Jakarta, 17 Juni 2026 - Menteri Pariwisata (Menpar)
Widiyanti Putri Wardhana memaparkan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Rencana
Kerja dan Anggaran (RKA) Tahun 2027 dalam Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR
RI.
Dalam pemaparannya, Menteri Pariwisata menegaskan
pembangunan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan tetap menjadi prioritas
Kementerian Pariwisata guna mendorong kontribusi sektor pariwisata yang lebih
besar terhadap perekonomian nasional.
“Kami berkomitmen untuk terus mengoptimalkan seluruh sumber
daya yang ada agar pariwisata dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi
perekonomian nasional, penciptaan lapangan kerja, peningkatan devisa, serta
kesejahteraan masyarakat,” kata Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana
dalam Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR RI di Jakarta, Rabu (17/6).
Dalam paparannya, Menteri Widiyanti menjelaskan RKP 2027
mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Berkualitas melalui Produktivitas,
Investasi, dan Industri”. Tema tersebut mendukung Prioritas Nasional atau Asta
Cita ke-3, yakni melanjutkan pengembangan infrastruktur dan meningkatkan
lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kewirausahaan, mengembangkan
industri kreatif, serta mengembangkan agro-maritim industri di sentra produksi
melalui peran aktif koperasi.
Menteri Pariwisata menambahkan program prioritas pada tahun
depan akan difokuskan pada pembangunan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan
dengan kegiatan prioritas berupa penyelesaian 10 destinasi prioritas dan
pembangunan 3 destinasi regeneratif.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar
5,8–6,5 persen. Sementara itu, lapangan usaha yang terkait erat dengan sektor
pariwisata, yaitu akomodasi, makanan, dan minuman, ditargetkan tumbuh sebesar
8,7–9,3 persen.
Untuk mendukung target tersebut, Kementerian Pariwisata
telah merumuskan sejumlah intervensi, di antaranya peningkatan kualitas SDM,
pemasaran pariwisata, pengembangan atraksi dan event berkualitas, penguatan
pariwisata berkelanjutan, pengembangan destinasi, serta pengembangan industri
dan rantai pasok yang inklusif.
Pariwisata juga dimandatkan untuk meningkatkan kontribusinya
pada tahun 2027. Hal ini tercermin dari peningkatan seluruh target Indikator
Kinerja Utama (IKU) Kementerian Pariwisata dibandingkan tahun 2026.
Sejumlah target yang telah ditetapkan meliputi kunjungan
wisatawan mancanegara sebesar 17,6–19,1 juta kunjungan atau meningkat sekitar
8,5–10 persen. Pengeluaran wisatawan mancanegara atau Average Spending per
Arrival (ASPA) ditargetkan mencapai 1.447–1.497 dolar AS, meningkat
sekitar 5,5–6,6 persen.
Peningkatan aktivitas wisatawan mancanegara tersebut juga
diharapkan dapat berkontribusi terhadap devisa pariwisata sebesar 25,5–28,6
miliar dolar AS atau tumbuh sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara ditargetkan
mencapai 1,28 miliar perjalanan atau meningkat 8,5 persen dibandingkan tahun
2026. Sektor pariwisata juga ditargetkan mampu menyerap 27,33 juta tenaga kerja
atau meningkat 3 persen.
Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto
(PDB) ditargetkan mencapai 4,7–4,8 persen atau meningkat sekitar 0,4 poin
persentase. Adapun investasi pariwisata pada tahun depan ditargetkan mencapai
Rp71 triliun atau meningkat sekitar 11,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan Surat Menteri Keuangan, Kementerian Pariwisata
menerima alokasi anggaran sebesar Rp1,01 triliun yang akan digunakan untuk
mendukung pencapaian IKU dan penyelesaian berbagai isu strategis sektor
pariwisata.
