Jakarta, Kemenkeu – Di tengah ketidakpastian ekonomi global
akibat perang tarif hingga kondisi geopolitik, perekomian Indonesia
terbukti memiliki daya tahan yang cukup kuat untuk meredam rambatan
risiko global tersebut. Ketangguhan ini didukung oleh bauran energi
nasional yang berjalan baik serta eksekusi strategi fiskal yang pruden.
Hal ini disampaikan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung dalam
Kuliah Umum di Institut Pertanian Bogor pada Jumat (29/05).
“Kita menghasilkan minyak, gas, biodiesel, bioenergi, batubara. Jadi
energi mix kita lebih baik sehingga kita masih mempunyai daya tahan yang
baik terhadap harga minyak yang meroket di global,” ungkap Wamenkeu
Juda.
Sementara itu dari sisi fiskal, Wamenkeu memaparkan tiga strategi yang
secara konsisten diterapkan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan
kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga disiplin fiskal dan
stabilitas makroekonomi.
Pertama, pengendalian belanja negara. Pemerintah berkomitmen menjaga
daya beli masyarakat dan menjaga inflasi dengan mempertahankan harga BBM
bersubsidi melalui kenaikan pengeluaran subsidi. Program Makan Bergizi
Gratis juga diefisiensikan dengan pengurangan di Hari Sabtu. Di saat
yang sama, belanja negara difokuskan pada sektor produktif untuk
mendorong pertumbuhan, memacu produksi, dan menciptakan lapangan kerja
baru.
“Itu dari sisi pengeluaran yang kita bisa melakukan pengendalian.
Istilahnya refocusing. Kita akan fokus pada pengeluaran yang mendorong
demand, yang mendorong supply, mendorong produksi, dan juga mendorong
menciptakan kata pekerjaan,” jelas Wamenkeu.
Strategi fiskal yang kedua melalui optimalisasi penerimaan negara.
Momentum kenaikan harga komoditas dimanfaatkan secara maksimal. Selain
itu, optimalisasi penerimaan pajak semakin diperkuat melalui
implementasi sistem Coretax.
Sementara itu, strategi fiskal yang ketiga dari sisi pembiayaan. Untuk
mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, strategi pembiayaan
diarahkan pada penerbitan surat utang dengan mata uang non-USD dan
tingkat bunga kompetitif seperti Samurai bonds berdenominasi mata uang
Yen (JPY), Dim Sum bonds dengan mata uang Renminbi, dan Kangoroo bonds
dengan mata uang Dolar Australia.
Wamenkeu menjelaskan, efektivitas dari penerapan strategi fiskal
tersebut tercermin langsung pada performa ekonomi kuartal pertama tahun
ini. Perekonomian Indonesia mampu tumbuh kuat di angka 5,61%. Di samping
pertumbuhan yang tinggi, laju inflasi tetap berada di level yang
terjaga 2,42%, defisit fiskal terkendali 0,64% pada April 2026, dan
yield SBN dan spread masih terjaga.
“Jadi empat itu sebenarnya empat indikator pertumbuhan, inflasi, fiskal
defisit, dan juga yield SBN ini, menentukan bagaimana fiskal kita masih
kuat. Strategi kita yang kita ambil tadi, it works. Dia bekerja dengan
baik,” pungkas Wamenkeu Juda.







.jpg)