Kamis, 30 Maret 2017

Desa Ramai-Ramai Kembangkan Potensi Wisata Hidup dari Pungutan Parkir, Fasilitas Masih Seadanya

REMBANG-Sejumlah desa di Kabupaten Rembang kepincut mengembangkan sektor wisata. Selama kurun setahun ini, di sepanjang pantura Rembang-Lasem telah ada tiga lokasi wisata anyar yang booming. Namun begitu, keberadaannya masih sekadarnya, lantaran mereka hanya hidup dari pungutan parkir. 
HARI LIBUR nasional menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengajak kerabat dan keluarganya mengunjungi tempat wisata. Di kawasan wisata mangrove, Desa Pasar Banggi, Kecamatan Rembang, pengelola menambah personil parkir sebanyak tiga orang.
Pantauan Jawa Pos Radar Kudus Selasa (28/3) siang, tiga baris parkir sepeda motor yang disediakan pengelola tersisi penuh. Beberapa kendaraan roda empat atau lebih juga terparkir di lahan yang disediakan. Pengelola sendiri menarik retribusi untuk parkir sebesar Rp 3 ribu.
Karena jarak antara parkir kendaraan dengan kawasan mangrove sekitar satu kilometer, beberapa warga setempat memanfaatkannya untuk menawarkan jasa ojek. Sekali jalan, pengunjung dikenakan tarif Rp 5 ribu.
Muhammad Sahal, pengelola wisata mangrove Pasar Banggi mengungkapkan dari tarif tersebut tukang ojek wajib menyetor Rp 1 ribu ke pengelola. ”Yang ngojek harus warga Pasar Banggi. Pembagiannya, kalau satu KK sudah ada yang di parkiran maka tidak boleh ngojek,” ungkapnya.
Masuk ke kawasan mangrove seluas 60 hektar, pengunjung yang mayoritas anak muda menikmati teduhnya obyek wisata konservasi itu. Bagusnya, pengelola telah menyediakan belasan tempat sampah di sepanjang jalan menuju mangrove maupun di dalamnya.
Di luar hari libur pihaknya bisa meraup laba kotor sekitar Rp 1 juta. Pendapatan itu meningkat dua kali lipat jika hari libur.  Pendapatan tersebut, masih harus dibagi untuk penjaga parkir, kas desa dan penataan kawasan mangrove.
Lain halnya di Pantai Karang Jahe, Desa Punjulharjo, Rembang. Akses masuk ke pantai tersebut sebenarnya tak jauh berbeda dengan kawasan wisata mangrove. Jalannya sama-sama sempit, hanya saja lalu lalang kendaaraan di jalan menuju Pantai Karang Jahe lebih padat.
Akibatnya, kendaraan yang hendak masuk ke pantai tersebut harus mengantri ketika ada mobil yang berpapasan. Terlebih, kondisi jalan yang belum dilapisi aspal. Hal itu dikeluhkan oleh salah satu pengemudi mobil bernama Yudi. ”Susah kalau papasan sama mobil. Apa lagi, ada bus juga yang masuk sini. Padahal, jalannya sempit,” keluhnya.
Munthohit, pengelola Pantai Karang Jahe mengungkapkan laba kotor yang diraup pengelola di hari libur mencapai Rp 20 juta per harinya. Sedangkan di hari biasa angkanya tak jauh berbeda, berada di kisaran Rp 10 juta. Itu, didapat dari karcis parkir Rp 5 ribu.
Dia tak menjelaskan secara rinci peruntukan laba kotor tersebut. Hanya saja, dari uang itu salah satunya digunakan untuk menata kawasan pantai. Seperti, penambahan spot untuk foto dan wahana flying fox dan panjat tebing. ”Satu pengunjung kami bebankan biaya Rp 15 ribu untuk menikmati wahana tambahan itu,” ungkapnya.
Satu lagi lokasi wisata yang sedang naik daun adalah Watu Congol. Mayoritas warga yang mengunjungi obyek wisata tersebut merupakan orang Rembang. Hal itu, disebabkan akses jalan yang belum diaspal dan menanjak karena lokasinya di atas bukit.
Fasilitas yang dihadirkan memang belum selengkap Pantai Karang Jahe ataupun obyek wisata lain yang sudah berkembang. Namun, pengelola berusaha membuat rumah pohon yang menjadi lokasi favorit muda-mudi untuk berfoto.
Selain berfoto di rumah pohon, pengunjung juga bisa mendokumentasikan gambar dari batuan besar yang menjadi ikon wisata itu. Dari atas bukit, pengunjung disuguhi pemandangan laut luas dan kota Lasem.
Ali Fahrudin, pengelola obyek wisata Watu Congol mengungkapkan pengelolaan Watu Congol untuk sementara memang masih dipegang oleh pemuda Desa Selopuro, Lasem. Dia mengakui, belum ada bantuan dari pihak manapun termasuk desa untuk penataan kawasan tersebut.
”Ini berjalan sekitar dua bulan, pemuda gotong royong. Tidak ada bantuan sama sekali, swakelola pemuda sendiri,” ungkapnya.
Pengunjung yang masuk di kawasan tersebut hanya diberi tiket parkir sebesar Rp 3 ribu. Pengelola memang menghimbau agar pengunjung tak membawa kendaraan sampai ke atas bukit, karena jalan yang membahayakan.
Ali menambahkan per harinya tiket yang terjual bisa mencapai sekitar 300. Jumlah itu naik menjadi sekitar 500 tiket sehari pada momen akhir pekan. ”Hitungan kami memang motor yang masuk. Biasanya satu motor kan ada yang boncengan,” ungkapnya.

Sumber Berita : http://radarkudus.jawapos.com/read/2017/03/29/3457/desa-ramai-ramai-kembangkan-potensi-wisata/