Melihat tren pergerakan pagu anggaran Kementerian Pariwisata
sejak tahun 2016 hingga 2027, terlihat anggaran mengalami tren penurunan sejak
tahun 2024. Bahkan, pagu indikatif tahun 2027 sebesar Rp1,01 triliun berada
jauh di bawah tren historis anggaran Kementerian Pariwisata dan masih berada di
bawah kebutuhan ideal.
Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 29,6 persen
dibandingkan pagu tahun 2026, dengan penurunan terbesar terjadi pada program
pariwisata sebesar 65 persen dan program pendidikan serta vokasi sebesar 46
persen.
“Terlepas dari keterbatasan anggaran yang tersedia,
Kementerian Pariwisata berkomitmen untuk memastikan setiap rupiah anggaran
memberikan dampak yang optimal bagi pembangunan sektor pariwisata,” tutur
Menteri Pariwisata.
Pagu indikatif tahun 2027 direncanakan dialokasikan dengan
komposisi 42,38 persen untuk Sekretariat Kementerian, 17,27 persen untuk Satuan
Kerja Pusat selain Sekretariat Kementerian, 35 persen untuk Politeknik
Pariwisata sesuai anggaran fungsi pendidikan, dan 5,35 persen untuk Badan
Pelaksana Otorita.
Perbedaan Dampak Pagu Indikatif dan Pagu Ideal
Terkait Rencana Kerja dan Anggaran (RKA), Kementerian
Pariwisata menyampaikan rincian program dan kegiatan pada masing-masing Satuan
Kerja Pusat, Politeknik Pariwisata, dan Badan Pelaksana Otorita, serta
perbedaan skala dan jangkauan kegiatan yang dapat dicapai pada skenario pagu
indikatif dan pagu ideal.
Pada Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan, yang
sebagian besar programnya langsung menyentuh masyarakat dan SDM pariwisata
serta memiliki tugas menjaga hubungan internasional, perbedaan utama antara
pagu indikatif dan pagu ideal terletak pada jumlah masyarakat dan SDM
pariwisata yang dapat dijangkau dan dibina, serta jumlah kesepakatan kerja sama
yang dapat diwujudkan.
Selanjutnya, perbedaan antara pagu indikatif dan pagu ideal
pada Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur akan memengaruhi
skala intervensi yang dapat dilakukan di destinasi. Dampaknya antara lain
berkurangnya jumlah pendampingan dan sertifikasi dalam program pengembangan dan
penguatan kapasitas desa wisata, serta berkurangnya cakupan destinasi dalam
kegiatan Pemantauan dan Evaluasi Rencana Induk Destinasi Pariwisata Nasional
(RIDPN).
Pada Deputi Bidang Industri dan Investasi, dampak perbedaan
pagu terlihat pada jumlah auditor dan pengawas yang dapat ditingkatkan
kompetensinya, jumlah badan usaha yang dapat dilakukan pengawasan rutin maupun
insidental dalam pelaksanaan program Peningkatan Standardisasi dan Sertifikasi
Usaha, serta terbatasnya kegiatan yang berfokus pada promosi investasi dan
dukungan bagi pelaku usaha maupun pemerintah daerah dalam menarik investasi.
Sementara itu, pada Deputi Bidang Pemasaran, berkurangnya
pagu indikatif berpotensi mengurangi optimalisasi eksposur pariwisata Indonesia
di pasar domestik maupun internasional. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya
jumlah kegiatan promosi dan semakin selektifnya Kementerian Pariwisata dalam
menentukan pasar yang menjadi sasaran promosi.
Dari sisi Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan
Kegiatan (Event), ketersediaan pagu ideal akan menentukan kemampuan Indonesia
dalam meningkatkan daya saing sebagai destinasi event kelas dunia. Pagu ideal
akan berpengaruh terhadap terwujudnya proses perizinan yang lebih cepat, lebih
sederhana, dan lebih transparan, serta peningkatan jumlah event daerah yang
dapat didukung.
