Magelang — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mendampingi Presiden Prabowo Subianto melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Kompleks Gudang Perum Bulog Danurejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (18/4).
Wamentan Sudaryono atau yang akrab disapa Mas Dar menjelaskan,
sidak ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan Cadangan Beras
Pemerintah (CBP) tetap dalam kondisi aman serta siap disalurkan guna
menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan nasional.
"Bapak Presiden tidak hanya menerima laporan di atas kertas, tetapi
ingin melihat secara langsung stok beras yang tersimpan di gudang. Hal
ini dilakukan guna memastikan bahwa cadangan pangan benar-benar
tersedia, aman, dan siap disalurkan kepada masyarakat apabila
dibutuhkan," Ungkap Wamentan Sudaryono.
Ia menegaskan bahwa langkah tersebut menunjukkan keseriusan
pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan, terutama di tengah dinamika
global yang saat ini diwarnai krisis energi dan ketidakpastian di
berbagai kawasan dunia.
"Dalam kondisi tersebut, pemerintah dalam hal ini Bapak Presiden
ingin memastikan bahwa Indonesia tetap berada dalam posisi yang kuat,
baik dari sisi pasokan maupun stabilitas harga pangan," Ungkapnya
Dalam peninjauan tersebut, rombongan melihat langsung kondisi
gudang yang memiliki kapasitas 7.000 ton dan saat ini dalam kondisi
terisi penuh. Hal ini mencerminkan kesiapan stok untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat, khususnya di wilayah Jawa Tengah.
"Jadi kunjungannya ini bersifat mendadak, jadi tidak ada
pemberitahuan, langsung mampir, sehingga ingin mengetahui sebetulnya
atau catatan sebetulnya seperti apa. Bahkan memang pimpinan Bulog
sengaja tidak kita beritahu untuk kita pengen tahu sebenar-benarnya
seperti apa dilapangan. Dan ternyata memang membanggakan, jadi stok
cadangan beras pemerintah kita memang tinggi, gudang Bulog ini
dimana-mana penuh," Ungkapnya.
"Kemarin saya juga sudah sidak di gudang Bulog tempat lain,
termasuk Pak Mentan (Menteri Pertanian) sidak di Makassar, di Bone, dan
lain-lain itu penuh semua. Itu menjadi catatannya," Tambah Wamentan
Sudaryono menjelaskan.
Lebih lanjut Wamentan Sudaryono menuturkan, dari sisi produksi,
kinerja nasional menunjukkan tren yang sangat positif. Produksi beras
nasional pada 2025 tercatat meningkat sebesar 4,07 juta ton atau 13,29
persen, didukung oleh peningkatan luas panen dan berbagai kebijakan
penguatan sektor pertanian.
"Cadangan Beras Pemerintah (CBP) hingga April 2026 mencapai sekitar
4,8 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah, dan terus bergerak menuju 5
juta ton. Capaian ini menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas
pasokan dan harga di dalam negeri," Ungkap Wamentan Sudaryono yang juga
merupakan anak seorang petani asal Grobogan, Jawa Tengah itu.
Selain itu, Wamentan Sudaryono juga menjelaskan, ketahanan pangan
nasional tidak hanya ditopang oleh stok pemerintah, tetapi juga oleh
ketersediaan beras di masyarakat serta potensi produksi yang masih akan
berlangsung hingga akhir tahun.
"Beras yang beredar di masyarakat diperkirakan mencapai hampir 12
juta ton, serta potensi panen dalam waktu dekat sekitar 12 juta ton.
Secara total, kekuatan stok beras nasional mencapai sekitar 28 juta ton
setara dengan ketahanan pangan hingga 11 bulan ke depan," Imbuhnya.
Selain memastikan ketersediaan stok, pemerintah juga terus
memperkuat peran Bulog dalam menjaga keseimbangan harga, baik di tingkat
petani maupun konsumen.
Sejalan dengan itu, pemerintah juga mengoptimalkan instrumen
serapan gabah sebagai langkah menjaga stabilitas harga di tingkat petani
sekaligus memperkuat cadangan nasional.
"Kami optimistis target serapan gabah setara beras pada tahun 2026
sebesar 4 juta ton dapat tercapai seiring meningkatnya produksi padi
nasional. Target ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 3
juta ton," Tuturnya.
Wamentan Sudaryono yang juga merupakan Ketua Umum Himpunan
Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu menegaskan, bahwa Bulog memiliki
peran strategis sebagai penyangga harga dalam sistem pangan nasional.
“Penjamin harga itu Bulog. Ketika harga jatuh, negara hadir melalui
Bulog dengan membeli gabah dari petani dengan harga yang baik sehingga
kesejahteraan petani terjamin,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Bulog menyerap sekitar 10 hingga 15 persen dari
total produksi beras nasional. Dengan produksi sekitar 34,5 juta ton,
cadangan yang dikelola Bulog berada di kisaran 3,6 hingga 3,7 juta ton
sebagai buffer stock.
Menurutnya, intervensi tersebut penting terutama saat panen raya,
ketika suplai melimpah dan berpotensi menekan harga di tingkat petani.
Sebaliknya, pada saat produksi menurun dan harga cenderung
meningkat, cadangan beras akan dikeluarkan ke pasar untuk menjaga harga
tetap stabil dan terjangkau.
“Jadi harga di tingkat petani dijaga melalui HPP, dan di tingkat
konsumen dijaga melalui HET agar keduanya tidak dirugikan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Wamentan Sudaryono menambahkan bahwa penguatan peran
Bulog juga didukung melalui kebijakan pemerintah, termasuk Instruksi
Presiden terkait percepatan serapan gabah nasional.
Ia menyebut, target serapan sebesar 3 juta ton pada tahun 2025 didukung alokasi anggaran sekitar Rp16,5 triliun.
“Untuk mengelola pangan negara, dibutuhkan aturan yang kuat dan
dukungan anggaran yang memadai. Karena itu, peran Bulog terus
diperkuat,” pungkasnya.



