Surakarta—Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan pemerintah
menyiapkan transformasi Balai Latihan Kerja (BLK) agar pelatihannya
makin relevan dengan kebutuhan industri, lebih mudah diakses, dan buka
kesempatan kerja kerja serta wirausaha lebih luas. Transformasi itu
mencakup penguatan BLK sebagai Klinik Produktivitas, Talent and
Innovation Hub (TIH), serta inkubator bisnis.
Menurut Yassierli,
transformasi BLK ditujukan agar manfaat pelatihan lebih terasa bagi
publik dimana keterampilan yang dipelajari lebih “nyambung” dengan
kebutuhan dunia kerja yang terus berubah, sekaligus memperluas peluang
masyarakat untuk bekerja maupun berusaha.
Untuk
mengimplementasikan transformasi tersebut, Kemnaker akan berkolaborasi
dengan kalangan akademisi agar kompetensi SDM selaras dengan kebutuhan
industri terkini.
“Kami akan mengajak dunia kampus untuk
menjadikan BLK sebagai Klinik Produktivitas untuk memenuhi kebutuhan
industri dalam dan luar negeri. Misalnya dengan pelatihan di bidang
green jobs, smart creative IT skills, dan smart operation,” ujar
Yassierli saat berkunjung ke Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas
(BPVP)—yang sebelumnya dikenal sebagai BLK— Surakarta, Jawa Tengah,
Jumat (30/1/2026).
Ia menjelaskan, sinergi dengan akademisi juga
akan dilakukan untuk memperkuat transformasi fungsi BLK sebagai
pelaksanaan TIH, pusat pelatihan bagi penyandang disabilitas, serta
pusat peningkatan produktivitas UMKM.
Yassierli menilai penguatan
fungsi ini diperlukan agar BLK bukan hanya tempat pelatihan, tetapi
juga ruang peningkatan kompetensi yang lebih inklusif dan berdampak.
Selain pelatihan, Kemnaker juga menyiapkan peran BLK sebagai inkubator
bisnis (wirausaha).
“Kemnaker sedang menyiapkan BLK sebagai
inkubator bisnis. Yang mau mulai wirausaha akan dicarikan ide bisnisnya
apa, siapa kompetitornya, model bisnisnya, strategi pengembangan
bisnisnya, dan pemasarannya,” kata Yassierli.
Yassierli
mengungkapkan, selama ini BLK menghadapi sejumlah tantangan yang perlu
dibenahi agar dampaknya lebih besar bagi masyarakat, antara lain jumlah
penerima manfaat, efisiensi biaya, sistem jaminan kualitas pelatihan,
kebaruan kurikulum, transparansi rekrutmen, serta pelacakan data
lulusan/alumni.
“Optimalisasi BLK ini bertujuan meningkatkan
kapasitas dan kualitas BLK yang saat ini dinilai perlu ditingkatkan agar
lebih efisien dalam menjawab tantangan pengangguran,” ujar Yassierli.





