ANALISIS GEOLOGI KEJADIAN GEMPA BUMI DI PERAIRAN LAUT MALUKU TANGGAL 2 APRIL 2026
Informasi gempa bumi
Gempa bumi terjadi pada hari Kamis, 2 April 2026, pukul 05:48:16 WIB. Berdasarkan informasi terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 1,27°LU - 126,26° BT, berjarak 127 km sebelah tenggara Bitung, dengan magnitudo M 7,2 pada kedalaman 61 km.
The United States of Geological Survey (USGS) Amerika Serikat, melaporkan bahwa pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,117°LU - 126,297°BT, magnitudo M 7,4 dengan kedalaman 35 km. Sedangkan Geoforschung Potsdam GFZ Jerman, melaporkan pusat gempa bumi pada koordinat 1,25°LU - 126,29°BT, magnitudo M 7,4 dengan kedalaman 34 km.
Hingga laporan ini dibuat, sedikitnya 40 gempa bumi susulan dengan magnitudo M 3,2 - M 5,8 dilaporkan masih mengguncang wilayah Kepulauan Halmahera dan sekitarnya, yang diperkirakan masih akan terus bertambah (Tabel 1).
Berdasarkan parameter sumber gempa bumi baik dari BMKG, USGS maupun GFZ, gempa bumi ini memiliki mekanisme sesar naik, berarah relatif barat daya – timur laut dengan kemiringan ke arah timur. Sumber gempa bumi diperkirakan berasal dari aktivitas subduksi ganda Punggungan Mayu di Laut Maluku.
Kondisi geologi dan penyebab gempa bumi
Laut Maluku dan sekitarnya dipengaruhi oleh sistem subduksi ganda yang menunjam ke kedua arah yang berlawanan, yaitu ke arah barat ke Kepulauan Sangihe dan ke arah timur ke Kepulauan Halmahera. Kondisi ini membuat perairan ini memiliki kondisi geologi yang rumit dan intensitas kegempaan yang sangat tinggi. Konsekuensi pergerakan lempeng tektonik ke kedua arah tersebut, telah menghasilkan proses pelelehan sebagian lempeng yang menunjam, sehingga memunculkan rangkaian gunung api di kedua sisi, yaitu di Kepulauan Sangihe dan di Kepulauan Halmahera. Gempa bumi yang terjadi pada tanggal 2 April 2026 tersebut, berasosiasi dengan aktivitas zona subduksi ganda ini, yang seringkali disebut sebagai Zona Subduksi Ganda Punggungan Mayu.
Berdasarkan kondisi geologinya, wilayah terdampak tersusun oleh litologi batuan gunung api berumur Tersier hingga Kuarter, batuan sedimen dan karbonat berumur Tersier hingga Kuarter serta endapan alluvium berumur Holosen (Gambar 1). Batuan yang telah
mengalami pelapukan dan sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan gempa bumi. Kekerasan batuan permukaan dipengaruhi oleh umur dan jenis batuan. Batuan yang berumur lebih muda atau yang telah mengalami pelapukan mempunyai kekerasan lebih rendah begitu juga sebaliknya
Wilayah terdekat dengan pusat gempa bumi diklasifikasikan ke dalam kelas tanah keras (C), tanah sedang (D), hingga lunak (E) (Gambar 2). Wilayah terdampak memiliki morfologi bervariasi dari dataran, berombak, bergelombang, perbukitan hingga pegunungan (Gambar 3).
Dampak gempa bumi
Guncangan gempa bumi ini dirasakan di beberapa daerah terdampak, diantaranya; Ternate dengan intensitas V-VI Skala MMI, Ibu V Skala MMI, Manado IV – V Skala MMI, dan Gorontalo, Bone, Bolango, Gorontalo Utara III Skala MMI. Gempa bumi ini terekam oleh Pos Pengamatan Gunung Api PVMBG di Tangkoko dan Mahawu degan intensitas IV-V Skala MMI, Karangetang pada III-IV Skala MMI, serta Dukono dan Ambang dengan intensitas III Skala MMI.
Berdasarkan peta Kawasan rawan bencana gempa bumi, wilayah terdampak termasuk ke dalam Kawasan rawan bencana gempa bumi rendah hingga tinggi (Gambar 4).
Beberapa kerusakan pada bangunan diantaranya Gedung KONI yang ambruk di Sario, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara, kerusakan pada bangunan Gereja Kalvari di Kelurahan Lelewi dan gereja GPM Mayau, di Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara (Gambar 5). Kerusakan juga dialami oleh banyak rumah warga (Gambar 6), dan masih dilakukan inventarisasi lebih lanjut oleh BPBD setempat.
Gempa bumi ini selain menimbulkan kerusakan pada bangunan, juga telah menimbulkan korban jiwa satu orang meninggal dunia akibat tertimpa runtuhan bangunan dan satu orang terluka saat sedang menyelamatkan diri. Warga sempat diungsikan ke dataran tinggi untuk mengantisipasi terjadinya tsunami.
Beberapa stasiun pencatat pasang surut Badan Informasi Geospasial merekam gelombang tsunami dengan ketinggian 20 cm hingga 80 cm.
Kesimpulan dan Rekomendasi
- Berdasarkan laporan dampak kerusakan yang dijumpai di Pulau Ternate dan daerah Sario, Kota Manado, yang keduanya berada pada kelas tanah lunak (Kelas E), terutama daerah Sario berada pada lahan reklamasi yang memiliki sifat tanah terurai, lepas dan tidak kompak, sehingga jika terkena guncangan gempa bumi akan mengalami penguatan (amplifikasi).
- Gempa bumi ini berpotensi menimbulkan bahaya ikutan seperti retakan pada permukaan tanah, likuefaksi dan gerakan tanah, sehingga perlu dilakukan penyelidikan lebih lanjut.
- Ketinggian gelombang tsunami yang terbaca di beberapa stasiun pencatat pasang surut berkisar antara 20 – 80 cm, diharapkan ketinggian tsunami tersebut tidak menimbulkan kerusakan yang signifikan di wilayah terdampak.
- Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat, dan tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
- Masyarakat diimbau untuk menjauhi pantai untuk sementara waktu, mengantisipasi adanya tsunami, hingga peringatan tsunami dicabut atau menunggu informasi lebih lanjut dari BPBD setempat.
- Masyarakat diharapkan melakukan pemeriksaan mandiri terkait kondisi bangunan setelah terjadi gempa bumi.
- Masyarakat diimbau untuk mengamati dan mematuhi rambu evakuasi.
- Masyarakat diimbau untuk menjauhi daerah tebing yang berpotensi terjadi gerakan tanah.
- Bangunan di daerah rawan gempa bumi diharapkan dapat mengikuti kaidah bangunan tahan gempa, guna menghindari risiko kerusakan, serta dilengkapi dengan jalur evakuasi.



.jpg)

