Jakarta (Kemenag) --- Menteri Agama Nasaruddin Umar, menegaskan pentingnya transformasi menyeluruh dalam pengelolaan rumah ibadah di Indonesia. Menurut Menag, paradigma pengelolaan masjid modern saat ini harus bergeser dari sekadar fokus pada keindahan fisik dan pengumpulan sumbangan, menjadi pusat pelayanan publik yang inklusif, ramah lingkungan, serta berdampak nyata bagi umat.
Pesan ini disampaikan Menag saat memberikan sambutan pada Do'a Keselamatan Bangsa, Zikir Kebangsaan, dan Haul Pendiri NKRI memperingati HUT ke-81 RI di Masjid Istiqlal, Jakarta. Hadir, Habib Luthfi bin Yahya, Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, tokoh agama, serta puluhan ribu masyarakat.
Menurut Menag, Masjid Istiqlal bisa menjadi contoh konkret tempat ibadah yang ramah lingkungan (green mosque) dan kaya fungsi sosial. Model ini diharapkan dapat direplikasi oleh lebih dari 800 ribu masjid di seluruh pelosok Tanah Air.
"Mari kita jadikan model-model pengelolaan masjid modern, misalnya seperti Masjid Istiqlal, sebagai contoh yang bisa ditiru oleh 800 ribu masjid di Indonesia. Insyaallah, bukan lagi kita (umat) yang memberdayakan masjid, tapi masjid yang memberdayakan umat," tegas Menag, Minggu (9/8/2026).
Menag memaparkan bahwa esensi transformasi masjid modern tidak berhenti pada arsitektur atau keindahan fisik semata, melainkan pada wujud nyata pelayanan sosial yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Masjid modern dituntut hadir menyelesaikan persoalan dasar umat melalui penyediaan program bantuan, layanan konsultasi keluarga dan hukum, hingga fasilitas pendidikan.
"Dari kita untuk kita. Siapapun yang punya kelebihan, berikanlah manfaatnya untuk dinikmati umat melalui masjid. Inilah esensi fungsi sosial rumah ibadah yang sebenarnya," jelasnya.
Menag menegaskan bahwa keterlibatan masjid dalam menjaga kelestarian lingkungan merupakan wujud nyata rumah ibadah yang produktif dan efisien. "Pengelolaan rumah ibadah ke depan harus memiliki kepedulian ekologis. Misalnya, di Masjid Istiqlal sudah menggunakan solar system dan pemanfaatan daur ulang air wudhu dalam upaya efisiensi energinya," ucapnya.
Tak hanya ramah lingkungan, aspek pendidikan di Istiqlal juga menjadi sorotan Menag sebagai wujud pelayanan inklusif. "Ada kursus bahasa asing gratis, seperti bahasa Inggris, Arab, Mandarin, Persia, Hebrew, Aramaik, hingga bahasa Indonesia untuk foreigner, semuanya gratis. Perpustakaan gratis juga lengkap, jurnal-jurnal paling baru bisa dibuka tanpa bayar, dan kita menyiapkan fasilitas untuk memberikan informasi beasiswa," tutup Menag.







