Semarang (Kemenag) --- Direktorat Pendidikan Agama Islam Kemenag bersama pengelola Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) dan Universitas Dian Nuswantoro Semarang menggelar Pesantren Ramadan Rohis Indonesia 2026. Acara ini akan berlangsung empat hari, 4–7 Maret 2026 di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).
Mengusung tema “Ramadan Penuh Cinta”, Pesantren Ramadan Rohis Indonesia dirancang sebagai wahana penguatan iman, ilmu, dan karakter bagi pengurus Rohis serta pelajar dari berbagai jenjang pendidikan. Direktur Pendidikan Agama Islam, M. Munir, menegaskan bahwa Pesantren Ramadan ini tidak hanya menekankan dimensi ritual, tetapi juga pembentukan karakter dan kepedulian sosial.
“Ramadan adalah madrasah ruhani. Melalui Pesantren Ramadan Rohis Indonesia, kami ingin membantu pelajar memaksimalkan ibadah, mempererat ukhuwah, menumbuhkan kebiasaan baik, serta membangun karakter mulia sesuai teladan Rasulullah SAW,” ujarnya.

Kegiatan Terpadu dan Inklusif
Selama empat hari pelaksanaan, peserta akan mengikuti rangkaian kegiatan yang menyentuh aspek spiritual, intelektual, sosial, hingga lingkungan, di antaranya:
- Tadarus Al-Qur’an, Khatmil Qur’an, dan Sholat Tarawih berjamaah
- Kajian Islam Ramadan serta Kajian Kitab Kuning
- Materi Ekonomi Syariah untuk Pelajar bersama Bank Indonesia
- Pemberdayaan Wakaf Goes to School
- Sosialisasi Wakaf Goes to School di 17 sekolah di Kota Semarang
- Sharing Session Gen-Z dan Moderasi Beragama
- Penanaman Pohon (Ekoteologi) sebagai praktik nyata kepedulian terhadap lingkungan
- Manasik Haji untuk Pelajar
- Tabligh Akbar dengan pendekatan kultural melalui Daway (Dakwah Wayang)
- Grand Opening Final Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) MAJT Tingkat Nasional
Agenda lainnya adalah Khatmil Qur’an dan Doa Massal yang akan diikuti sekitar 6.000 murid SD hingga SMA/SMK se-Kota Semarang, sebagai simbol kebersamaan, spiritualitas kolektif, dan penguatan nilai-nilai Qur’ani di kalangan pelajar.
“Melalui Pesantren Ramadan Rohis Indonesia 2026, diharapkan lahir generasi Rohis yang beriman, berakhlak mulia, moderat, cinta lingkungan, serta memiliki kepedulian sosial yang kuat, selaras dengan semangat Ramadan sebagai bulan cinta, pembelajaran, dan transformasi diri menuju Indonesia yang lebih beradab,” harap Munir.








