Senin, 05 Juni 2017

Inilah Salah Satu Usaha Rakyat yang Paling Terdampak Kenaikan Tarif Listrik

PATI-Usaha penetasan telur bebek di Kecamatan Margoyoso, Pati, cukup menjanjikan. Hal itulah yang mendorong sebagian masyarakat di sana menggeluti bisinis tersebut. Seperti Miftahul Huda, warga RT 1/RW I ini. Seperti apa?MIFTAHUL Huda sedang sibuk di tempat penetasan telur yang berada di dekat dapur rumahnya. Ia memilih lokasi yang cukup penerangan dan suhunya tidak terlalu dingin. Karena usaha yang ia geluti ini, berkaitan dengan proses penetasan, maka tempat setrategis menjadi pertimbangannya. 

Di tempat itu, ada ratusan butir telur yang berjajar rapi di dalam rak. Berada di rak paling atas telur berwarna biru itu, mendapat penerangan lampu dop. Huda, membolak-balikkan telur itu, agar setiap sudutnya mendapat suhu yang seimbang.
”Ini kegiatan rutin yang tidak boleh ditinggalkan. Selama proses penetasan ya seperti ini. Harus sabar, agar hasilnya juga maksimal,” kata Huda.
Ia menyebutkan, prosesnya membutuhkan waktu hampir sebulan. Selain itu, pelaku usaha tidak boleh lengah memantau perkembangannya. Karena terjadi kesalahan sedikit saja, bisa gagal.
”Untuk menetaskan telur bebek, membutuhkan suhu sebesar 37 hingga 37 derajat celcius. Setelah 15 hari pemanasan, maka telur harus dibolak-balik dan ditetesi air setiap 4 jam. Hal tersebut bertujuan agar kelembaban udara tetap terjaga,” ujarnya.
Huda mengaku, menggeluti usaha tersebut baru beberapa bulan. Awalnya hanya mencoba, karena prospek penetasan telur bebek belum begitu banyak. Sehingga, bagi dia peluang untuk mengembangkan usaha tersebut. 

Sebelumnya, ia mengeluarkan dana lebih dari Rp 5 juta untuk membeli mesin penetas. Dari modal tersebut, ia mulai memanen hasil yang lumayan. Karena dengan alat-alat tersebut, sedikitnya bisa menetaskan hingga 3200 telur bebek setiap bulannya.
Selama menjalankan bisnis itu, Huda juga mengalami berbagai macam kendala. Seperti naik turunnya harga bibit bebek hingga biaya penetasan yang mencapai jutaan rupiah. ”Untuk menetaskan telur, rumah perlu menambah daya listrik hingga 1300 watt. Sehingga perbulannya harus membayar tagihan listrik mencapai Rp 1,2 juta,” imbuhnya.
Lanjutnya, jika tarif dasar listrik terus dinaikan oleh pemerintah, maka kelangsungan bisnis penetasan telur akan terganggu. Sebab, kalau terbebani tagihan listrik yang mahal, tentu akan memberatkan para pengusaha.
Selain itu, kendala kurangnya modal juga dirasakan Huda. Ia berpendapat, seandainya pemerintah mau membantu mengembangkan usahanya pasti ke depannya banyak kemajuan. Untuk harga sepasang bibit bebek yang ditetaskan, Huda mematoknya dengan harga Rp 7700.
Harga tersebut bisa naik turun, tergantung jumlah pesanan. Karena jika jumlah pesanan bertambah banyak, harganya pasti akan mengalami kenaikan secara signifikan. ”Dulu pernah sampai Rp 9000 perpasang. Karena pada saat itu saingannya cuma sedikit. Tapi sekarang kan pengusaha penetasan telur sudah lumayan banyak di desanya. Sehingga harga berangsur-angsur turun,” katanya. 

Sumber Berita : https://www.patikab.go.id/v2/id/2017/06/05/inilah-salah-satu-usaha-rakyat-yang-paling-terdamp/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar