Selasa, 02 Mei 2017

Petani Garam Nekat Produksi Dipicu Kenaikan Harga

JEPARA – Tahun ini menjadi sejarah bagi harga garam di Jepara. Pasalnya, harga garam kualitas I mencapai Rp 230.000 ribu per kuintal atau Rp 2.300/kilogram. Sebelumnya, harga garam dengan kualitas terbaik tersebut hanya Rp 1.200/kilogram.
Melonjaknya harga garam tersebut membuat para petani di sentra produksi garam di Jepara, yakni di sepanjang pesisir Kecamatan Kedung nekat mulai menggarap lahan.
Meski kondisi cuaca belum menentu. Hujan masih seringkali mengguyur wilayah Jepara, sehingga bisa merusak garam yang tengah proses produksi.
Kenyataan itu disampaikan Kepala Desa Kedungmalang Kecamatan Kedung, Fahrur Rozikin. Menurut dia, petani garam yang selalu mengandalkan panas matahari untuk berproduksi harus menunggu musim puncak panas.
Biasanya dimulai pada Juli, Agustus hingga Oktober. Tapi banyak petani yang memulai lebih awal, karena harga jual garam saat ini sangat tinggi.
Gagal Panen
‘’Konsekuensinya memang bisa gagal panen, karena hujan masih sering turun. Ketika dalam proses produksi garam terjadi hujan, biasanya prosesnya harus diulang dari awal, sehingga biayanya juga tidak sedikit.
Tapi ketika berhasil memang mendapatkan hasil yang memuaskan karena laku mahal,’’ bebernya. Di sisi lain, Rozikin melanjutkan, tingginya harga jual garam mendorong para petani atau pengepul garam menjual garam yang sebelumnya disimpan dalam jumlah banyak di gudang.
Pengusaha garam asal Desa Panggung Kecamatan Kedung, Abdul Lafiq mengemukakan jika harga garam saat ini memang paling tinggi dalam sejarah.
Dalam catatannya, pada 2010 lalu harga jual garam dari petani pernah mencapai Rp 1.500/kilogram untuk garam kualitas I. Tapi saat ini mencapai Rp 2.300/kilogram. Normalnya harga garam di kisaran Rp 320/kilogram.
‘’Saat ini memang banyak petani yang memulai lebih awal proses produksi garam. Berharap bisa merasakan tingginya harga jual garam,’’ tuturnya. Meski demikian, lanjut dia, tak banyak petani garam yang saat ini bisa menikmati harga garam yang tinggi itu.
Sebab mayoritas petani sudah melepas simpanan garamnya sejak dua bulan lalu, saat harga garam mencapai Rp 700/kilogram. Dijualnya garam tersebut untuk persiapan produksi tahun ini. Untuk saat ini, lanjut dia, yang paling banyak menikmati tingginya harga garam adalah para pengepul.
Sebab mereka masih memiliki banyak simpanan garam di gudangnya. ‘’TIngginya harga garam saat ini kemungkinan disebabkan banyaknya kegagalan musim tanam 2016 lalu. Di Jepara (saat itu) produksi garam tidak maksimal,’’ tambahnya.


Sumber Berita : http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/petani-garam-nekat-produksi/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar