Cari Blog Ini
Sabtu, 04 Februari 2017
DEBAT TERBUKA / TALKSHOW PENAJAMAN VISI MISI PASANGAN CALON BUPATI DAN WAKIL BUPATI TAHUN 2017 DI AULA PARIPURNA DPRD PATI
PATI – Debat publik atau talkshow penajaman visi misi paslon tunggal Bupati dan Wakil Bupati Pati 2017 berjalan kondusif kemarin. Pada talkshow yang berlangsung 90 menit ini, Paslon Haryanto dan Saiful Arifin masih menawarkan visi dan misi yang sama pada pemerintahan Haryanto-Budiyono sebelumnya. Namun, saat pemaparan itu paslon tak dapat tuntas karena keterbatasan waktu.
Talkshow tersebut yang dimulai tepat pukul 09.30 ini, diawali dengan sambutan dari Ketua KPU Pati Muchammad Nasich. Setelah sambutan ketua KPU Pati, moderator talkshow M Fajar Saka selaku praktisi hukum dan dosen Fakultas Hukum Unisbank Semarang maju ke atas panggung. Lantaran hanya paslon tunggal, debatnya dikemas seperti talkshow.
Ada tiga panelis yang mempertajam melalui pertanyaan terkait visi misi paslon. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pati menunjuk tiga panelis dosen Fisip Undip Semarang Fitriah, Direktur Pascasarjana Fakultas Ekonomi Unisbank Semarang Sunarto, dan Ketua PWI Jateng Amir Mahmud.
Pada sesi pertama, paslon memaparkan visi misinya. Tetapi karena terbatasnya waktu, paslon tidak dapat menuntaskan pemaparan visi dan misinya. Paslon tidak menjelaskan poin visi misinya tersebut. Mereka menjelaskan secara detail visi misinya. Sehingga tidak dapat memaparkan semua program kerjanya karena waktu yang terbatas.
Pada sesi kedua, merupakan penajaman program pendidikan yang diajukan panelis pertama, Fitriah. Kemudian disusul pertanyaan disampaikan panelis kedua, Sunarto tentang strategi paslon meningkatkan kompetensi guru SMA/SMK yang ditarik pemprov.
Pertanyaan itu dijawab Haryanto, bahwa Pemkab Pati memang sudah tidak mempunyai kewenangan untuk SMA/SMK. Hanya, secara moralitas karena guru-guru SMA/SMK merupakan warga Pati, ia akan berkordinasi dengan mendorong program peningkatan kompetensi guru yang diampu pemprov. Selain itu, juga menganjurkan sertifikasi guru. Tak hanya untuk kesejahteraan, melainkan juga untuk meningkatkan kompetensi guru.
”Terkait guru honorer di Pati, pada program sebelumnya, kami sudah menganggarkan tambahan insentif melalui APBD. Setidaknya dapat membantu, meski tidak memenuhi semua kebutuhan guru,” ucap Haryanto disambut riuh aplause dari hadirin.
Panelis ketiga, Amir bertanya tentang nasib pariwisata di Pati yang hingga saat ini masih belum tergarap maksimal. Kali ini yang menjawab Cabup Saiful Arifin. Safin -sapaan akrabnya- mengatakan, pariwisata di Pati tak bisa dibangun setara nasional atau internasional. Meski demikian, akan tetap dipromosikan dengan baik.
Jawaban itu sangat ngambang dan tidak membuat optimistis perkembangan pariwisata ke arah yang lebih baik. Jawaban Safin sekaligus mengakhiri sesi kedua pertanyaan dari panelis ke paslon.
Pada sesi ketiga, penajaman visi misi paslon dibuka pertanyaan dari panelis pertama, Fitriah. Kali ini, ia bertanya terkait gender. Haryanto menjawab, selama ini pihaknya sudah bekerja sama dengan penggerak tim PKK dan beberapa organisasi masyarakat. Karena waktunya habis, Safin tidak dapat menimpali jawaban kepada panelis.
Pertanyaan kedua disampaikan Amir Mahmud. Lagi-lagi bertanya tentang pariwisata. Dalam kepemimpinan Haryanto sebelumnya, apa sentuhan yang diberikan untuk bandeng khas Juwana dan batik Bakaran. Haryanto menjawab, selama ini ia sudah mempromosikan dan membina klaster termasuk bandeng Juwana dan batik Bakaran. Bandeng tak hanya diolah menjadi presto, namun ada olahan nugget, bakso, stik, dan lainnya. ”Sedangkan batik Bakaran, saya sudah membuat perbup batik Bakaran jadi seragam seluruh pegawai di Pati. Semua produk khas Pati juga sudah dipasarkan di Pasar Pragolo,” imbuhnya.
Senada, panelis kedua, Sunarto juga menanyakan tentang pariwisata di Pati, selain bandeng Juwana dan Batik Bakaran. Ia menganggap, semua klaster juga dapat dikembangkan. Sunarto juga memberikan masukan, untuk produk unggulan itu tak hanya dipasarkan di Pasar Pragolo. Alangkah baiknya juga dipasarkan di tempat-tempat pariwisata di Pati.
Pada sesi keempat, ditayangkan video pertanyaan dan keluhan masyarakat. Ada tiga tayangan. Pertama, dari siswa yang ingin ruang terbuka hijau (RTH) dan ruang membaca publik diperbanyak. Kedua, keluhan pupuk dari para petani. Ketiga, keluhan permodalan oleh pengusaha kecil. Semua tayangan itu dijawab dan digunakan masukan pada program paslon.
Acara ini berakhir pukul 11.00, ditandai keriuhan aplause dari peserta dan ditutup sesi kelima, pernyataan paslon. Haryanto mengaku, dalam program kerjanya masih melanjutkan kepemimpinannya terdahulu. Dengan semboyan ”Noto Projo Bangun Desa” dengan visi menyejahterakan dan meningkatkan pelayanan publik. ”Kami kembali mengangkat visi misi itu, karena masih relevan dengan kehidupan masyarakat Pati,” katanya.
Haryanto mengaku, pada penajaman visi dan misi ini, ada beberapa jawabannya yang belum maksimal. Karena keterbatasan waktu. Sehingga tidak dapat dijelaskan secara detail. Namun ”Tapi kami puas, karena secara umum semua sudah terjawab,” imbuhnya.
Sumber Berita : http://radarkudus.jawapos.com/read/2017/02/05/3007/waktu-terbatas-jawaban-tak-tuntas/
Posted by
102,6radioharbosfm
Labels:
berita







