BREBES — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan apresiasi kepada Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, atas kinerjanya dalam menopang sektor pangan nasional.
Ahmad Lutfhfi juga dinilai terus memperjuangkan nasib petani di tengah ancaman kemarau panjang. Tak ayal, produktivitas pertanian di provinsi ini terus terjaga.
“Pak Gubernur Ahmad Luthfi ini hebat, penopang pangan Indonesia. Beliau itu rajin sekali. Saya lihat kerja beliau itu, Jawa Tengah penghasil beras nomor dua sekarang,” kata Andi Amran, saat menghadiri groundbreaking Peternakan Sapi Perah Terpadu PT Global Dairi Bersama, di Desa Karangbale, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Senin (20/7/2026).
Tak sekadar memuji, Amran bahkan menyanggupi permintaan Ahmad Luthfi agar petani di Jawa Tengah kembali mendapatkan bantuan pompa air, untuk mempertahankan produktivitas padi selama kemarau panjang. Tidak hanya pompa air, Kementerian Pertanian juga akan menggelontorkan bantuan bibit jagung dan padi, serta alat pertanian seperti traktor dan lainnya.
“Pompa dan irpom (irigasi perpompaan), bantu semuanya. Jangan sampai petani Jateng kekurangan pompa dan kekurangan air. Kemarin sudah ada dua ribu pompa itu sudah sampai belum, nanti aku tambah lagi lima ribu. Jadi sekarang (total) tujuh ribu dulu,” katanya, saat menanggapi Ahmad Luthfi yang sudah bersurat kepada Kementerian Pertanian terkait kebutuhan pompa air.
Amran menambahkan, air merupakan salah satu faktor penting agar produktivitas petani terjaga. Dia berterima kasih karena kerja keras para petani di seluruh Indonesia, sehingga swasembada pangan yang dicanangkan empat tahun sudah bisa dipenuhi dalam kurun satu tahun. Hal itu dibuktikan dengan data yang dirilis oleh Food and Agriculture Organization (FAO).
Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, produktivitas padi di Jawa Tengah pada 2025 mencapai 9,7 juta ton, dengan kontribusi 15,6% kebutuhan padi nasional. Target 2026 dari pemerintah pusat meningkat menjadi 10,5 juta ton.
Guna mencapai target tersebut, Luthfi bersama dengan bupati/ wali kota telah berkomitmen untuk menjaga lahan pertanian atau lahan sawah dilindungi (LSD). Dia bahkan menggandeng Kementerian ATR/BPN, untuk menentukan luas baku sawah di wilayah Jawa Tengah.
“Jawa Tengah merupakan lumbung pangan nasional, sehingga lahan pertaniannya harus kita pertahankan,” ujardia.
Dalam kesempatan itu, Luthfi menyinggung surat dari Pemprov Jateng yang ditujukan kepada Menteri Pertanian, terkait bantuan pompa air untuk menghadapi kemarau panjang dan kekeringan di beberapa daerah.
Dia memohon agar diberikan bantuan pompa air untuk Jateng, guna menjaga provinsi ini sebagai lumbung pangan nasional.
Sementara itu, untuk mengantisipasi bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan, Pemprov Jateng sudah menerbitkan Surat Edaran Gubernur sejak 9 Juni 2026. Surat edaran ini menjadi pedoman untuk memperkuat koordinasi dan meningkatkan kesiapsiagaan seluruh pemerintah daerah, dalam menghadapi potensi bencana selama musim kemarau. Pengecekan embung-embung yang ada di Jateng juga sudah dilakukan, untuk memastikan kebutuhan air di lahan pertanian terjaga.
Berdasarkan data Badan Penanganggulangan Bancana Daerah (BPBD) Jateng, sebanyak belasan kabupaten/ kota telah di Jateng menetapkan status siaga, yakni Sukoharjo, Demak, Temanggung, Brebes, Kendal, Sragen, Banjarnegara, Purbalingga, Grobogan, Semarang, Pemalang, Wonosobo, Purworejo, Wonogiri, Kota Salatiga, dan Kota Tegal.
Sejak 5 Juni hingga 14 Juli 2026, bantuan air bersih telah disalurkan sebanyak 3.258.000 liter melalui 660 tangki, kepada 30.378 kepala keluarga atau sekitar 81.297 jiwa di 15 kabupaten, yakni Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Purworejo, Magelang, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Sragen, Grobogan, Jepara, Demak, Semarang, dan Pemalang.
Penanganan air bersih tidak hanya dilakukan Pemerintah Provinsi Jateng, tetapi juga berkolaborasi dengan pemkab setempat, BPJS Kesehatan, Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak dan BUMD Tirta Satria, melalui program CSR. Semangat gotong royong inilah yang menjadi kekuatan Jawa Tengah dalam menghadapi bencana.






