Cari Blog Ini

Kamis, 29 Oktober 2026

Cath Lab RSUD RAA Soewondo Pati Disiapkan Layani Pasien Jantung BPJS

 

 

PATI – Pemerintah Kabupaten Pati bersama BPJS Kesehatan menyiapkan kerja sama layanan kateterisasi jantung (Catheterization Laboratory/Cath Lab) di RSUD RAA Soewondo Pati. Langkah ini ditujukan agar pasien jantung dapat memperoleh penanganan dengan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tanpa harus dirujuk ke luar daerah. 

Kesiapan layanan tersebut diperiksa langsung oleh Direktur Utama BPJS Kesehatan bersama Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra di Ruang Seruni RSUD RAA Soewondo, Kamis (29/10/2026). Adapun penandatanganan kerja sama ditargetkan pada 17 November 2026.

Chandra menyampaikan bahwa layanan Cath Lab sangat dibutuhkan masyarakat Pati, terutama pasien yang memerlukan penanganan segera.

Menurutnya, pengadaan alat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) 2023 telah berlangsung hampir tiga tahun dan saat ini, RSUD RAA Soewondo juga telah memiliki tenaga dokter spesialis jantung untuk mendukung layanan tersebut.

“Tujuannya bukan semata menghadirkan teknologi medis, melainkan memastikan masyarakat mendapat layanan jantung yang aman, bermutu, terjangkau, dan dekat dengan tempat tinggalnya,” kata Chandra.

Berdasarkan data yang disampaikannya, terdapat 1.318 kasus sindrom koroner akut di enam rumah sakit di Kabupaten Pati sepanjang 2024. Dari jumlah tersebut, 308 kasus merupakan serangan jantung dengan elevasi segmen ST (ST-Elevation Myocardial Infarction/STEMI), yang membutuhkan penanganan cepat. 

Jarak rujukan dan keterbatasan akses dapat meningkatkan risiko komplikasi hingga kematian apabila penanganan terlambat.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito menegaskan bahwa kerja sama tidak dapat dilakukan sebelum seluruh persyaratan teknis terpenuhi. Pemeriksaan meliputi kesiapan peralatan, dokter, dan perawat. 

Setelah layanan berjalan, BPJS Kesehatan akan mengevaluasi pelaksanaannya selama sekitar enam bulan.

“Kalau dokter, perawat, dan alatnya siap, kerja sama segera dilakukan. Dengan begitu, pasien tidak perlu lagi dirujuk ke Kudus atau Rembang,” ujar Prihati.

Selama ini, pasien jantung dari Pati masih menghadapi kendala rujukan ke rumah sakit lain, termasuk RSUP Dr. Kariadi Semarang. Keterbatasan kapasitas, terutama ketersediaan tempat tidur ICU, serta proses rujukan yang memerlukan waktu menjadi tantangan tersendiri. Kondisi tersebut membuat akses terhadap tindakan medis yang membutuhkan kecepatan menjadi semakin penting.

Chandra juga menyoroti peran layanan kesehatan dalam mendukung iklim investasi daerah. Menurutnya, ketersediaan fasilitas kesehatan yang memadai menjadi salah satu aspek yang diperhatikan investor ketika mempertimbangkan penanaman modal di Pati.

“Dalam Pati Business Forum di Pendopo Kabupaten Pati, investasi yang masuk mencapai hampir Rp12,6 triliun. Investor juga menanyakan jumlah dan kondisi rumah sakit. Investasi yang tumbuh diharapkan membuka lapangan kerja bagi masyarakat,” ungkap Chandra.

Plt Direktur RSUD RAA Soewondo Pati Ahmad Husin menjelaskan bahwa rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit tipe B pendidikan sekaligus rujukan regional kawasan Pantura Timur. 

Rumah sakit yang berdiri sejak 1932 itu memiliki 330 tempat tidur dan melayani masyarakat dari berbagai wilayah. Akses dari Instalasi Gawat Darurat (IGD) menuju ruang Cath Lab dapat ditempuh dalam waktu kurang dari lima menit.

“Cath Lab mulai beroperasi pada 20 Desember 2024 untuk melayani pasien umum. Kami terus mengupayakan agar layanan ini dapat dijamin BPJS Kesehatan sehingga akses pasien terhadap tindakan kateterisasi jantung semakin luas,” jelas Ahmad Husin.

Dari sisi sumber daya manusia, RSUD RAA Soewondo memiliki satu dokter konsultan jantung dan pembuluh darah, dua dokter spesialis jantung, serta satu dokter yang sedang menjalani pendidikan intervensi. 

Dukungan lainnya mencakup tiga perawat jantung intervensi, lima perawat kardiologi dasar, dan dua radiografer kateter. Ketersediaan tenaga tersebut menjadi bagian dari kesiapan layanan yang diperiksa dalam visitasi BPJS Kesehatan.

Prihati mengingatkan bahwa serangan jantung dapat terjadi pada usia produktif dan membutuhkan penanganan dalam hitungan menit hingga jam. 

Keterlambatan tindakan bukan hanya meningkatkan risiko kematian, tetapi juga dapat berdampak pada kondisi ekonomi keluarga pasien. Karena itu, perluasan akses layanan jantung turut mendukung upaya mencegah keluarga jatuh ke dalam kemiskinan akibat penyakit.

“Gotong royong dalam JKN memungkinkan biaya pelayanan yang besar ditanggung bersama melalui iuran peserta. Namun, mutu layanan dan keberlanjutan pembiayaan harus sama-sama dijaga,” kata Prihati.

Selain kesiapan Cath Lab, Prihati meminta Pemerintah Kabupaten Pati dan Dinas Kesehatan mengantisipasi pemutakhiran data Penerima Bantuan Iuran (PBI). Perubahan status kepesertaan perlu dicermati agar pasien dengan penyakit kronis, termasuk yang menjalani cuci darah, tidak kehilangan akses layanan secara mendadak. 

Dalam pemaparan tersebut, sekitar 14 ribu peserta disebut berpotensi terdampak pergeseran segmen atau wilayah kepesertaan.

Prihati juga mendorong rumah sakit menekan klaim tertunda (pending claim) dan memperkuat pelayanan berbasis nilai (value-based healthcare), bukan semata-mata mengejar volume tindakan.

Penguatan upaya promotif dan preventif juga turut menjadi perhatian, termasuk rencana gerakan jalan kaki setiap hari pada 2027 dan pengembangan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis).

 

 

Sumber : https://humas.patikab.go.id/frontpanel/berita/detail/am5ZdlNjY2ZDQVJqQVdEQU9GbUFJdz09