Cari Blog Ini

Minggu, 22 Februari 2026

Menag: Ramadhan Madrasah Kehidupan, Perkuat Syukur dan Kepedulian


 

Jakarta (Kemenag) — Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak masyarakat menjadikan bulan suci Ramadan sebagai momentum memperkuat rasa syukur dan membangun ketahanan spiritual, baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari bangsa.

Pesan tersebut disampaikan saat tausiyah pada peringatan HUT PATAKA 83 ke-43 di Gedung Widya Warapsari, Jakarta, Minggu (22/2/2026).

Menurut Menag, Ramadan bukan sekadar ibadah tahunan, melainkan ruang pembinaan diri yang berdampak pada kualitas kehidupan bersama. “Ramadan adalah madrasah kehidupan. Di dalamnya kita dilatih sabar, jujur, disiplin, dan peduli. Nilai-nilai inilah yang memperkuat fondasi moral kita sebagai individu dan sebagai bangsa,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa rasa syukur harus terus dirawat dalam setiap keadaan. “Kita patut bersyukur atas setiap nikmat yang Allah berikan, sekecil apa pun itu. Syukur menjaga hati tetap tenang dan pikiran tetap jernih dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan,” katanya.

Menag menjelaskan bahwa syukur dalam ajaran Islam tidak berhenti pada ungkapan lisan, tetapi harus tercermin dalam sikap dan perbuatan. “Tahmid adalah memuji Allah dengan lisan. Tetapi syukur adalah menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan diberikannya nikmat itu,” tegasnya.

Menurutnya, setiap nikmat membawa tanggung jawab moral. “Kalau diberi ilmu, wujud syukurnya adalah berbagi pengetahuan. Kalau diberi rezeki, wujud syukurnya adalah membantu sesama. Kalau diberi amanah, wujud syukurnya adalah menjalankannya dengan jujur dan penuh tanggung jawab,” ujarnya

Menag menambahkan bahwa syukur yang benar akan melahirkan kepedulian sosial dan mempererat hubungan antarsesama. “Syukur itu produktif. Ia melahirkan kerja keras, keikhlasan, dan kontribusi. Orang yang bersyukur tidak hanya menikmati nikmat, tetapi juga menghadirkan manfaat,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa kehidupan selalu menghadirkan berbagai ujian dan tantangan, sehingga ketahanan spiritual menjadi penting untuk dijaga. “Ketahanan spiritual membuat kita tidak mudah goyah, tidak mudah putus asa, dan tidak mudah terpecah oleh perbedaan,” ujarnya.

Di bulan suci Ramadan ini, Menag mengajak masyarakat menjadikan bulan suci sebagai momentum refleksi dan perbaikan diri. “Ramadan adalah waktu terbaik untuk mengaudit diri. Sudahkah nikmat yang kita terima membawa kebaikan bagi orang lain? Sudahkah ibadah kita memperhalus akhlak kita?” katanya.

Ia berharap Ramadan tahun ini menjadi titik tolak pembaruan diri yang berdampak luas. “Semoga Ramadan memperkuat rasa syukur kita, memperhalus hati kita, dan memperkokoh ketahanan spiritual dalam kehidupan bersama,” pungkasnya.

 

 

Sumber : https://kemenag.go.id/nasional/menag-ramadhan-madrasah-kehidupan-perkuat-syukur-dan-kepedulian-I6sNu