Berkurangnya pagu juga berdampak pada enam Politeknik
Pariwisata di bawah Kementerian Pariwisata. Dengan pagu ideal, kapasitas
pendidikan dan pelatihan vokasi pariwisata dapat ditingkatkan secara
signifikan, baik dari sisi jangkauan maupun kualitas.
Terakhir, ketersediaan tambahan anggaran bagi Badan
Pelaksana Otorita dibutuhkan untuk meningkatkan upaya promosi dalam memperkuat
visibilitas dan daya saing destinasi. Selain itu, tambahan anggaran juga
mendukung percepatan pengembangan atraksi, aksesibilitas, dan amenitas (3A),
baik melalui penguatan kerja sama investasi maupun pembangunan yang dilakukan
secara langsung.
Pada tahun depan, Kementerian Pariwisata akan melanjutkan
berbagai program unggulan yang telah dijalankan pada tahun 2026, di antaranya
peningkatan keselamatan berwisata, desa wisata, pariwisata berkualitas, Event
by Indonesia, dan Tourism 5.0.
Dampak Nyata Program Kemenpar
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pariwisata juga
memaparkan sejumlah studi kasus yang menunjukkan dampak nyata program
Kementerian Pariwisata. Salah satunya adalah program pengembangan desa wisata
yang dijalankan melalui strategi intervensi yang terarah dan bertahap sesuai
tingkat perkembangan masing-masing desa wisata agar dapat tumbuh secara
berkelanjutan hingga mencapai kemandirian.
Hasilnya menunjukkan dampak positif, baik dari sisi
pengembangan desa wisata maupun kontribusinya terhadap aktivitas dan ekonomi
pariwisata. Dari sisi cakupan pengembangan, jumlah desa wisata yang terdata
dalam platform Jadesta meningkat dari 6.148 desa pada 2025 menjadi 6.262
desa pada 2026 atau tumbuh 1,85 persen.
Pada 50 desa wisata penerima Anugerah Desa Wisata Indonesia
(ADWI) 2024, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan perjalanan wisatawan
nusantara terus menunjukkan pertumbuhan. Dari tahun 2023 ke 2024, total
kunjungan dan perjalanan wisatawan meningkat 14,93 persen, kemudian kembali
tumbuh 44,81 persen pada 2025, sehingga secara total mencapai lebih dari 2,3
juta kunjungan dan perjalanan wisatawan pada tahun 2025.
Peningkatan aktivitas wisata tersebut turut mendorong
pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat. Pendapatan sektor pariwisata pada 50
desa wisata tersebut meningkat dari Rp38,48 miliar pada 2023 menjadi Rp46,05
miliar pada 2024 atau tumbuh 19,67 persen, kemudian kembali meningkat menjadi
Rp59,60 miliar pada 2025 atau tumbuh 29,41 persen dibandingkan tahun
sebelumnya.
Melihat berbagai dampak nyata tersebut, Menteri Pariwisata
menegaskan peningkatan anggaran bukan semata-mata kebutuhan kelembagaan,
melainkan investasi untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di
kawasan.
Di akhir rapat kerja, Menteri Pariwisata mengapresiasi dan
menegaskan pentingnya dukungan serta sinergi seluruh pihak, khususnya Komisi
VII DPR RI, dalam mewujudkan pariwisata Indonesia yang berkualitas dan
berkelanjutan.
“Masukan tersebut menjadi bagian penting bagi kami dalam
menyusun kebijakan dan program kerja yang lebih tepat sasaran, berimbang, dan
berdampak nyata. Semoga sinergi antara Pemerintah dan DPR RI dapat terus
diperkuat demi mewujudkan pariwisata Indonesia yang berkualitas, berkelanjutan,
dan semakin berdaya saing,” kata Menteri Widiyanti.
Sumber : https://kemenpar.go.id/berita/siaran-pers-kemenpar-fokus-perkuat-pariwisata-berkualitas-dan-berkelanjutan-pada-2027