Jakarta – Kementerian Pertanian mencatat penurunan harga sejumlah jenis pakan ternak di tingkat produsen pada periode Februari hingga awal Maret 2026. Penurunan harga ini dinilai berpotensi meningkatkan efisiensi biaya produksi peternak, mengingat pakan menyumbang sekitar 60–70 persen dari total biaya usaha pada sektor peternakan unggas.
Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan
(SPORA) Direktorat Pakan Kementerian Pertanian, tren penurunan terjadi
pada berbagai jenis pakan yang digunakan peternak ayam pedaging maupun
petelur.
Pakan ayam pedaging (broiler) fase starter (BR1) tercatat turun
rata-rata Rp112 per kilogram dari 33 pabrik pakan dengan rataan harga
produsen sekitar Rp8.010 per kilogram. Selain itu, pakan broiler fase
pre starter (BR0) turun rata-rata Rp82 per kilogram dari 30 pabrik pakan
dengan rataan harga produsen sekitar Rp8.451 per kilogram.
Sementara itu, pakan broiler fase finisher (BR2) tercatat turun
rata-rata Rp89 per kilogram dari 31 pabrik pakan dengan rataan harga
produsen sekitar Rp7.967 per kilogram.
Penurunan harga juga terjadi pada pakan ayam petelur. Pakan layer
masa produksi (P3) tercatat turun rata-rata Rp86 per kilogram dari 32
pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp6.803 per kilogram.
Konsentrat layer masa produksi (KP3) juga turun rata-rata Rp74 per
kilogram dari 14 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar
Rp7.735 per kilogram.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian
Pertanian Agung Suganda mengatakan tren penurunan harga pakan ini
menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan usaha peternakan nasional.
Menurutnya, pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha
peternakan unggas sehingga setiap penurunan harga pakan akan berdampak
langsung terhadap efisiensi biaya produksi peternak.
“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak
karena dapat membantu menekan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih
efisien, maka usaha peternakan dapat berjalan lebih berkelanjutan dan
pada akhirnya turut menjaga stabilitas harga produk seperti ayam dan
telur di tingkat konsumen,” kata Agung di Kantor Kementan, Jakarta,
Kamis (5/3/2026).
Meski demikian, Agung mencatat penurunan harga pakan saat ini baru
dilakukan oleh sebagian pabrik pakan. Dari sekitar 87 pabrik pakan
unggas yang beroperasi di Indonesia, sekitar 33 pabrik atau sekitar 38
persen telah melakukan penyesuaian harga.
“Sesuai arahan Menteri Pertanian, kami terus melakukan pemantauan
harga melalui sistem SPORA serta menjalin komunikasi dengan industri
pakan. Penyesuaian harga ini merupakan langkah positif yang diharapkan
dapat membantu meningkatkan efisiensi biaya produksi peternak,” ujarnya.
Kementerian Pertanian juga mendorong pabrik pakan lainnya untuk
mengikuti langkah penyesuaian harga agar manfaat efisiensi biaya
produksi dapat dirasakan lebih luas oleh peternak di berbagai daerah.
Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Desianto Budi Utomo
mengatakan industri pakan terus melakukan berbagai langkah efisiensi
agar harga pakan semakin kompetitif.
“Industri pakan terus melakukan penyesuaian agar harga pakan dapat
lebih kompetitif. Kami juga berkoordinasi dengan pemerintah untuk
memastikan ketersediaan bahan baku pakan dengan harga yang efisien
sehingga dapat mendukung keberlanjutan usaha peternakan nasional,” kata
Desianto.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan
pemerintah terus memperkuat produksi jagung nasional sebagai bahan baku
utama pakan ternak guna menjaga ketersediaan bahan baku pakan sekaligus
menekan biaya produksi peternak.
“Tidak ada impor jagung khusus pakan. Bahkan kita sudah ekspor.
Ekspor di Kalimantan Barat ke Malaysia. Juga kita ekspor ke Filipina.
Dari NTB, dari Gorontalo. Jadi ada tiga tempat, dan Bapak Presiden lepas
langsung,” kata Mentan Amran dalam Panen Raya Jagung di Kabupaten
Bekasi, Jawa Barat pada 8 Januari 2026.
Penguatan produksi jagung nasional tersebut menjadi bagian dari
strategi pemerintah untuk menjaga ketersediaan bahan baku pakan,
meningkatkan efisiensi biaya produksi peternakan, sekaligus memperkuat
ketahanan pangan nasional.






