Cari Blog Ini

Rabu, 31 Januari 2018

Banyak Siswa Tak Berangkat ke Sekolah

JEPARA- Dampak krisis bahan bakar minyak (BBM) di Kecamatan/Kepulauan Karimunjawa tak hanya memukul para nelayan dan warga untuk beraktivitas, tapi juga mempengaruhi kegiatan belajar mengajar di sejumlah sekolah.
Banyak siswa yang tak bisa berangkat ke sekolah karena kendaraan bermotor kehabisan amunisi. Srianto, warga Karimunjawa menjelaskan, banyak siswa yang tak bisa berangkat ke sekolah karena kendaraan bermotor yang digunakan untuk berangkat atau untuk mengantar siswa kehabisan bahan bakar.
Kondisi tersebut terjadi hampir di semua sekolah setempat. ”Terlebih, bagi sekolah-sekolah yang siswa tinggal cukup jauh. Seperti di Dukuh Cikmas, Nyamplungan maupun dari Desa Kemujan,” terang Srianto, kemarin. Kondisi itu diakui Kepala SD 1 Karimunjawa Priyogo. Ia mengaku tak bisa berangkat ke sekolah karena ketiadaan bahan bakar.
Hanya siswa yang rumahnya dekat dengan sekolah saja yang berangkat ke sekelokah. ”Memang ada beberapa yang tidak bisa berangkat karena rumahnya yang cukup jauh. Kalau yang jaraknya sekitar satu kilometer, mereka berangkat berjalan kaki atau naik sepeda,” beber Priyogo.
Para guru, lanjutnya, sebagian juga tidak bisa berangkat dengan alasan yang sama. Kendati demikian, pihaknya tetap berusaha dan menyiasati agar proses belajar dan mengajar tetap berlangsung. ”Kondisi ini memang cukup mengganggu proses pembelajaran.
Tapi kita berusaha semaksimal mungkin agar pembelajaran tetap berjalan,” tegasnya. Untuk tingkat sekolah dasar, menurutnya, jumlah siswa yang tak bisa berangkat tak terlalu signifikan. Lain halnya dengan di tingkat SMP dan SMA sederajat.
Sebab, siswa di jenjang sekolah menengah itu banyak yang berasal dari wilayah-wilayah yang jauh dari sekolah. Praktis, untuk berangkat ke sekolah kebanyakan menggunakan sepeda motor. ”Kalau yang rumahnya lebih dari tujuh kilometer dari sekolah, maka menggunakan sepeda motor. Kalau tidak, ya diantar.
Kondisi ini terjadi hampir di semua sekolah jadi sejak beberapa hari yang lalu saat BBM di tingkat pengecer kosong,” imbuhnya. Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan MTs Safinatul Huda, Alwiyah menyampaikan, siswa yang tak masuk sekolah pada Selasa kemarin sebanyak 35 anak dari total 112 siswa.
Sementara, jumlah guru yang tak masuk sekolah sebanyak enam orang. ”Dari kemarin (Senin) sudah banyak siswa yang tidak berangkat,” terangnya. Alwiyah menerangkan, sebagian besar guru dan siswa di MTs Safinatul Huda yang berada di Desa Kamujan berasal dari Desa Karimunjawa. Jarak tempuh menuju sekolah sekitar 15 kilometer.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jepara Fadkhurrazi mengatakan, BBM jenis premium dan pertalite memang langka. Kondisi itu menyebabkan aktivitas sekolah cukup terpengaruh. Kendati demikian, pihaknya menjamin aktivitas sekolah tidak sampai vakum.
”Sementara ini aktivitas belajar mengajar di SD dan SMP di Karimunjawa masih lancar dan tetap berlangsung,” ucap Fadkhurrazi. Sebagaimana diberitakan Suara Merdeka (30/1), sejak 18 Januari lalu, BBM untuk semua jenis di SPBU Karimunjawa telah habis.
Pengiriman terakhir BBM ke Karimunjawa yang dilakukan Pertamina pada 13 Januari lalu. Sementara, BBM di tingkat pengecer sudah habis, lebih dari sepekan yang lalu. Kelangkaan itu dikhawatirkan masih berlangsung hingga beberapa hari ke depan.
Sekretaris Camat Karimunjawa Nor Sholeh mengatakan, berdasarkan informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kondisi gelombang tinggi masih akan terjadi di perairan Karimunjawa hingga tiga hari ke depan. Kondisi ini berpotensi membuat kapal pengangkut BBM dari Semarang tak kunjung bisa berangkat. 


Sumber Berita : http://www.suaramerdeka.com/smcetak/detail/30700/Banyak-Siswa-Tak-Berangkat-ke-Sekolah