TEMANGGUNG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus
berupaya melakukan regenerasi petani dan melakukan inovasi sektor
pertanian, demi menjaga ketahanan pangan di wilayahnya.
Sebab, regenerasi petani merupakan salah satu langkah strategis untuk
mewujudkan swasembada pangan, dan menjaga ketahanan pangan yang lebih
kuat.
Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, saat
mewakili Gubernur Ahmad Luthfi, pada Apel Siaga Penyuluh Pertanian dan
Petani Milenial Jawa Tengah, di Agro Center Soropadan, Pringsurat,
Kabupaten Temanggung, Jumat (24/4/2026).
Sumarno mengapresiasi konsistensi petani milenial dan para alumni
pelatihan pertanian, yang terus berkontribusi nyata di lapangan,
sekaligus mampu menumbuhkan minat generasi muda untuk terjun ke sektor
pertanian.
“Ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi bentuk kontribusi nyata di
lapangan. Yang lebih penting, bagaimana teman-teman ini mampu mendorong
anak-anak muda untuk mau bertani,” ujarnya.
Sekda menyebut, saat ini Jawa Tengah memiliki sekitar 630 ribu petani
milenial. Keberadaan mereka menjadi bagian penting dalam menjawab
tantangan regenerasi petani, mengingat mayoritas petani saat ini berada
pada rentang usia 40 hingga 60 tahun.
“Regenerasi ini menjadi kunci. Dengan sumber daya manusia (SDM) baru
yang lebih adaptif terhadap teknologi dan inovasi, kita optimistis
pertanian akan semakin efisien dan produktif,” kata Sumarno.
Dalam mendukung keberlanjutan sektor pertanian, Pemprov Jawa Tengah
juga tengah memperkuat kebijakan perlindungan lahan pertanian, melalui
revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Kebijakan itu untuk memastikan lahan pertanian tetap terjaga, dan
tidak mudah beralih fungsi. Ke depan, lahan yang telah ditetapkan
sebagai kawasan pertanian akan dilindungi secara ketat.
“Kami sedang berproses bersama kabupaten/kota untuk memastikan lahan
pertanian terlindungi. Ini penting agar keberlanjutan produksi pangan
tetap terjaga,” jelasnya.
Selain itu, pengelolaan sumber daya air dan lingkungan juga menjadi
perhatian serius. Pemprov Jateng mendorong peningkatan kesadaran bersama
dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya daerah tangkapan air
yang berperan penting dalam sistem pertanian.
Ketua Umum Petani Milenial, Rayndra Syahdan Mahmudin menyampaikan,
apel ini diikuti oleh 300 penyuluh pertanian dari 17 kabupaten/kota,
serta 300 Duta Petani Milenial.
Kegiatan itu diarahkan untuk memperkuat kolaborasi antara petani
milenial dan penyuluh, dalam mendukung swasembada pangan berkelanjutan.
“Kami berharap kolaborasi ini semakin kuat dan mampu memberikan
kontribusi nyata, bukan hanya di Jawa Tengah tetapi juga secara
nasional,” ujarnya.
Rayndra menambahkan, pengembangan petani milenial terus menunjukkan
tren positif. Jaringan petani muda di Jawa Tengah kini telah berkembang
hingga hampir 35 ribu orang sejak 2019.
Upaya perubahan stigma juga terus dilakukan, agar sektor pertanian
semakin diminati generasi muda, sebagai profesi yang produktif dan
menjanjikan.
“Stigma anak muda terhadap pertanian memang identik dengan kotor,
kucel, kumuh, tidak keren gitu ya. Nah itulah upaya kami dari Duta
Petani Milenial untuk mengubah stigma itu,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah,
Defransisco Dasilva Tavares menyampaikan, program swasembada pangan 2026
sejalan dengan visi Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional.
Target luas tanam padi pada 2026 ditetapkan mencapai 2,38 juta
hektare, dengan realisasi hingga saat ini sebesar 683.782 hektare.
“Setiap hari, penambahan tanam mencapai rata-rata 7.000 hingga 8.000 hektare” ujarnya.
Dikatakan, produksi padi hingga Mei 2026 diproyeksikan mencapai 4,69
juta ton gabah kering giling (GKG), dari target total 10,55 juta ton
GKG.
Selain padi, berbagai komoditas lain juga terus didorong. Produksi
cabai tercatat 80.892 ton, bawang merah 144.705 ton, serta daging sapi
245.747 ton.
“Jawa Tengah juga menjadi kontributor utama produksi bawang putih nasional dengan capaian 63,9 persen,” ucapnya.
Untuk mendukung percepatan produksi, diterapkan berbagai strategi,
antara lain peningkatan indeks pertanaman, pengendalian organisme
pengganggu tanaman, serta adaptasi terhadap perubahan iklim.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah sistem percepatan tanam
berkelanjutan atau pola “sepur”, yang mengintegrasikan proses panen
hingga tanam secara cepat guna mengoptimalkan lahan.
“Ini adalah optimalisasi lahan untuk intensifikasi dan percepatan luas tambah tanam di Jawa Tengah,” pungkasnya
Sumber ; https://jatengprov.go.id/publik/jaga-ketahanan-pangan-jateng-perkuat-regenerasi-petani-dan-inovasi/