Cari Blog Ini

Selasa, 10 Februari 2026

Konferensi Internasional UMS 2026, Wamenag Tegaskan Pentingnya Etika Agama di Era AI


 

Surakarta (Kemenag) — Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Syafi’i menegaskan bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Namun demikian, teknologi harus tetap berada dalam kendali manusia dengan berlandaskan nilai, etika, dan iman agar tidak menyimpang dari tujuan kemanusiaan.

Penegasan tersebut disampaikan Wamenag saat menjadi narasumber utama dalam International Conference on Islamic and Muhammadiyah Studies (ICIMS) 2026 yang digelar di Kampus I Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Selasa (10/2/2026).

Menurut Wamenag, AI terbentuk dari informasi dan perilaku manusia. Oleh karena itu, tanpa pengendalian yang dilandasi kebenaran, pemahaman, dan iman, perkembangan AI berpotensi menimbulkan persoalan serius.

“AI terbentuk dari informasi dan perilaku manusia. Jika tidak dikendalikan dengan nilai dan iman, ini bisa menjadi sesuatu yang krusial bahkan berpotensi menjadi propaganda,” tegasnya.

Wamenag menambahkan bahwa persoalan utama dalam perkembangan teknologi bukan pada pilihan menerima atau menolak, melainkan pada kesiapan manusia untuk menjadi pengendali atas teknologi yang diciptakannya.

“Teknologi tidak untuk ditolak. Manusia lah yang harus menjadi pengendali. Kita adalah pemimpin atas teknologi yang kita ciptakan,” ujarnya.

Dalam konteks kepemimpinan nasional, Wamenag juga menekankan pentingnya pembangunan pendidikan yang selaras dengan penguatan iman dan nilai keagamaan. Wamenag menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen mengikuti perkembangan teknologi demi kemajuan pendidikan, tanpa mengesampingkan nilai-nilai dasar. Menurutnya, pembaruan justru harus menjadi sarana untuk memperkuat tujuan pendidikan nasional.

“Pembaruan bukan berarti kehilangan nilai, tetapi justru memperkuat tujuan,” tambahnya.

Dalam sesi tanya jawab, Wamenag menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi AI dapat diarahkan secara positif melalui berbagai program Kementerian Agama, seperti penguatan moderasi beragama dan program penyuluhan di Kantor Urusan Agama (KUA).

Program tersebut harus mendorong pemanfaatan teknologi, termasuk AI, dengan sasaran utama Generasi Z, agar teknologi digunakan secara bijak, beretika, dan dilandasi iman yang kuat.

“Secanggih apa pun AI, itu tetap buatan manusia. Manusia hidup berdampingan dengan teknologi, namun nilai dan iman harus tetap menjadi fondasi,” pungkasnya

Pada kesempatan yang sama, Rektor UMS Harun Joko Prayitno menyampaikan apresiasi atas kehadiran Wamenag beserta rombongan. Ia menilai kehadiran Wamenag memberikan kontribusi penting dalam penguatan wawasan keilmuan dan nilai keagamaan bagi civitas akademika UMS.

“Kami berharap ilmu dan wawasan yang disampaikan Bapak Wamenag dapat ditransfer kepada mahasiswa UMS, sehingga mampu membentuk mahasiswa UMS yang mendunia sekaligus berakhlak,” ujar Harun.

Konferensi internasional ICIMS 2026 mengangkat tema “The Religious Ethics in Times of Artificial Intelligence” dan merupakan penyelenggaraan tahun ke-6. Forum ini menghadirkan pembicara nasional dan internasional untuk mendiskusikan Islam, Muhammadiyah, serta tantangan global di era digital.

sumber : https://kemenag.go.id/nasional/konferensi-internasional-ums-2026-wamenag-tegaskan-pentingnya-etika-agama-di-era-ai-IXY0F