MAUMERE - Kepala Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M.,
mengimbau seluruh unsur pemerintahan dan aparat yang terlibat dalam
penanganan bencana untuk terus mengedepankan etika, kesabaran,
profesionalisme, serta semangat kebersamaan dalam menjalankan tugas
kemanusiaan di lapangan.
Arahan
tersebut disampaikan Kepala BNPB saat meninjau Pos Pendukung Logistik
Nasional di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Minggu
(23/8), menyusul dinamika yang sempat terjadi dalam proses koordinasi
dan pendistribusian bantuan logistik di Kabupaten Manggarai Timur.
Kepala
BNPB menyampaikan bahwa penanganan bencana merupakan kerja bersama yang
membutuhkan komunikasi, koordinasi, dan saling pengertian antarpihak.
Dalam situasi darurat yang penuh tekanan, setiap unsur yang terlibat
diharapkan tetap mampu menjaga tata krama kedinasan dan etika
komunikasi, sehingga berbagai persoalan di lapangan dapat diselesaikan
melalui dialog yang terbuka, sejuk, dan konstruktif.
Menurut
Suharyanto, ASN, TNI, Polri, relawan, maupun seluruh unsur pelayanan
publik memiliki tanggung jawab yang sama untuk memberikan rasa aman dan
pelayanan terbaik kepada masyarakat yang tengah menghadapi musibah.
Karena itu, perbedaan pandangan atau kendala teknis yang muncul dalam
proses penanganan hendaknya menjadi ruang untuk memperkuat koordinasi,
bukan menjadi hambatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Dalam
situasi bencana, kita semua sedang bekerja untuk masyarakat. Karena
itu, mari kita jaga etika, komunikasi, dan sikap saling menghormati.
Kalau ada persoalan di lapangan, kita selesaikan bersama dengan
komunikasi yang baik,” ujar Suharyanto.
Terkait
distribusi logistik, BNPB memastikan dukungan pemerintah pusat terus
bergerak secara bertahap dan disalurkan berdasarkan kebutuhan serta
hasil pendataan di lapangan. Bantuan tersebut mencakup dukungan awal
pemerintah pusat, termasuk bantuan yang telah diarahkan Presiden untuk
mendukung percepatan penanganan dampak gempa di wilayah Nusa Tenggara
Timur.
Kepala BNPB menjelaskan bahwa
distribusi bantuan dalam skala besar membutuhkan tahapan, mulai dari
pengumpulan dan pengiriman dari pusat, penerimaan di pos pendukung,
pemilahan sesuai kebutuhan, hingga penyaluran melalui pemerintah daerah
kepada masyarakat terdampak. Mekanisme tersebut diperlukan agar bantuan
dapat dikelola secara tertib, tepat sasaran, dan dapat menjangkau
wilayah yang membutuhkan, termasuk daerah-daerah dengan akses yang lebih
sulit.
“Bantuan terus berjalan.
Distribusinya dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan
di masing-masing wilayah. Yang terpenting adalah bagaimana seluruh
pihak memahami alurnya dan bersama-sama memastikan bantuan sampai kepada
masyarakat,” jelasnya.
BNPB juga
menjadikan berbagai dinamika yang muncul selama proses distribusi
sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah
pusat, pemerintah daerah, BPBD, serta seluruh unsur pendukung penanganan
bencana. Penguatan komunikasi di tingkat lapangan dinilai penting agar
informasi mengenai ketersediaan, kebutuhan, dan mekanisme distribusi
dapat dipahami secara utuh oleh seluruh pihak.
Ke
depan, BNPB akan terus melakukan pendampingan kepada pemerintah daerah,
sekaligus memperkuat pemahaman bersama mengenai tata kelola logistik
kebencanaan. Dengan koordinasi yang semakin baik, proses distribusi
diharapkan dapat berlangsung lebih cepat, teratur, transparan, dan tetap
mengedepankan pendekatan yang humanis.
