Tangerang (Kemenag) — Indonesia bersiap menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Grand Imam (International Grand Imams Conference 2026). Agenda ini disiapkan sebagai wadah penguatan kapasitas kepemimpinan spiritual sekaligus rekonsiliasi perdamaian dunia melalui optimalisasi peran pemuka agama di tingkat global.
Rencana ini disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam Tabligh Akbar yang dihadiri jajaran Pemerintah Provinsi Banten, Dewan Hakim Nasional, pengurus Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM), serta ribuan jamaah.
Menurut Menag, pertemuan internasional ini dijadwalkan akan dihadiri para imam besar dari berbagai belahan dunia, mulai dari kawasan Timur Tengah—termasuk Imam Besar Masjidil Haram, Syekh Abdul Rahman As-Sudais—hingga para imam besar dari Eropa, Amerika, dan Asia. Forum ini mengusung tema "Masjid Harmoni". Melalui konsep ini, rumah ibadah diposisikan sebagai rumah besar kemanusiaan untuk mengedepankan keadilan, perdamaian, dan kebeningan dalam menjalani kehidupan bersama.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menjabarkan bahwa langkah ini diambil sebagai alternatif baru di tengah kebuntuan diplomasi formal antarnegara yang kerap kali tidak mampu meredam pecahnya sejumlah peperangan global.
"Kita akan mencoba melalui rumah ibadah, imbauan rumah-rumah spiritual seperti masjid dan rumah-rumah ibadah yang lain dengan membunyikan bahasa batin, bahasa rohani. Insyaallah benar-benar mudah-mudahan bisa mengerem perkembangan darurat bersama anak manusia, anak cucu Adam. Mudah-mudahan himbauan-himbauan spiritual rohani seperti ini lebih berakar nanti, bisa mempersaudarakan anak manusia," ujar Menag saat memaparkan materi keagamaan di hadapan jamaah, Jumat (3/7/2026).
Menag berpesan secara khusus kepada ratusan imam masjid yang hadir agar senantiasa menjaga muruah spiritual dan menjaga integritas dari berbagai kepentingan subjektif maupun politik praktis di lapangan.
"Saya mohon kalian semuanya adalah warasatul anbiya. Ahli waris spiritual yang ada di situ adalah para ulama, terkhusus yakni para imam. Inilah manifestasi warisan spiritual nabi. Nabi selalu memimpin umatnya melaksanakan shalat lima waktu, dalam Jumat, dan kalian juga para imam yang selalu memimpin umat di tempat bersih-bersih. Jadi mengikuti tradisi Rasulullah sebagai pemimpin masjid, pemimpin umat, dan pemimpin masyarakat," tegas Menag.
Menag menambahkan, wibawa spiritual seorang imam masjid bersifat mutlak dan melekat secara alami tanpa terikat batasan periodisasi politik formal.
"Makanya bapak bisa lihat wibawa spiritual seorang imam masjid itu lebih kuat daripada wibawa yang ditampilkan oleh pemerintah yang diikat oleh ikatan formal lima tahunan. Selama masih kuat, imam akan tetap menjadi imam. Jadi imam di masjidnya Abu Bakar juga diganti setelah dia wafat, Umar baru diganti setelah dia wafat, Ali juga diganti setelah dia wafat, itu adalah imam," terang Menag
Oleh karena itu, Kemenag bersama jajaran instansi daerah berkomitmen untuk memelihara kesejahteraan serta mengawal legalitas administrasi para imam masjid di lapangan secara berkelanjutan.
Rangkaian acara Tabligh Akbar ditutup dengan pembacaan doa kolektif bagi para tokoh ulama besar Nusantara pemersatu umat, salah satunya Syekh Nawawi Al-Bantani, yang rekam jejak keilmuannya diakui secara luas oleh dunia internasional.







