Cari Blog Ini

Senin, 27 Juli 2026

Orbit Rendah Bumi Kian Padat, BRIN Ingatkan Tata Kelola Ruang Angkasa Berkelanjutan

 


BOGOR, 27 Juli 2026. Peneliti Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Ery Fitrianingsih mengungkapkan bahwa isu kepadatan orbit LEO bukan lagi sekadar wacana akademis, melainkan urgensi mendesak bagi masa depan ekosistem antariksa Indonesia. Untuk itu, diperlukan kesadaran bersama dalam menghadapi tantangan tersebut.

“Tujuan utama dari kolokium ini adalah membangun kesadaran bersama mengenai tantangan orbit LEO di masa depan. Kita sebagai pelaku sektor keantariksaan perlu mengubah paradigma secara mendasar di seluruh aspek yang saling berkaitan, mulai dari teknis perancangan, kebijakan, hingga operasional harian,” tegas Ery.

Ery menjelaskan bahwa kolokium ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem keantariksaan. Bagi peneliti, forum ini menjadi sarana untuk memperkuat kapasitas riset internal, khususnya di bidang Space Situational Awareness (SSA), pemantauan objek antariksa, pengembangan desain satelit ramah lingkungan (eco-design), serta teknologi mitigasi sampah antariksa dan deorbit satelit.

"Bagi operator satelit, kolokium ini menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap standar keselamatan antariksa yang tinggi, penyediaan data lintasan satelit secara transparan dan real-time, penerapan manuver penghindaran tabrakan, serta perencanaan deorbit yang matang," ujar Ery.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa bagi kalangan akademisi, isu kepadatan orbit Bumi rendah (Low Earth Orbit/LEO) diharapkan dapat mendorong pengembangan kurikulum dan riset terapan di bidang sains maupun hukum keantariksaan. Hasil kajian tersebut juga diharapkan dapat menjadi masukan berbasis bukti ilmiah dalam penyusunan regulasi keantariksaan nasional yang selaras dengan prinsip tata kelola antariksa global.

“Bagi industri, kolokium ini diharapkan dapat mendorong penerapan standar keamanan operasi satelit komersial yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan ruang angkasa, sehingga pemanfaatan orbit Bumi dapat terus berlangsung secara aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Wahyudi Hasbi menegaskan bahwa kepemilikan spaceport dan kemandirian teknologi satelit harus diimbangi dengan tanggung jawab menjaga ruang angkasa yang bersih. “Orbit LEO adalah sumber daya bersama yang terbatas. Jika Indonesia ingin menjadi pemain kunci dalam industri antariksa global melalui pembangunan spaceport, kita juga harus siap menjadi bagian dari solusi menjaga keberlanjutan ruang angkasa,” tegas Wahyudi.

Pentingnya kesadaran bersama dalam menjaga ekosistem antariksa Indonesia turut ditekankan oleh Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru Triharjanto. Ia berharap diskusi ilmiah ini dapat menjadi pemantik kolaborasi strategis antarlembaga serta memperkuat posisi Indonesia dalam tata kelola antariksa dunia.

“Selain mengembangkan kapasitas pemantauan objek antariksa dan satelit yang andal, BRIN berkomitmen aktif dalam forum-forum internasional yang membahas tata kelola ruang angkasa yang berkelanjutan. Kolokium ini menjadi langkah penting untuk menyatukan visi nasional sebelum kita melangkah lebih jauh dalam pemanfaatan antariksa dan pengoperasian spaceport di tanah air,” ujar Robertus.

 

 

Sumber : https://www.brin.go.id/press-release/129617/orbit-rendah-bumi-kian-padat-brin-ingatkan-tata-kelola-ruang-angkasa-berkelanjutan