Bandung
– Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek),
Brian Yuliarto mengajak lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk
menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai bekal untuk
memberikan kontribusi bagi kemajuan Indonesia. Pesan tersebut
disampaikan saat memberikan inspirasi kepemimpinan dalam Sidang Terbuka
Ketiga ITB Tahun Akademik 2025/2026, Jumat (28/8).
Di
hadapan wisudawan program sarjana, magister, dan doktor, Menteri Brian
menegaskan bahwa para lulusan perguruan tinggi membawa tanggung jawab,
untuk memberikan pengabdian yang lebih besar kepada masyarakat.
“Ijazah
yang akan kalian terima sesungguhnya adalah sebuah surat tugas. Tugas
untuk pengabdian yang lebih besar, dari yang sudah Anda lalui di
Institut Teknologi Bandung ini,” ujar Menteri Brian.
Menteri Brian menitipkan empat nilai kepada para wisudawan, yaitu grit, persistence, perseverance, dan humility.
Keempatnya menjadi bekal untuk tetap teguh mengejar cita-cita,
konsisten dalam berusaha, bangkit setelah mengalami kegagalan, dan tetap
rendah hati dalam menghargai orang lain.
Mendiktisaintek
juga berpesan agar para lulusan berani melangkah sejauh-jauhnya untuk
belajar dari dunia dan membangun karya kelas dunia, namun tetap membawa
kembali pengetahuan, jejaring, teknologi, kesempatan, dan kepedulian
untuk Indonesia.
Membangun Ekosistem Sains dan Teknologi
Mendiktisaintek
menyampaikan bahwa Indonesia, sedang berada pada periode dengan jumlah
penduduk usia produktif yang besar. Kondisi tersebut menjadi peluang
bagi Indonesia untuk melakukan lompatan kemajuan. Namun, peluang
tersebut memiliki batas waktu seiring perubahan struktur penduduk, dalam
satu hingga dua dekade mendatang.
Menurut
Menteri Brian, salah satu tantangan Indonesia adalah mengubah pola
pertumbuhan yang masih bertumpu pada penjualan bahan mentah, menjadi
pertumbuhan yang menghasilkan nilai tambah melalui pengetahuan dan
teknologi.
“Negara
yang berhasil keluar dari keadaan seperti itu memiliki satu kesamaan,
mereka mampu membangun mesin pertumbuhan berbasis teknologi. Science and technology based economy, ekonomi berbasis sains dan teknologi,” kata Menteri Brian.
Untuk
mewujudkannya, Menteri Brian menekankan pentingnya keterhubungan antara
pemerintah, perguruan tinggi dan lembaga riset, serta industri.
Masing-masing memiliki peran dalam membangun ekosistem yang dapat
menghubungkan pengetahuan, teknologi, hingga pemanfaatannya oleh
masyarakat dan pasar.
“Pemerintah
memberikan arah dan keberanian mengambil risiko, kampus serta lembaga
riset melahirkan pengetahuan dan teknologi, dan industri membawanya
hingga digunakan oleh masyarakat dan diterima pasar. Ketiganya harus
bekerja sebagai satu ekosistem industri berbasis teknologi,” ujar
Menteri Brian.
Mendiktisaintek juga menekankan peran perguruan tinggi dalam mendorong lahirnya industri berbasis pengetahuan mendalam atau deep tech industry. Menurutnya, deep tech
tidak terbatas pada semikonduktor, tetapi juga dapat berkembang dari
berbagai bidang keilmuan, seperti air, material, bioteknologi,
biomanufaktur, genom, arsitektur, perencanaan kota, dan kebijakan.
“Tugas
perguruan tinggi tidak berhenti hanya meluluskan sarjana saja, tetapi
tugas kita juga melahirkan industri berbasis pengetahuan yang dalam,
atau kita sebut sekarang sebagai deep tech industry,” tutur Menteri Brian.
Menteri
Brian menilai ITB memiliki modal keilmuan, talenta, jejaring, dan
reputasi. Menurutnya, tantangannya adalah bagaimana modal tersebut
diarahkan menjadi kekuatan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Selain
mendorong penguatan sains dan teknologi, Menteri Brian mengingatkan
para wisudawan mengenai pentingnya kegigihan dalam mengejar cita-cita.
Mendiktisaintek menekankan bahwa kegagalan merupakan bagian dari
perjalanan dan kemampuan untuk bangkit kembali menjadi hal penting dalam
mencapai keberhasilan.
“Jangan pernah lelah mengejar cita-cita Anda. Jangan pernah berhenti mengejar apa yang Anda inginkan,” pesan Menteri Brian.
Lebih
lanjut Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara yang mengingatkan para
wisudawan bahwa ilmu dan kesempatan yang diperoleh selama menempuh
pendidikan merupakan amanah yang perlu diwujudkan melalui karya.
“Syukur
tidak cukup hanya diucapkan. Syukur harus menjadi kerja, syukur harus
menjadi karya, dan syukur harus menjadi manfaat,” ujar Rektor ITB.
Rektor ITB juga mengingatkan pentingnya menjaga kemanusiaan di tengah perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial.
“Semakin pintar teknologi yang kita ciptakan, semakin penting manusia yang bijaksana untuk mengarahkannya,” ujar Rektor ITB.
Momentum
wisuda menjadi penanda dimulainya perjalanan para lulusan untuk
mengimplementasikan ilmu, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh
selama menempuh pendidikan tinggi. Sejalan dengan semangat Diktisaintek
Berdampak, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek)
mendorong agar capaian pendidikan tinggi tidak berhenti sebagai
pencapaian akademik, tetapi berlanjut menjadi kontribusi yang memberikan
manfaat bagi masyarakat dan pembangunan Indonesia.
Sumber : https://kemdiktisaintek.go.id/en/news/article/mendiktisaintek-lulusan-perguruan-tinggi-perlu-menjadi-penggerak-ekonomi-berbasis-sains-dan-teknologi