakarta. Pengalaman
tersebut memperlihatkan bagaimana produk pangan lokal dapat dikembangkan
menjadi bagian dari atraksi wisata yang memberikan pengalaman sekaligus
pengetahuan kepada wisatawan.
Melalui WIG, Kementerian Pariwisata ingin semakin menyoroti
kemampuan produk lokal Indonesia untuk bersaing dengan produk impor serta
menjadi bagian dari rantai pasok hotel, restoran, dan kafe (HOREKA).
"Bagi kami, inilah salah satu wajah penting gastronomi,
ketika kekayaan lokal tidak berhenti sebagai potensi, tetapi masuk ke pasar,
tumbuh menjadi usaha, menciptakan nilai tambah, dan menjadi bagian dari
industri pariwisata," ujar Menpar Widiyanti saat berkunjung ke Mazaraat
Cheese
Berlanjut ke Sumbar
Setelah Solo dan Yogyakarta, perjalanan WIG akan berlanjut
ke Sumatra Barat (Sumbar) pada 2027. Menpar Widiyanti menyebut Sumatra Barat
sebagai salah satu daerah yang kekayaan rasa dan tradisi kulinernya telah lama
menjadi wajah Indonesia di dunia.
"Setelah Solo dan Yogyakarta, tahun depan kita akan
bergerak menuju Sumatra Barat, sebuah daerah yang kekayaan rasa dan tradisi
kulinernya telah lama menjadi salah satu wajah Indonesia yang dikenal dunia.
Dari sana, kita akan terus membawa semangat yang sama: dari akar lokal menuju
pengakuan global, dari rasa menjadi perjalanan, dan dari perjalanan menjadi
kesejahteraan," ucap Menpar.
Rangkaian WIG 2026 tidak hanya menghadirkan WIG Talks and
Forum dan Artisan Market. Program ini juga menghadirkan "Indonesia
Restaurant Months" bersama Priceless by Mastercard di 150 restoran di enam
kota, serta Chef Collaboration di berbagai hotel dan restoran yang tersebar di
tiga kota.
Tahun ini, Kementerian Pariwisata juga berkolaborasi dengan
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menghadirkan "Culinary
Festival" yang berlangsung pada 7 Oktober hingga 1 November 2026 dengan
melibatkan 32 mal di 14 kota.
Sumber ; https://kemenpar.go.id/berita/siaran-persmenpar-wig-2026-angkat-rasa-dan-cerita-indonesia-jadi-narasi-global