Jakarta, Kemenkeu – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda
Agung menegaskan bahwa struktur APBN Indonesia dirancang cukup tangguh
untuk merespons gejolak global, termasuk eskalasi geopolitik yang
berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan memicu tekanan di pasar
keuangan. Hal tersebut disampaikan Wamenkeu dalam forum Indonesia
Economic Forum 2026 yang digelar di Jakarta, Senin (2/3). Menurutnya,
APBN didesain dengan tiga prinsip utama, yakni prudent, disiplin, dan
fleksibel.
“APBN kita itu memang didesain pertama, prinsip prudent. Kemudian
disiplin. Ketiga, fleksibel. Prudent dan disiplin, kita memastikan bahwa
defisit kita di bawah 3 persen. Debt to GDP ratio sekitar 40 persen.
Masih jauh lebih rendah dari di undang-undang 60 persen,” kata Wamenkeu.
Wamenkeu mengungkapkan bahwa aspek fleksibilitas memberikan ruang bagi
pemerintah untuk menggunakan cadangan fiskal dalam menghadapi gejolak
global, baik yang berdampak pada sisi belanja maupun penerimaan negara.
“Fleksibel artinya termasuk jika terjadi shock yang bersumber dari
global. Maka ada buffer, ada cadangan fiskal yang dapat digunakan untuk
memberikan bantalan terhadap gejolak-gejolak itu,” ujar Wamenkeu.
Terkait kenaikan harga minyak dan potensi pelemahan rupiah, Wamenkeu
mengatakan bahwa Kementerian Keuangan secara rutin melakukan stress test
terhadap berbagai skenario global. Dalam nota keuangan, pemerintah juga
mencantumkan analisis sensitivitas terhadap berbagai indikator makro.
Wamenkeu menjelaskan setiap kenaikan USD1 pada Indonesian Crude Price
(ICP) berpotensi menambah defisit sekitar Rp6,8 triliun. Sementara itu,
pelemahan Rp100 terhadap dolar AS berdampak sekitar Rp0,8 triliun
terhadap defisit, dan kenaikan yield 0,1 persen berpotensi menambah
beban sekitar Rp1,9 triliun. Meski demikian, hasil stress test pada
skenario yang dinilai cukup plausible menunjukkan defisit tetap
terjaga.
“Stress-test yang kami lakukan pada skenario yang cukup plausible itu
menunjukkan bahwa defisit masih terjaga di bawah 3 persen, debt over GDP
juga masih terjaga,” ujar Wamenkeu.
Dari sisi pembiayaan, Kementerian Keuangan juga terus melakukan
diversifikasi sumber pendanaan guna memperkuat ketahanan fiskal. Jika
sebelumnya pembiayaan global didominasi dolar AS, kini pemerintah
memperluas basis investor dan mata uang.
“Minggu lalu kami, Kemenkeu baru saja menerbitkan global bonds sejumlah
USD4,5 miliar equivalent tapi dalam mata uang Euro dan Renminbi. Dan itu
harganya masih sangat bagus, yield-nya masih sangat bagus. Untuk
Renminbi antara 2-3 persen dan untuk Euro itu 4-5 persen. Ini ukurannya
ini masih sangat bagus sekali untuk pasar global kita,” kata Wamenkeu.
Di sisi investasi, pemerintah telah memasukkan proyeksi investasi asing
dalam skenario pertumbuhan ekonomi. Selain itu, peran investasi domestik
kini juga diperkuat melalui entitas baru pemerintah, yakni Danantara.
“Danantara ini sekarang memiliki peran yang penting. Kalau dulu
investasi yang dilakukan oleh pemerintah akhirnya masuk di APBN,
sekarang kan ada di Danantara. Danantara sekarang part of macroeconomic
management dari Indonesia,” jelas Wamenkeu.
Wamenkeu mengatakan bahwa saat ini pemerintah lebih memfokuskan belanja
APBN pada konsumsi pemerintah dan penguatan kesejahteraan masyarakat,
khususnya kelompok menengah ke bawah. Sementara, pembiayaan investasi
semakin banyak dilakukan melalui Danantara serta dukungan investasi luar
negeri. Dengan berbagai instrumen tersebut, Wamenkeu optimistis
keseimbangan antara penerimaan dan belanja negara tetap dapat dijaga di
tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.








.jpg)