Pati – Para petani garam yang berada di wilayah
Kecamatan trangkil, sampai saat ini belum bisa memproduksi. Itu
dikarenakan kondisi cuaca yang tidak menentu. Sehingga, para petani
lebih memilih menunggu. Sebagian petani garam lainnya, justru beralih ke
usaha pertambakan.
Santoso (34) salah seorang petani garam di Kecamatan Trangkil mengaku
belum bisa memproduksi garam di lahan miliknya. Dia khawatir apabila
masih terjadi hujan, pada saat penjemuran air garam mulai dilakukan.
“Kemarin saja masih terjadi hujan. Terus, kondisi cuacanya tidak
menentu. Kami tidak mau berspekulasi meskipun harganya saat ini
tergolong mahal,” ungkapnya, Senin (7/5/2018).
Dia mengaku, harga jual garam dari petani sendiri, saat ini mencapai
Rp. 2300 untuk garam grosok dengan kualitas rendah. Sementara garam
Kristal, harganya mencapai Rp. 2500 per kilo gramnya. Menurutnya, harga
itu terbilang cukup tinggi.
“Dulu itu harga garam sangat hancur. Satu kilonya cuma Rp. 700 hingga
Rp 1000 saja. Tetapi pada saat harganya mahal, kami malah belum bisa
memproduksi,” imbuhnya.
Selain
anomali cuaca, lahan untuk pengerian air garam dirasa juga belum siap.
Sebab, untuk penjemuran, lahan harus benar-benar kering dan tidak
tercampur dengan air tawar.
“Menurut perhitungan kami, bulan April kemarin seharusnya sudah
memasuki musim kematrau panjang. Tetapi sampai saat ini, terkadang hujan
masih juga datang sehingga kami tidak berani memproduksi garam,”
terangnya.
Dia memperkirakan, kenaikan harga garam ini lantaran minimnya
produksi dari petani. Bahkan, sebagian dari pabrik pengolahan garam
sudah mengambil garam dari Madura dan impor dari Australia.
Dia berharap, musim kemarau segera tiba, sehingga petani garam bisa
memproduksi lagi. Meskipun ada sebagian lahan yang digunakan untuk
pertambakan, tetapi apabila ingin beralih lagi ke garam, tentu memakan
waktu lama. Karena harus ada proses penheringan lahan terlebih dahulu.
“Ini kan sudah mulan Mei, kami harap kemarau segera tiba agar lahan
bisa cepat kering dan kami bisa memproduksi garam lagi,”tutupnya.
Sumber Berita : http://www.murianews.com/2018/05/07/141930/anomali-cuaca-petani-garam-di-pati-tak-bisa-produksi.html



