Jakarta, -- Kinerja sektor pertanian Indonesia terus menunjukkan tren yang semakin kuat dan menyeluruh. Tidak hanya ditandai dengan lonjakan ekspor dan penurunan impor, berbagai indikator strategis lainnya juga mengonfirmasi bahwa transformasi pertanian nasional berjalan efektif dan berdampak nyata.
Berdasarkan data, nilai ekspor sektor pertanian (segar dan olahan)
mengalami kenaikan sebesar Rp166,71 triliun atau tumbuh 28,26 persen,
sementara impor turun sebesar Rp41,68 triliun atau terkoreksi 9,66
persen. Kinerja ini memperlihatkan bahwa sektor pertanian Indonesia
semakin kompetitif di pasar global sekaligus mampu mengurangi
ketergantungan terhadap produk luar negeri.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa
capaian tersebut merupakan hasil dari strategi besar yang terintegrasi
dari hulu hingga hilir.
“Ini bukan kerja satu program, tapi orkestrasi besar. Produksi kita
naik, ekspor meningkat tajam, impor kita tekan. Artinya, fondasi
pertanian kita semakin kuat dan semakin mandiri,” ujar Mentan Amran,
Jumat (17/4/2026)
Penguatan tersebut semakin terlihat dari peningkatan signifikan
pendapatan sektor pertanian. Total kenaikan pendapatan mencapai Rp437,25
triliun yang berasal dari peningkatan produksi padi, jagung, komoditas
non-pangan, serta kontribusi ekspor. Bahkan, dari sisi efisiensi devisa,
Indonesia berhasil menghemat impor hingga Rp34 triliun.
Tidak hanya itu, keberhasilan ini juga tercermin dari lonjakan
produksi nasional. Produksi beras Indonesia tercatat meningkat 4,07 juta
ton atau tumbuh 13,29 persen, yang mengantarkan Indonesia mencapai
swasembada pangan dalam waktu hanya satu tahun. Capaian ini sekaligus
memperkuat posisi Indonesia di kawasan ASEAN sebagai produsen beras
terbesar.
Di sisi cadangan pangan, posisi Cadangan Beras Pemerintah (CBP)
mencapai 4,8 juta ton pada April 2026, dengan proyeksi akhir bulan
menembus angka 5 juta ton, ini tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi ini
menjadi bantalan strategis dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga
pangan nasional.
“Cadangan kita tertinggi sepanjang sejarah. Ini bukan hanya soal
angka, tapi soal rasa aman bagi rakyat Indonesia. 4,8 juta ton, akhir
April 5 juta ton ini sudah terlihat. Kita pastikan stok cukup, harga
stabil, dan petani tetap untung,” tegas Mentan Amran.
Kinerja positif juga terlihat dari sisi kesejahteraan petani. Nilai
Tukar Petani (NTP) mencapai 125,35, tertinggi dalam 34 tahun terakhir,
menandakan daya beli dan pendapatan petani meningkat signifikan.
Sementara itu, sektor pertanian juga mencatat pertumbuhan ekonomi
yang impresif. PDB sektor pertanian pada 2025 tumbuh 5,74 persen,
tertinggi dalam 25 tahun terakhir, menjadikan sektor ini sebagai salah
satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Penguatan lainnya datang dari sisi global, di mana harga beras
dunia justru mengalami penurunan hingga 44,2 persen. Namun di tengah
tekanan tersebut, Indonesia mampu bertahan bahkan menghentikan impor
beras, menunjukkan ketahanan sistem produksi nasional yang semakin
kuat.
Selain itu, transformasi menuju pertanian modern juga memberikan
dampak signifikan. Efisiensi biaya produksi mampu ditekan hingga 50
persen, sementara produktivitas meningkat hingga 100 persen. Hal ini
didorong oleh penggunaan benih unggul, mekanisasi (alsintan), serta
program pompanisasi dan optimalisasi lahan secara masif.
Di sisi hilirisasi, pengembangan komoditas strategis seperti
kelapa, kakao, kopi, dan sawit terus diperkuat. Program ini tidak hanya
meningkatkan nilai tambah produk, tetapi juga membuka potensi investasi
hingga ratusan triliun rupiah serta menyerap jutaan tenaga kerja.
Mentan Amran menegaskan bahwa keberhasilan ini juga ditopang oleh
reformasi struktural yang masif, termasuk deregulasi ratusan kebijakan
serta pemberantasan mafia pangan yang selama ini menghambat distribusi
dan produksi.
“Kita bereskan dari hulu sampai hilir. Regulasi kita sederhanakan,
mafia kita tindak, distribusi kita perbaiki. Hasilnya sekarang nyata,
pertanian kita tumbuh, petani sejahtera, dan Indonesia semakin kuat,”
tegasnya.
Dengan capaian yang semakin komprehensif ini, sektor pertanian
Indonesia tidak hanya menjadi penopang ketahanan pangan nasional, tetapi
juga motor penggerak ekonomi, pencipta lapangan kerja, serta sumber
devisa negara.
Ke depan, Kementerian Pertanian optimistis tren positif ini akan
terus berlanjut, menjadikan Indonesia swasembada yang bekelanjutan,
mengusung cita-cita sebagai lumbung pangan dunia sekaligus kekuatan baru
dalam peta perdagangan pertanian global.

%20(5).jpg)
