Jakarta (Kemenag) --- Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong Pondok Pesantren membuka Ma’had Aly. Menurutnya, pesantren yang memiliki tradisi keilmuan kuat perlu naik kelas agar tidak hanya berhenti pada pendidikan menengah, tetapi juga mampu menjadi pusat lahirnya ulama, ilmuwan, dan generasi berakhlak.
Dorongan itu disampaikan Menag saat memberikan arahan di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Pesantren yang didirikan oleh KH Said Aqil Siradj di Jagakarsa Jakarta Selatan. “Alangkah bagusnya kalau pondok pesantren seperti kita di sini sesegera mungkin membuka Ma’had Aly,” ujarnya, Sabtu (23/5/2026).
Menag menilai, pembukaan Ma’had Aly menjadi penting agar potensi santri tidak terputus setelah menamatkan jenjang aliyah. Pesantren, kata dia, perlu menyediakan ruang lanjutan bagi santri yang ingin memperdalam ilmu dalam ekosistem pendidikan yang tetap berakar pada nilai kepesantrenan.
Namun, Nasaruddin menegaskan, Ma’had Aly tidak harus dipahami secara sempit hanya sebagai tempat pendalaman ilmu-ilmu keislaman klasik. Menurutnya, pesantren juga dapat mengembangkan Ma’had Aly dengan kekhasan tertentu, termasuk bidang keilmuan yang bersentuhan dengan sains.
“Ma’had Aly juga bukan larangan untuk membuka sesuatu yang sifatnya sains,” katanya.
Pernyataan itu menjadi salah satu penekanan penting Menag. Ia ingin pesantren keluar dari cara pandang yang memisahkan secara kaku antara ilmu agama dan ilmu umum. Dalam pandangannya, pesantren justru memiliki peluang besar untuk mempertemukan kedalaman spiritual, kekuatan akhlak, dan tradisi riset dalam satu ekosistem pendidikan.
Menag mengatakan, sejarah kejayaan pendidikan Islam menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tumbuh ketika agama, akhlak, dan riset berjalan bersama. Karena itu, pesantren masa kini tidak boleh hanya menjadi ruang pewarisan tradisi, tetapi juga harus menjadi tempat lahirnya inovasi.
"Saya ingin mengingatkan anak-anakku, para santri, bahwa prestasi dunia Islam pada masa lampau bukanlah prestasi yang kecil. Pada abad pertengahan, ketika sebagian Eropa masih berada dalam kondisi yang sangat sederhana, dunia Islam telah mencapai kemajuan besar dalam ilmu pengetahuan, teknologi, kedokteran, matematika, optik, dan berbagai bidang lainnya," paparnya.
"Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa umat Islam kemudian mengalami kemunduran. Apa penyebabnya? Dari berbagai catatan sejarah, kita bisa melihat bahwa kemunduran itu berkaitan dengan dua hal: menurunnya tradisi keilmuan dan merosotnya akhlak," sambungnya.
Ketika penelitian, penemuan, dan kreativitas ilmiah melemah, kata Menag, peradaban ikut melemah. Ketika akhlak merosot, konflik internal meningkat. Bahkan di antara sesama umat Islam terjadi pertentangan, saling menghujat, dan perebutan kekuasaan.
“Jika kita ingin maju kembali, ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama, tingkatkan penelitian dan pengembangan ilmu. Kedua, perkuat akhlakul karimah,” ujar Menag.
Menurutnya, dua hal itu merupakan fondasi penting bagi kebangkitan pendidikan Islam. Riset dan pengembangan ilmu akan membuat pesantren memiliki daya saing, sementara akhlak memastikan kemajuan itu tetap berada dalam koridor kemaslahatan
Di hadapan para santri, Menag mengapresiasi capaian Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah yang telah menunjukkan potensi besar. Ia menyebut santri pesantren tidak hanya kuat dalam kajian keagamaan, tetapi juga memiliki kemampuan dalam bidang bahasa Arab, Bahasa Inggris, tafsir, dan sains.
Potensi tersebut, menurutnya, harus dirawat melalui kelembagaan yang lebih kuat. Pembukaan Ma’had Aly dapat menjadi langkah strategis agar pesantren memiliki kesinambungan pendidikan dari tingkat dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi.
Dalam kesempatan tersebut, Menag juga menyinggung posisi madrasah dan pesantren yang kini semakin diperhitungkan dalam pendidikan nasional. Ia menyebut banyak madrasah telah membuktikan diri melalui prestasi akademik, pembinaan karakter, dan keberhasilan alumninya menembus perguruan tinggi ternama.
Bagi Menag, salah satu kekuatan pesantren terletak pada sistem pendidikan berasrama. Melalui sistem boarding, santri tidak hanya menerima pelajaran di ruang kelas, tetapi juga dibina dalam kehidupan sehari-hari. Nilai disiplin, tanggung jawab, kemandirian, dan kebersamaan tumbuh dalam lingkungan yang lebih utuh.
Model pendidikan seperti itu, menurutnya, penting terutama bagi peserta didik usia remaja. Pada fase tersebut, anak-anak membutuhkan lingkungan yang mampu menjaga kesinambungan nilai antara pembelajaran, pembiasaan, dan pergaulan.
Karena itu, Menag berharap Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah dapat mengambil peran lebih besar dalam pengembangan pendidikan Islam Indonesia. Dengan membuka Ma’had Aly, pesantren diharapkan tidak hanya mencetak lulusan yang alim, tetapi juga melahirkan generasi yang mampu menjawab tantangan ilmu pengetahuan dan perubahan zaman.
“Sekolah-sekolah seperti ini perlu kita kembangkan di masa depan. Sudah saatnya sekolah-sekolah agama bangkit,” kata Menag.
Menag menyampaikan apresiasi kepada Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah. Ia berharap pesantren tersebut terus mencetak prestasi berkelanjutan dan menjadi bagian dari lahirnya generasi santri yang cerdas, berakhlak, serta siap memberi kontribusi bagi bangsa.
Sumber: https://kemenag.go.id/nasional/pondok-pesantren-didorong-membuka-mahad-aly-kenapa-Ya1Q9




