Bekasi (Kemenag) — Peringatan Nuzulul Qur’an bukan sekadar perayaan turunnya teks suci, melainkan momentum bagi setiap Muslim untuk melakukan transformasi batin yang mendalam. Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, menekankan urgensi beralih dari sekadar ritual fisik menuju penghayatan spiritual atau inward looking.
Menag menjelaskan bahwa Tuhan menyelamatkan manusia melalui Kalam-Nya, yaitu Al-Qur'an, yang berfungsi sebagai tali penghubung antara hamba dan Sang Pencipta. Oleh karena itu, berinteraksi dengan Al-Qur'an dan menjalankan ibadah di bulan Ramadan seharusnya melahirkan perubahan kualitas jiwa, bukan sekadar rutinitas tanpa makna.
"Yang paling penting gunanya adalah inward. Jangan bercerita (fokus pada urusan luar). Jangan hanya maju-mundur (saf), ada waktunya maju, ada waktunya salah. Tapi fokus itu adalah apa? Menurutku konsentrasi," ujar Menag saat memberikan sambutan peringatan Nuzulul Qur'an di Masjid Jami’ Al-Azhar Jakapermai, Bekasi, Rabu (18/3/2026).
Lebih lanjut, Menag menguraikan filosofi puasa sebagai proses pembatasan diri atau constriction. Dengan membatasi ruang gerak jasmani melalui lapar dan haus, maka ruang rohani manusia akan menjadi lebih luas untuk menerima cahaya ketuhanan. Ia mengingatkan agar umat tidak terjebak pada aspek lahiriah semata dalam menjalankan rukun-rukun agama.
Menjelang akhir Ramadan, Menteri Agama mengajak seluruh umat untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Ia menggambarkan Ramadan sebagai entiti yang akan melaporkan setiap aktivitas manusia kepada Allah SWT, termasuk segala kekurangan dan kelalaian yang dilakukan.
"Semua bulan Ramadan ini melaporkan kebanyakan orang-orang. Wahai Ramadan suci terakhir kami, yang melaporkan kemalasan kami, yang melaporkan kelalaian kami di bulan-bulan Ramadan. Kami sedang berusaha untuk melakukan sesuatu yang terbaik," ucapnya dengan nada menyentuh.
Menag menutup pesannya dengan ajakan untuk berserah diri secara total (tawakal) kepada kasih sayang Allah yang Maha Luas. Menurutnya, setinggi apa pun kualitas ibadah manusia, pada akhirnya rahmat dan ampunan Tuhanlah yang menjadi kunci penyelamatan.
"Serahkan kepada Tuhan. Benar-benar Tuhan memang Maha Luas. Tidak ada yang bisa menghalangi Tuhan jika Tuhan akan memaafkan," pungkas Menag.
Melalui narasi transformasi batin ini, diharapkan umat Muslim dapat menjadikan sisa hari di bulan Ramadan sebagai sarana untuk memperkuat kualitas spiritual, sehingga agama benar-benar menjadi rahmat dan solusi bagi kedamaian jiwa.
Sumber : https://kemenag.go.id/nasional/nuzulul-quran-dan-transformasi-batin-menag-ajak-umat-menemukan-hakikat-inward-looking-dalam-ibadah-ubV8u
































