MAKASSAR - Saat itu
Aula Sentra Wirajaya Makassar dipenuhi gemuruh tepuk tangan kala Menteri
Sosial Saifullah Yusuf, atau kerap disapa Gus Ipul, memasuki ruangan
pada Rabu (25/12/20224). Kehadiran para pilar sosial seperti pendamping
Program Keluarga Harapan (PKH), pendamping Rehabilitasi Sosial (Rehsos),
Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), dan Pekerja Sosial
Masyarakat (PSM) menjadi saksi momentum penting wacana pembaruan satu
data sosial-ekonomi nasional. Karena melalui tangan para pilar sosial
itulah nantinya menjadi ujung tombak Kemensos dalam menyukseskan
penyelenggaraan satu data nasional tersebut.
"Presiden
memerintahkan kepada K/L yang memiliki data untuk dipadankan dan
dikonsolidasikan menjadi data tunggal," kata Gus Ipul saat memulai
diskusi hangat bersama pilar-pilar sosial yang hadir saat itu.
Nantinya,
data tunggal itu akan menjadi acuan dalam pemberian layanan
penyelenggaraan kesejahteraan sosial oleh seluruh kementerian/lembaga
(K/L) terkait.
Gus Ipul menuturkan, dengan lahirnya satu data
sosial-ekonomi nasional itu juga akan membawa perubahan baru dalam
target kerja Kemensos ke depannya. Termasuk dalam upaya menggeser para
penerima bantuan sosial Kemensos menjadi penerima program pemberdayaan
sosial.
"Tugas kalian itu setelah mendampingi di sini (program
perlindungan sosial), di geser ke sana (pemberdayaan sosial). Jadi
setelah graduasi dari penerima PKH/bansos, didorong untuk bergeser ke
program pemberdayaan," kata Gus Ipul memberikan arahan kepada pilar
sosial di Sulawesi Selatan.
Dalam mewujudkan pergeseran penerima
program yang bersifat memberdayakan itu, Gus Ipul meminta para pilar
sosial, khususnya pendamping PKH untuk menentukan target kerja agar
dapat terukur.
"Kita harus punya target dalam pencapaian
tersebut, satu pendamping graduasi sepuluh KPM (Keluarga Penerima
Manfaat) per tahun," ucap Gus Ipul.
Hal ini menjadi langkah
mantap yang diambil Kemensos, mengingat sebelumnya pendekatan program
yang dimiliki Pemerintah pada dua dekade terakhir lebih condong ke
pemenuhan social protection. Sementara dalam hal social empowering
tidak tampak. Maka itu harus diimbangi dan diperkuat pada aspek
pemberdayaan.
"Yakinkan kepada KPM kalau nanti tidak lagi
mendapat bantuan sosial, maka bisa mencari bantuan pemberdayaan untuk
peningkatan usaha/ekonomi," ucap Gus Ipul memberikan instruksi kepada
para pilar sosial.
Dalam kesempatan itu, Gus Ipul juga
mengapresiasi kinerja para pilar sosial yang telah bekerja melayani
ratusan ribu pemerlu pelayanan kesejahteraan sosial (PPKS). Ia
menekankan semangat melayani masyarakat yang sudah ada di dalam diri
setiap pilar sosial harus terus dirawat.
"Saya melihat banyak
kinerja baik, tapi kita bisa membuatnya lebih baik lagi ke depannya,"
kata Gus Ipul saat memberikan motivasi disambut tepuk tangan pilar-pilar
sosial yang hadir saat itu.
Salah satu pilar sosial yang hadir,
Andi Panca Azikin (38), merupakan pendamping PKH yang mendampingi 412
KPM yang tersebar di dua kelurahan di Kota Makassar. Panca mengatakan,
kehadiran Gus Ipul saat itu telah menjadi cambuk motivasi bagi dirinya
dalam melaksanakan tugas-tugas, utamanya dalam mewujudkan target
graduasi KPM yang menjadi dampingannya.
Sementara itu, pilar
sosial lainnya yaitu Atika (56), merupakan Koordinator PSM di Kecamatan
Mariso, Kota Makassar. Atika menyebutkan ini merupakan pengalaman
pertamanya mendapat arahan langsung dari Gus Ipul.
"Tadi yang
disampaikan oleh Gus Ipul sangat mendetail dan bisa dipahami terkait
target pemberdayaan KPM dan pembaruan data yang akurat," ucap Atika.
Melalui
kehadiran Gus Ipul di Makassar tersebut, merupakan wujud komitmen
Kemensos dalam mempersiapkan sumber daya kesejahteraan sosial guna
menyukseskan pemanfaatan satu data sosial-ekonomi nasional.












