Jakarta (Kemenag) — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyebut sektor ekonomi syariah di Indonesia menyimpan potensi besar yang belum tergarap secara maksimal, mengingat besarnya populasi muslim serta keberadaan ratusan ribu masjid yang tersebar di seluruh pelosok tanah air.
Pernyataan tersebut disampaikan Menag saat membuka Indonesia Ekonomi Syariah Forum and Expo 2026 di Masjid Istiqlal, Jakarta.
Menag mengibaratkan ekonomi syariah Indonesia bagaikan raksasa tidur yang memiliki kekuatan pasar domestik sangat tangguh dengan ditopang oleh populasi sekitar 250 juta penduduk muslim.
“Kalau kita hitung dari potensi-potensi keumatan yang kita miliki, pertama adalah potensi umat. Sekitar 250 juta umat Islam di Indonesia ini adalah pasar yang luar biasa. Kedua, Semua sumber kehidupan yang membuat kita bertahan hidup ada di dalam negeri kita sendiri,” tegas Menag, Jumat (30/10/2026)..
Menag menjelaskan bahwa Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang kuat di tengah ketidakpastian global karena ditunjang oleh kekayaan bahan pangan, kekayaan hasil laut, serta keanekaragaman sumber daya alam yang melimpah.
Secara khusus, Menag menyoroti peluang besar pemanfaatan potensi ekosistem masjid di Indonesia. Menurutnya, jika dikelola secara profesional, jaringan masjid dapat menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan melalui unit usaha minimarket hingga pengelolaan wakaf produktif.
“Kalau semua masjid itu punya usaha atau minimarket sendiri, keuntungannya dapat kembali untuk kemakmuran masjid dan jamaah. Kekuatan ekonomi umat, khususnya kaum ibu dan pedagang kecil, sangat besar jika kita fasilitasi dengan akses permodalan syariah,” lanjut Menag.
Menag juga berpesan agar perguruan tinggi dan fakultas ekonomi Islam mencetak lulusan yang tidak hanya menguasai teori fikih muamalah, tetapi juga memiliki keahlian teknis yang kompatibel dengan industri perbankan syariah dan pasar global.
Direktur Zakat dan Wakaf Badan Pengelola Masjid Istiqlal, Budi Utomo, dalam laporannya menyampaikan bahwa forum dan pameran ini merupakan bentuk upaya untuk menjadikan Istiqlal sebagai pusat ekosistem ekonomi syariah nasional.
“Kegiatan ini merupakan upaya kami menerjemahkan ide Imam Besar Istiqlal untuk menghadirkan Istiqlal sebagai pusat kegiatan pengembangan ekonomi syariah, sekaligus merangkum sinergi luar biasa mulai dari Kanwil Kemenag, perguruan tinggi Islam, perbankan, hingga perusahaan swasta,” ungkap Budi.
Budi juga melaporkan bahwa pameran yang diikuti 46 stan tersebut mengusung visi Istiqlal Ecotourism dalam Green Economy, serta diharapkan melalui kegiatan ini akan muncul satu model pemgembangan ecotourism berbasis masjid.