Suharyanto
menegaskan bahwa penanganan gempa Flores tidak dapat dilakukan oleh
satu pihak saja. Pemerintah pusat dan daerah, bersama TNI, Polri, dunia
usaha, organisasi kemasyarakatan, relawan, serta masyarakat harus
bergerak dalam satu semangat untuk mempercepat pemulihan.
“Bencana
ini adalah ujian bagi kita semua untuk semakin memperkuat gotong
royong. Mari kita fokus pada kebutuhan masyarakat, saling membantu, dan
memperkuat koordinasi. Dengan sinergi yang baik, kita optimistis
penanganan darurat dan proses pemulihan masyarakat terdampak dapat
berjalan semakin cepat,” jelas Suharyanto.
Rekapitulasi Distribusi Logistik Manggarai Timur
Secara
keseluruhan, rekapitulasi data bantuan untuk wilayah Kabupaten
Manggarai Timur tercacat dengan total kumulatif barang masuk sebanyak
8.144 unit/paket, dengan total distribusi keluar mencapai 4.232
unit/paket, sehingga menyisakan stok logistik di posko sebanyak 5.106
unit/paket.
Adapun rinciannya; pada
kelompok tenda dan shelter, penerimaan terdiri dari 545 set tenda
keluarga 4x4 (terdistribusi 238 set, sisa 307 set), 32 set tenda
pengungsi (terdistribusi 2 set, sisa 30 set), 16 unit tenda dome serta
109 lembar terpal (terdistribusi 20 lembar, sisa 89 lembar).
Selain
itu, terdapat 3 unit tenda Dinsos dan BUMN yang telah disalurkan
seluruhnya, serta 10 set tenda Benteng Raja yang sudah dikeluarkan
meskipun data penerimaannya masih dalam proses pembukuan.
Untuk
sektor perlengkapan tidur dan pakaian, bantuan yang masuk meliputi 470
pcs kasur lipat dan 100 pcs kelambu yang saat ini masih utuh di posko,
25 pcs velbed yang sudah tersalurkan seluruhnya, serta matras sebanyak
410 pcs dan selimut 728 lembar yang seluruh stok masuknya telah
didistribusikan habis.
Sementara itu,
untuk pakaian dewasa dan anak (termasuk kaos, gamis, sarung, dan baju
BNPB), dari total 3.415 pcs barang masuk, sebanyak 50 pcs telah
disalurkan dan menyisakan stok sebanyak 3.365 pcs.
Pada
kategori logistik pangan dan sembako, dari total 840 paket sembako yang
diterima, sebanyak 140 paket telah disalurkan dan menyisakan 700 paket.
Untuk pasokan beras (gabungan paket sembako, CPP BULOG, dan BPBD NTB),
dari total 1.101 paket/kg yang masuk, sebanyak 801 paket/kg telah
terdistribusi, meninggalkan sisa 300 paket.
Adapun
jenis barang permakanan dan komoditas lain seperti mie instan dan Pop
Mie (705 dos), air mineral (250 dos), serta barang kebutuhan pokok
harian seperti gula pasir, kopi, biskuit, roti, dan snack telah
tersalurkan 100 persen ke lapangan. Pasokan telur dan minyak goreng juga
telah didistribusikan penuh, meskipun terdapat catatan saldo minus pada
rekap akibat penyesuaian pencatatan barang masuk yang masih perlu
difinalisasi.
Terakhir, pada kelompok
sanitasi, kebersihan, peralatan, dan komunikasi, posko menerima 354
paket hygiene kit dan 4 unit genset. Sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan
operasional di lapangan, 5 unit toilet portable dan 2 unit perangkat
Starlink telah disalurkan 100 persen bersamaan dengan perlengkapan
kebersihan dan peralatan pendukung seperti sampo (143 renteng), handuk
(68 pcs), pasta gigi (100 pcs), senter (50 buah), dan baterai (36 pcs)
yang semuanya telah habis terdistribusi.
Sumber : https://www.bnpb.go.id/berita/bnpb-perkuat-etika-aparat-dan-sinergi-distribusi-logistik-untuk-percepat-penanganan-gempa-flores