JEPARA- Perairan Karimunjawa, pada saat-saat ini tengah mengalami
musim cumi-cumi. Namun lantaran pasokan BBM (Bahan Bakar Minyak) belum
sampai ke Karimunjawa, mereka tidak bisa melaut. Selain butuh solar,
para nelayan juga membutuhkan BBM pertalite untuk kebutuhan melaut
mereka. Karena tidak bisa melaut, nelayan Karimunjawa pun manyun
menunggu kedatanagan BBM.
Camat Karimunjawa, Budi Krisnanto menyatakan, pasokan BBM dari
Pertamina untuk SPBU Karimunjawa terakhir dilakukan pada 13 Januari
2018. Pasokan tersebut langsung habis dalam lima hari, tepatnya pada 18
Januari 2018. Sebenarnya pasokan BBM untuk Karimunjawa, sudah siap
dikirim ke Karimunjawa. Bahkan muatan tersebut sampai Selasa (30/1)
kemarin sudah berada di atas kapal Siginjai. Namun tetap saja belum bisa
berlayar ke Karimunjawa.
Cuaca di perairan Jepara sampai kemarin memang belum bisa disebut
aman untuk pelayaran. BMKG (Badan Metereologi Klimatologi dan Geosifika)
menyampaikan kondisi ini bahkan akan terus terjadi sampai dua hari ke
depan. Gelombang tinggi dan kecepatan angin yang kencang, masih
membahayakan pelayaran.
“BBM sebenarnya sudah siap di atas kapal Siginjai. Tapi kapal belum
mendapatkan ijin berlayar. Jadi pasolan BBM sejauh ini belum bisa
sampai ke Kariamunjawa,” ujar Budi Krisnanto, Selasa (30/1).
Sementara itu, menurut nelayan di Karimunjawa, Sriyanto, para
nelayan saat ini sebenarnya sangat berharap bisa segera mendapatkan BBM.
Perairan Karimunjawa sendiri saat-saat seperti ini, jika bisa melaut
sebenarnya tengah musim cumi-cumi. Hasil tangkapan ini secara ekonomis
cukup menguntungkan para nelayan. Saat musim cumi-cumi, dalam sekali
jalan para nelayan bisa mendapatkan hasil antara 20 kg-30 kg. Jika
dijual mereka bisa mendapatkan uang sedikitnya sampai Rp1 juta.
Para nelayan sendiri membutuhkan BBM jenis solar dan pertalite.
Solar digunakan untuk menggerakan mesin perahu mereka. Sedangkan BBM
jenis pertalite digunakan untuk mengoperasikan gen-set yang digunakan
untuk menghidupkan lampu. Dengan lampu yang dibawa di atas perahu, maka
cumi-cumi akan naik ke permukaan air laut. Saat itulah para nelayan bisa
menangkap cumi-cumi yang harganya lumayan mahal itu.
“Kami menunggu pasokan BBM. Kabarnya sudah mau dikirim, tapi ndak
tahu sampai sekarang belum ada. Kalau sudah datang tentu kami akan
senang, sebab bisa segera mencari cumi-cumi, karena sedang musim
sekarang ini,” ujar Sriyanto, secara terpisah Selasa (30/1).
Sumber Berita : http://www.wawasan.co/home/detail/2476/BBM-Tidak-Tersedia-Nelayan-Karimunjawa-Manyun



.jpg)

