Di tengah pesatnya pembangunan sektor pariwisata, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) terus mempertegas komitmennya dalam menerapkan prinsip keberlanjutan melalui pendekatan Protecting Nature sebagai bagian dari framework sustainability perusahaan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan The Nusa Dua, Bali dan The Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Melalui
langkah ini, ITDC mengintegrasikan berbagai upaya mulai dari ketahanan
iklim, efisiensi energi, pengelolaan limbah dan air, hingga perlindungan
keanekaragaman hayati dalam satu ekosistem kawasan yang berkelanjutan.
Strategi
tersebut menegaskan bahwa pengembangan destinasi wisata tidak semata
berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada harmoni lingkungan
serta peningkatan kualitas hidup dalam jangka panjang.
Direktur Komersial & Marketing ITDC, Febrina Mediana,
menegaskan bahwa Ruang Terbuka Hijau memiliki peran strategis dalam
meningkatkan kualitas sekaligus daya saing destinasi wisata.
Menurutnya,
RTH bukan sekadar elemen lanskap, melainkan bagian dari infrastruktur
ekologis yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap kualitas udara,
pengendalian suhu kawasan, hingga penguatan ketahanan terhadap
perubahan iklim.
“Penguatan
RTH di The Nusa Dua dan The Mandalika diarahkan untuk menghadirkan
ekosistem destinasi yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan, tidak hanya
indah secara visual.
"Melalui pengembangan pengalaman wisata berbasis alam, seperti aktivitas outdoor, wellness,
dan rekreasi di kawasan pesisir, RTH menjadi bagian penting dalam
mendorong gaya hidup sehat, memperkuat koneksi manusia dengan alam,
serta meningkatkan kualitas pengalaman wisata secara menyeluruh.
"Pendekatan
ini sekaligus menegaskan komitmen ITDC dalam menjaga keberlanjutan
destinasi dan memperkuat daya saing pariwisata Indonesia dalam jangka
panjang.”
Di kawasan The Nusa Dua, ITDC mengelola RTH seluas sekitar 97 hektare atau 27 persen dari total kawasan seluas 359,7 hektare.
Dari
total tersebut, sebanyak 43 hektare telah ditanami lebih dari 5.700
pohon yang berasal dari 138 jenis vegetasi, termasuk 32 jenis pohon
lokal dan endemik.
Keberadaan ruang hijau ini dinilai penting
dalam memperkuat keanekaragaman hayati, menjaga karakter lanskap
kawasan, sekaligus menjadi paru-paru kawasan yang mendukung pengendalian
suhu mikro, peningkatan kualitas udara dan lingkungan, serta penyediaan
ruang publik yang nyaman dan inklusif.
Tak
hanya itu, The Nusa Dua juga menunjukkan kontribusi nyata terhadap
upaya dekarbonisasi melalui pengelolaan lanskap berbasis biodiversitas
yang terintegrasi dengan sistem utilitas berkelanjutan.
Sejak 1979, kawasan ini telah menerapkan sistem lagoon
yang mampu mengolah hingga sekitar 10.000 meter kubik air limbah per
hari untuk dimanfaatkan kembali sebagai irigasi kawasan hijau.
Langkah tersebut mendukung efisiensi penggunaan air sekaligus implementasi konsep circular water system.
Berdasarkan
kajian terbaru, total serapan karbon kawasan The Nusa Dua mencapai
16.279,57 ton karbon, dengan rata-rata biomassa total sekitar 102,6 ton
per hektare dan kandungan karbon sebesar sekitar 48,2 ton C per hektare
atau setara dengan sekitar 176,8 ton CO₂e per hektare.
Angka ini
menunjukkan kemampuan vegetasi kawasan dalam menyerap dan menyimpan
karbon secara signifikan, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem di
tengah tingginya aktivitas pariwisata.
Sementara itu, di kawasan The Mandalika, pengembangan pariwisata berkelanjutan
dilakukan melalui pengelolaan kawasan seluas sekitar 1.175 hektare
dengan alokasi RTH mencapai 363 hektare atau sekitar 30 persen dari
total area.
Dari
jumlah tersebut, sekitar 19 persen telah dikelola secara aktif sebagai
bagian dari upaya konservasi dan peningkatan kualitas lingkungan
kawasan.
Sebagai bagian dari penguatan ekosistem pesisir,
sepanjang 2025 telah dilakukan penanaman lebih dari 10.400 pohon melalui
program rehabilitasi lingkungan.
Program ini akan berlanjut pada
2026 dengan penanaman sebanyak 15.000 pohon mangrove di kawasan pesisir
sebagai langkah strategis memperkuat perlindungan alami terhadap abrasi
sekaligus meningkatkan kualitas habitat pesisir.
Pengembangan The Mandalika juga mengintegrasikan konsep green space dan blue space, yakni perpaduan antara ruang vegetasi dengan elemen air seperti pantai, laguna, dan area konservasi.
Pendekatan
tersebut tidak hanya menciptakan lanskap kawasan yang estetis dan
fungsional, tetapi juga berperan penting dalam meningkatkan ketahanan
kawasan terhadap perubahan iklim, termasuk mitigasi abrasi, peningkatan
daya serap air, hingga perlindungan ekosistem pesisir.
Melalui
pendekatan tersebut, pengembangan kawasan The Mandalika tidak hanya
berorientasi pada pertumbuhan ekonomi pariwisata, tetapi juga memberikan
nilai tambah nyata bagi keberlanjutan lingkungan serta kelestarian
ekosistem pesisir.
“Integrasi prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance),
ITDC menempatkan RTH sebagai infrastruktur hijau strategis yang tidak
hanya memperkuat daya saing destinasi, tetapi juga menjaga keseimbangan
ekosistem, meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, serta
mendukung pengembangan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan,
resilien, dan rendah karbon,” tutup Febriana.
Sumber : https://www.kabarbumn.id/rilis-bumn/117388900/perkuat-pariwisata-berkelanjutan-itdc-optimalisasi-ruang-terbuka-hijau-di-bali-dan-mandalika?page=all