Jakarta (Kemenag) --- Menteri Agama Nasaruddin Umar menyoroti keberhasilan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) serta pendekatan ekoteologi dalam sistem pendidikan nasional. Hal ini disuarakan Menteri Agama dalam Dialog Hari Pendidikan Nasional di Aula Kementerian PPPA, Jakarta Pusat, Kamis (7/5/2026).
Menteri Agama melihat KBC kini bukan lagi sekadar gagasan utopis di atas kertas. Selama satu tahun masa uji coba, kurikulum ini terbukti membuahkan hasil yang sangat mengesankan dalam ranah praktik di lapangan. KBC dinilai sukses menciptakan hegemoni dan ekosistem pendidikan sosial yang tangguh, di mana ruang kelas benar-benar bertransformasi menjadi taman belajar yang membahagiakan dan memerdekakan jiwa anak-anak.
"Kurikulum Berbasis Cinta ini pada hakikatnya adalah instrumen untuk mengenalkan Panca Cinta kepada anak. Kita menumbuhkan kesadaran mereka tentang cinta kepada Allah dan Rasul, cinta kepada diri dan sesama, cinta kepada alam lingkungan, cinta kepada ilmu, serta cinta kepada tanah air. Inilah fondasi utamanya," urai Menag menjabarkan kelima pilar pedoman hidup paripurna tersebut.
Menag memaparkan bahwa Kementerian Agama telah menggelar pelatihan daring KBC berskala nasional yang menjaring animo luar biasa, diikuti tak kurang dari 305 ribu peserta. Peserta pelatihan ini tidak hanya didominasi oleh tenaga pendidik dan guru, tetapi juga merangkul antusiasme elemen masyarakat umum yang peduli pada perbaikan karakter anak bangsa.
Untuk menyempurnakan ekosistem penuh cinta tersebut, Kemenag turut mengintegrasikan konsep Ekoteologi yang bertugas menumbuhkan Panca Cinta melalui penciptaan fasilitas fisik yang selaras dengan alam. Bagi Menag, alam, manusia, dan Tuhan adalah entitas yang terikat erat; sehingga ajaran falsafah Tat Twam Asi, sebuah ajaran akan kesadaran untuk memuliakan sesama ciptaan Tuhan, yang menjadi landasan berempati agar anak-anak saling mengasihi.
Pada akhirnya, KBC dan Ekoteologi adalah rahim kebudayaan yang disiapkan secara serius oleh Kementerian Agama. Keduanya hadir untuk memastikan lahirnya generasi unggul yang tidak hanya cemerlang otaknya, tetapi juga memiliki masa kecil yang dipenuhi oleh ruang-ruang kebahagiaan yang pantas mereka dapatkan.




