PATI - Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, kembali menghidupkan
tradisi Lamporan melalui kegiatan Wiwitan dan Gelar Budaya yang digelar
Jumat (19/6/2026). Kegiatan yang diselenggarakan Komunitas Plat K
tersebut diikuti warga dan seniman lokal sebagai upaya melestarikan
budaya leluhur, mengenang tradisi penolak pagebluk pada masa lampau,
sekaligus menjadi ruang pembelajaran budaya bagi generasi muda.
Lamporan berasal dari kata lampor atau obor, kemudian nama tersebut
menjadi sebuah upacara dalam aspek sosial-budaya di desa Soneyan. Namun
antara obor dan lampor ada perbedaan, kalau obor biasanya terbuat dari
bambu yang diberi media minyak tanah dan kain yang menjadi sumbunya,
tetapi kalau lampor terbuat dari daun kelapa yang sudah kering (blarak)
yang diikat menjadi satu menjulang ke atas kemudian dibakar ujungnya.
Lampor dibawa sekelompok orang yang memakai kostum rumbai-rumbai
yang dibuat dari daun kelapa muda (janur). Kelompok yang bertugas
membawa lampor disebut “Dayakan” (ndayakan).
Sekelompok Dayakan berbaris dan menari-nari dengan dipimpin oleh
tetua desa yang memandu dan memimpin prosesi mengiring lampor keliling
kampung dengan diiringi alunan musik tongtek yang meliputi,
tontongan/kentongan, jidor, dan icik-icik.
Acara tersebut dihadiri Camat Margoyoso, perwakilan Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Desa Soneyan, Kepala Dusun Sumber,
Ketua Panitia Lamporan, Presiden Plat K, serta masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra
mengapresiasi konsistensi masyarakat dan Komunitas Plat K dalam menjaga
tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Lamporan bukan sekadar pertunjukan budaya. Ini adalah warisan
leluhur yang harus terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi
berikutnya,” ujar Chandra.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Pati memberikan dukungan
penuh terhadap berbagai kegiatan seni dan budaya yang digagas
masyarakat. Menurutnya, pelestarian budaya merupakan bagian penting
dalam menjaga identitas daerah di tengah perkembangan zaman.
“Pemerintah membuka ruang seluas-luasnya bagi komunitas seni dan
budaya untuk berkarya. Pendopo Kabupaten Pati juga terbuka untuk
digunakan sebagai tempat penyelenggaraan festival dan kegiatan
kebudayaan,” kata Chandra.
Selain dukungan terhadap sektor budaya, Chandra menyampaikan bahwa
pemerintah daerah saat ini juga fokus pada pembangunan yang menyentuh
kebutuhan dasar masyarakat. Fokus tersebut meliputi perbaikan
infrastruktur jalan, penguatan layanan kesehatan melalui BPJS, serta
pendidikan negeri gratis.
Ia menilai pembangunan fisik dan pembangunan karakter masyarakat
harus berjalan beriringan. Karena itu, pelestarian budaya tetap menjadi
bagian penting dalam agenda pembangunan daerah.
“Jalan harus baik agar aktivitas masyarakat lancar. Kesehatan dan
pendidikan juga harus mudah diakses. Namun budaya tidak boleh
ditinggalkan karena menjadi jati diri daerah kita,” tegas Chandra.
Pada kesempatan tersebut, Chandra juga mengajak para orang tua
untuk lebih bijak dalam mengawasi penggunaan telepon genggam pada
anak-anak. Menurutnya, interaksi sosial dan ruang pergaulan yang sehat
perlu terus dijaga agar generasi muda tidak kehilangan nilai-nilai
kebersamaan.
Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah tengah menginisiasi
pendirian Museum Kabupaten Pati sebagai wadah bagi para seniman,
budayawan, dan komunitas kreatif untuk berkumpul, berkarya, serta
mendokumentasikan kekayaan budaya daerah.
“Ke depan kami ingin memiliki museum sebagai rumah bersama bagi
para seniman dan pelaku budaya. Tempat ini nantinya menjadi ruang
pelestarian sekaligus edukasi bagi masyarakat,” ungkap Chandra.
Melalui kegiatan Lamporan Wiwitan dan Gelar Budaya Desa Soneyan,
Pemerintah Kabupaten Pati menegaskan komitmennya untuk mendukung
pelestarian budaya lokal, memperluas ruang kreativitas bagi komunitas
seni, serta memastikan pembangunan daerah berjalan seimbang antara
kemajuan fisik dan penguatan nilai-nilai budaya masyarakat.













