Medan, 10 Februari 2026 – Badan
Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa
perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang
sedang terjadi dan berdampak langsung kepada kehidupan masyarakat. Salah
satu dampak perubahan iklim adalah peningkatan intensitas curah hujan
ekstrem yang belakangan terjadi di wilayah Indonesia.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan
menyoroti fenomena Siklon Tropis Senyar yang melanda wilayah Sumatra di
penghujung tahun 2025 lalu. Menurutnya, Siklon Tropis Senyar memicu
curah hujan yang melampaui batas normal dan mencatatkan rekor baru di
beberapa wilayah.
“Siklon Senyar telah menghasilkan rekor curah hujan
dasarian III November tertinggi sejak tahun 1991. Di Kecamatan Koto
Tangah, Sumatra Barat, curah hujan selama periode bencana mencapai
sekitar tiga kali lipat dari hujan normal di bulan November. Di Singkil
Utara, Aceh, curah hujan mencapai dua kali lipat dari kondisi
normalnya,” kata Ardhasena di Universitas Sumatra Utara, Selasa (10/2).
Dalam diskusi ilmiah bertajuk ‘Perubahan Iklim Global
Sebagai Pemicu Bencana di Sumatra pada November-Desember tahun 2025’, ia
menjelaskan bahwa fenomena alam laiknya Siklon Tropis Senyar merupakan
bagian dari tren pemanasan global yang konsisten.
Di sisi lain, tren perubahan iklim yang terjadi saat ini
dibuktikan dengan berbagai catatan yang telah BMKG analisis. Buktinya
adalah tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas di Indonesia dengan
suhu rata-rata mencapai 27,5°C. Sementara itu, tahun 2025 tercatat
sebagai tahun terpanas urutan keenam (27,04°C) dalam sejarah pengamatan
di Indonesia dengan anomali suhu +0,38°C di atas rata-rata periode
normal 1991-2020.
Ardhasena menjelaskan bahwa kedepan kondisi iklim
Indonesia cukup mengkhawatirkan jika tidak dilakukan langkah mitigasi
secara kolektif.Hasil analisis BMKG mencatat di masa mendatang
peningkatan suhu masih akan terus terjadi di mana seluruh wilayah
Indonesia diproyeksikan mengalami kenaikan suhu hingga 1,6°C pada
periode 2021-2050.
Tidak hanya itu, perubahan iklim juga akan mendorong
perubahan pola hujan yakni wilayah utara Indonesia diproyeksikan menjadi
lebih basah (hingga 8%), sementara wilayah selatan menjadi lebih kering
(hingga -9%). Dampaknya, curah hujan yang sebelumnya memiliki periode
ulang 100 tahun akan terjadi jauh lebih sering di masa depan.
“Sebagai contoh, hujan intensitas 250 mm yang tadinya
berulang 100 tahun sekali, diprediksi akan muncul setiap kurang dari 20
tahun,” ujarnya.
Dampak lain perubahan iklim yang tak kalah kritis adalah
mencairnya tutupan es di Puncak Jaya, Papua, yang telah berkurang
sekitar 98% sejak tahun 1988 dan diperkirakan akan habis sepenuhnya pada
akhir 2025 atau awal 2027. Selain itu, kenaikan permukaan laut di
Indonesia mencapai laju 4,36 mm/tahun, yang mengancam wilayah pesisir
dengan banjir rob dan abrasi.
Melalui diskusi ini, BMKG mengajak para pemangku
kepentingan dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan adaptasi
terhadap variabilitas iklim guna menjaga keberlanjutan ekonomi dan
kelestarian lingkungan di tengah tantangan pemanasan global yang terus
berlanjut.




