Jakarta, 19/08/2026 Kemenkeu – Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (RAPBN) 2027 menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang cukup
ekspansif sebesar 6%. Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara
menyebut bahwa optimisme pemerintah tersebut berlandaskan pada fondasi
pemulihan ekonomi nasional yang kian solid.
Sepanjang semester pertama tahun 2026, Indonesia berhasil mengandalkan
pertumbuhan ekonomi di angka 5,45%. Kinerja ini diproyeksikan terus
menguat pada kuartal III dan IV di atas 5,5%, didorong oleh indikator
industri manufaktur (PMI) yang konsisten di atas level ekspansif 50,
menguatnya daya tahan ekspor, serta belanja negara yang terus terjaga.
"Bapak Presiden memberikan target dan kalau memberikan target itu memang
tidak boleh rendah. Seperti bahasa Bapak Presiden, gantungkanlah
cita-citamu setinggi bintang-bintang, kalaupun tidak tercapai kau jatuh
di atas awan," ujar Wamenkeu Suahasil dalam program Top Economy di
Studio 1 Metro TV, Jakarta, pada Selasa (18/8).
Ia pun memaparkan upaya pemerintah dalam melakukan orkestrasi manajemen
makroekonomi untuk merealisasikan pertumbuhan ekonomi 6% tahun depan.
Menurutnya, strategi tersebut dilakukan melalui optimasi seluruh
komponen Produk Domestik Bruto (PDB), diantaranya dengan menjaga
konsumsi rumah tangga sebagai penyumbang komponen terbesar pertumbuhan
(53%–54% PDB).
“APBN adalah salah satu instrumen utama menjaga konsumsi ini. Karena
APBN itu memberikan perlindungan sosial, memberikan bantuan sosial,
memberikan pengurangan terhadap beban rumah tangga,” jelasnya.
Strategi lainnya dilakukan dengan mendorong investasi melalui peran
Danantara. Konsolidasi aset BUMN melalui Danantara difungsikan sebagai
pendorong sekaligus katalisator untuk menarik partisipasi (crowd-in)
investasi swasta nasional maupun asing.
Selain itu, pemerintah juga melakukan efisiensi belanja negara dengan
memfokuskan belanja pada sektor-sektor yang memiliki dampak pengganda
(multiplier effect) tinggi terhadap PDB. Wamenkeu Suahasil Nazara juga
menuturkan strategi pemanfaatan peluang ekspor serta pengawasan Devisa
Hasil Ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) untuk
mencegah praktik under-invoicing dan transfer pricing.
Pada kesempatan tersebut, Wamenkeu Suahasil mengutarakan hal menarik
dalam perancangan RAPBN 2027, yaitu penyesuaian target defisit anggaran
yang diturunkan menjadi sekitar 2,4% dari PDB. Ia menuturkan, kombinasi
target pertumbuhan tinggi dan defisit yang menurun mencerminkan
efisiensi APBN yang semakin baik.
"Defisit yang lebih rendah tidak menahan pertumbuhan, malah pertumbuhan
naik. Ini artinya APBN kita tambah efisien. Taxpayers money memiliki
dampak multiplier yang jauh lebih besar bagi perekonomian," jelasnya.
Wamenkeu mengungkapkan bahwa Pemerintah dalam RAPBN mendatang akan
memperkuat 8 Klaster Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) dengan
meluncurkan 10 Agenda Transformasi Indonesia yang berfokus pada aksi
nyata untuk masyarakat. Agenda ini meliputi renovasi puskesmas, rumah
sakit, dan sekolah, pembentukan bursa komoditas strategis, pengembangan
Pusat Finansial Internasional, elektrifikasi mobilitas rakyat, kebijakan
dwi kewarganegaraan, keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG),
hingga Danantara Development Management Fund.
Sumber : https://www.kemenkeu.go.id/informasi-publik/publikasi/berita-utama/RAPBN-2027-Makin-Efisien



