Cari Blog Ini

Rabu, 31 Januari 2018

Cuaca Buruk, Premium di Karimunjawa Tembus Rp 20 Ribu Per Liter

KARIMUNJAWA - Musim baratan tak hanya berdampak pada putusnya penyeberangan dari Jepara menuju Karimunjawa dan sebaliknya. Cuaca buruk yang terjadi sepekan terakhir juga membuat bahan bakar minyak (BBM) di wilayah terluar Jepara tersebut langka.
Sejak lima hari terakhir, tidak ada pengiriman BBM ke Karimunjawa. Beberapa kali nelayan setempat nekat mengambil BBM dari Jepara. Hanya saja jumlahnya tak banyak dan belum mampu memenuhi kebutuhan BBM di wilayah tersebut.
Salah satu warga Desa/Kecamatan Karimunjawa, Fatmawati menyampaikan, sudah lima hari dia kesulitan mencari bensin. ”Kemarin ambil bensin dari motor orang tua yang ada bensinnya namun saat ini sudah habis juga,” katanya saat dihubungi kemarin.
Bensin yang tersisa digunakannya untuk kendaraan supaya tetap bisa digunakan ke sekolah. ”Kalau besok (hari ini) masih tidak ada bensin ya kendaraan saya tidak bisa digunakan,” ujar salah satu guru SD di Desa Karimunjawa tersebut.
Warga Desa Karimunjawa lainnya, Djati mengatakan, kemarin sejak kemarin keluarganya tak bisa melaut. ”Rencananya mau melaut tapi karena masih tidak ada BBM pihaknya terpaksa tak bisa melaut,” ungkapnya.
Hal itu juga berdampak bagi usaha pariwisata yang dijalankannya. ”Biasanya saya ada rental motor untuk wisatawan. Tapi sudah sepekan terakhir tidak ada penyewaan, kami batalkan karena tidak ada BBM,” ujarnya.
Warga lainnya, Aminah menyatakan, dia mendapat jatah bensin dua liter Minggu sore. Bensin itu diperoleh dari nelayan setempat yang nekat berangkat ke Jepara. ”Ada yang ambil ke Jepara dan dibagi rata di satu RT saya. Dibagi dua liter per orangnya,” ujarnya.
Itupun harus dibeli dengan harga lebih mahal. Biasanya Rp 10 ribu per liter tapi saat ini Rp 12 ribu. ” masih beruntung karena ada juga yang jual Rp 15 hingga 20 ribu,” tuturnya.
Di Desa Kemojan, Kecamatan Karimunjawa, hal yang sama juga terjadi. Salah satu warga Desa Kemojan, Kecamatan Karimunjawa, David Burhan mengatakan, selama lima hari terakhir pasokan BBM hampir tidak ada. Hal tersebut berdampak pada aktivitas masyarakat. ”Baik untuk kendaraan sehari-hari maupun untuk melaut mencari ikan,” katanya.
David melanjutkan, kendaraan banyak yang tidak bisa digunakan lantaran bensinnya habis. Sementara nelayan tidak bisa mencari ikan karena solar langka. ”Saat ini musim cumi-cumi, jadi kalau melaut harus menggunakan penerangan lebih. Tidak bisa pakai lampu tenaga surya yang terbatas tapi harus pakai genset. Tiap melaut butuh 3 hingga 5 liter untuk genset,” ungkapnya.
David menyampaikan, pada Minggu kemarin memang sempat ada BBM datang yang dibawa dengan kapal nelayan. Hanya saja jumlahnya terbatas. ”Kami antre lama sekali dan hanya dijatah dua liter per orang,” urainya.
Mengingat kelangkaan BBM selalu terjadi setiap musim baratan, David mengharapkan, bisa dicarikan solusi terbaik. “Kondisi semacam ini bukan hal baru. Seharysnya jauh-jauh hari sudah ada persiapan,” jelasnya.
Saat ini solusi sementara yang bisa dilakukan hanya nelayan kecil membawa 5 hingga 10 jerigen dari Jepara. “Kami berharap kapal yang biasa angkut BBM segera beroperasi kembali,” imbuhnya.

Sumber Berita : https://www.jawapos.com/radarkudus/read/2018/01/30/44800/cuaca-buruk-premium-di-karimunjawa-tembus-rp-20-ribu-per-liter