Cari Blog Ini

Kamis, 16 Juli 2026

Dorong Pengasuhan Positif, Bunda PAUD Jateng Nawal Yasin Minta Orang Tua Percaya dan Peduli pada Anak

 


SURAKARTA – Sebagian masyarakat masih menganggap anak yang baik itu penurut, rajin, tertib, sering membantu, tidak pemarah, banyak mengalah. Jika sebaliknya, anak dianggap tidak baik.

Namun, semua itu tidak terbentuk begitu saja. Pengasuhan dan interaksi anak dengan orang tua, sangat menentukan pembentukan karakter anak.

“Kunci anak-anak bisa mendengar kita, manut dengan kita, itu karena ada kemelekatan hasil interaksi positif anak dengan kita,” ujar Bunda PAUD Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, saat Seminar Parenting “Disiplin Positif Tanpa Kekerasan pada Anak”, di Masjid Istiqomah, Penumping, Surakarta, Kamis (16/7/2026).

Lantas bagaimana membangun interaksi positif pada anak? Nawal mengungkapkan, seperti yang tertuang dalam QS Al Luqman, anak tidak diajarkan untuk harus salat dulu, melainkan mengajarkan agar jangan menyekutukan Allah. Sehingga, kebaikan yang dilakukan anak, bukan karena ingin dilihat ayah ibu, namun mengingat Allah selalu menyertai.

“Kalau parenting hanya mengandalkan manusia, akan ada kekecewaan. Maka, tanamkan pondasi keimanan pada anak. Misalnya, saat memakaikan diapers pada anak, ingatkan, alhamdulillah adik bisa pipis karena Allah. Atau kalau membelikan sepeda, katakan ini bukan hanya berkat ayah ibu, tapi karena Allah,” beber Nawal.

Pondasi berikutnya, adalah muraqabah, selalu merasa dibersamai oleh Allah. Sehingga, ketika anak salat, tidak ada ayah ibu tetap dilakukan, karena merasa dibersamai Allah. Berbuat baik pun bukan hanya di hadapan orang-orang.

“Kalau iman dan muraqabah sudah kuat, pada usia tujuh tahun, baru ajarkan anak untuk salat. Selesaikan fase ini supaya anak-anak terhubung dengan Allah,” sorotnya.

Nawal menekankan agar orang tua menjadi contoh yang baik bagi anaknya, dengan menerapkan pengasuhan disiplin positif, yaitu pendekatan yang memampukan seseorang atau anak untuk memahami dan mengontrol perilakunya dengan kesadaran, bertanggung jawab atas tindakannya, sebagai wujud menghormati dirinya sendiri dan orang lain. Itu merupakan upaya untuk menumbuhkembangkan pemikiran dan perilaku positif sepanjang hidupnya.

Empat komponen pentingnya, beber Nawal, pertama tahu, kenal, dan pahami perkembangan anak. Kedua, memahami perilaku tidak tepat anak dari sudut pandang baru. Tiga, menerapkan konsekuensi logis yang berfokus pada solusi, serrta empat memberikan penguatan dan dorongan positif kepada anak.

Prinsip-prinsip disiplin positif, antara lain inklusif, yakni menghargai perbedaan setiap individu anak dan kesamaan hak, yang menekankan pada pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan, kekuatan, dan kemampuan sosial anak. Kemudian proaktif, dengan mengajak anak menemukan dan mengatasi akar masalah, tidak sekadar memberikan respon yang reaktif. Berikutnya, partisipatoris, harus melibatkan anak/siswa dalam memahami tindakan dan mengatasi masalah mereka.

“Setiap anak memilik kekuatan, kemampuan dan talenta, dan setiap tindakan pendidikan, termasuk disiplin, bertujuan mendorong dan mengoptimalkan kemampuan dan perkembangan mereka. Kesalahan tidak dilihat sebagai kegagalan, melainkan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri,” tandas Nawal. 

 

  Sumber : https://jatengprov.go.id/publik/dorong-pengasuhan-positif-nawal-yasin-minta-orang-tua-percaya-dan-peduli-pada-anak/