Jakarta, -- Pemerintah bergerak cepat membenahi tata kelola komoditas gula nasional yang selama ini menghadapi tekanan dari sisi hulu hingga hilir. Tak hanya soal rendahnya produktivitas, persoalan distribusi dan tata niaga yang tidak sehat juga menjadi sorotan serius. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan tiga strategi utama pemerintah yang dijalankan yakni, bongkar ratun, pengendalian impor melalui kebijakan Lartas, serta revitalisasi industri gula nasional.
Langkah ini disampaikan Mentan Amran usai mengikuti Rapat Terbatas
dan Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (8/4/2026),
sebagai bagian dari upaya besar pemerintah memperkuat ketahanan pangan
sekaligus melindungi petani tebu dalam negeri.
Di sektor hulu, pemerintah memulai dari persoalan paling mendasar,
yakni kondisi tanaman tebu yang sudah tidak produktif. Berdasarkan
evaluasi nasional, sebagian besar tanaman tebu saat ini telah melewati
usia optimal dan tidak lagi mampu menghasilkan secara maksimal.
“Kami sudah sampaikan bahwa, setelah kami mengevaluasi tahun 2025
atas arahan Bapak Presiden, kami mengecek tebu-tebu kita seluruh
Indonesia, 70 sampai 80 persen itu tidak layak. Sehingga kita lakukan
bongkar ratun. Dan Bapak Presiden meminta kami untuk membantu
petani-petani tebu Indonesia. Kami langsung anggarkan Rp1,7 triliun di
2025, kita lanjutkan di 2026,” ujar Mentan Amran.
Dari total sekitar 500 ribu hektare lahan tebu nasional, lebih dari
300 ribu hektare merupakan tanaman lama yang menjadi penghambat utama
peningkatan produksi.
“Rencana kami bongkar ratun karena 300 ribu lebih dari 500 ribu
hektare itu tanaman lama. Tidak mungkin produksinya bisa naik. Sehingga
petani tidak bisa untung,” jelasnya.
Sebagai bentuk keberpihakan kepada petani, pemerintah memberikan
subsidi untuk program bongkar ratun dengan target 100 ribu hektare per
tahun selama tiga tahun ke depan.
“Langkah pemerintah adalah kita bantu bongkar ratun, dan itu
subsidi pemerintah. Ratun 100 ribu per tahun. Insya Allah 3 tahun
selesai. Itu langkah pemerintah,” tegasnya.
Namun pembenahan tidak berhenti di hulu. Di sektor hilir,
pemerintah juga menyoroti anomali tata niaga gula yang dinilai merugikan
petani dan industri dalam negeri. Di tengah kebutuhan impor, gula lokal
justru sulit terserap pasar.
“Yang kedua, yang juga seperti anomali. Satu sisi kita impor gula,
tetapi anehnya gula kita tidak bisa laku. Molase kita tidak bisa laku.
Dulu harganya molase itu Rp1.900 per liter, Maret 2026 turun sampai
Rp1.000. Ada apa? Kemudian gula tidak bisa laku,” ungkap Mentan Amran.
Kondisi ini bahkan berdampak langsung terhadap kinerja BUMN sektor gula.
“Bahkan PTPN terpukul, rugi tadi disampaikan itu Rp600 miliar. Jadi
harusnya semua gula PTPN laku. Tetapi tidak bisa laku. Kenapa? Ada
rembesan gula rafinasi,” tegasnya.
Pemerintah pun menemukan adanya praktik penyimpangan distribusi
gula rafinasi yang masuk ke pasar konsumsi sebagai gula putih, yang
seharusnya diperuntukkan bagi industri.
“Rembesannya kita tangkap di Jawa Tengah, kemudian Kalimantan
Selatan, dan beberapa daerah lainnya, rembesan gula rafinasi tetapi
dikategorikan dimasukkan ke pasar sebagai white sugar, gula konsumsi.
Ini membahayakan,” katanya.
Sebagai respons tegas, Presiden telah menginstruksikan penerapan
kebijakan Larangan dan Pembatasan (Lartas) untuk mengendalikan arus gula
dan menutup celah penyimpangan tersebut.
“Sehingga solusinya adalah Bapak Presiden perintahkan Lartas —
larangan terbatas. Dan itu sudah terbit. Jadi sudah ada dua solusi ini.
Karena ini satu kesatuan. Kita harus memberi batasan,” ujar Mentan.
Mentan Amran juga menekankan pentingnya keterlibatan BUMN dalam
pengendalian distribusi agar sistem pengawasan berjalan lebih efektif.
“Dan kami minta agar BUMN ikut di dalamnya. Supaya bisa dikontrol,” imbuhnya.
Sebagai strategi ketiga, pemerintah menyiapkan revitalisasi
besar-besaran industri gula nasional untuk memperkuat ekosistem dari
hulu hingga hilir secara berkelanjutan.
“Terakhir adalah kita akan melakukan revitalisasi besar-besaran ke
depan. Jadi itu solusi. Dan kita ini tidak bisa sendirian. Ini
perkolaborasi,” ujarnya.
Dengan kombinasi tiga strategi tersebut, Mentan Amran optimistis
Indonesia dapat segera mencapai swasembada gula konsumsi dalam waktu
dekat.
“Kita perbaiki tanaman. Itu mutlak. Tiga tahun berturut-turut. Dan
kalau kita lakukan, insya Allah white sugar, swasembada paling lambat
tahun depan,” tegasnya.
Saat ini, produksi gula nasional berada di kisaran 2,6–2,7 juta
ton, sementara kebutuhan gula konsumsi sekitar 2,8–2,9 juta ton.
Artinya, selisih yang harus dikejar relatif kecil dan semakin mendekati
titik aman.
“Berarti sisa 100–200 ribu ton lagi. Insya Allah paling lambat tahun depan kita selesaikan,” ujarnya optimistis.
Lebih luas, kebutuhan gula nasional saat ini mencapai 6,7 juta ton,
terdiri dari 2,8 juta ton gula konsumsi dan 3,9 juta ton gula industri.
Dengan produksi gula kristal putih sekitar 2,67 juta ton dari luas
areal 563 ribu hektare, masih dibutuhkan tambahan signifikan untuk
mencapai kemandirian penuh.
Meski demikian, Mentan mengingatkan bahwa keberhasilan swasembada
tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga oleh tata kelola yang
adil dan berpihak pada petani.
“Aneh banget kan? Tolong deh, kalau ada yang main-main, jangan permainkan nasib orang kecil,” tegasnya.
Mentan menegaskan bahwa capaian sektor pangan nasional saat ini
merupakan hasil kerja keras bersama, termasuk keberhasilan menjaga stok
beras nasional pada level tertinggi sepanjang sejarah.
“Pangan, setelah kita berjibaku satu tahun, swasembada pangan jadi
kenyataan hari ini. Stok hari ini per tadi pagi 4,6 juta ton, tertinggi
selama merdeka. Biasanya 1,5 juta ton di bulan April. Sekarang gudang
tidak muat,” pungkasnya.

