Jakarta, 11 Juni 2026 –
Tantangan pendidikan di Asia Tenggara memerlukan penanganan bersama
yang menyentuh akar rumput. Anak-anak penyandang disabilitas, masyarakat
adat, serta murid di wilayah terpencil masih sering menghadapi tembok
struktural untuk mendapatkan hak belajar yang setara. Berangkat dari
kepedulian mendalam ini, para pembuat kebijakan, peneliti, dan praktisi
se-Asia Tenggara berkumpul dalam forum Southeast Asia Ministers of
Education Organization (SEAMEO) Centre Policy Research Network (CPRN)
Summit 2026 yang digelar pada 9–11 Juni 2026 di Jakarta, untuk
merumuskan langkah nyata.
Forum regional tahunan yang
diselenggarakan oleh SEAMEO Centre for Early Childhood Care Education
and Parenting (CECCEP) menempatkan kementerian terkait di Indonesia,
termasuk Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen),
sebagai tuan rumah bersama. Kehangatan kolaborasi antarnegara tersebut
sangat terasa dalam sesi Gala Dinner yang dilaksanakan pada Selasa
(9/6). Acara ini menjadi momen bersejarah dengan diresmikannya kerja
sama strategis melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of
Understanding/MoU) antara SEAMEO dan Global Partnership for Education
Knowledge and Innovation Exchange Europe, Middle East and North Africa,
Asia and Pacific (GPE KIX EMAP) Hub demi mempercepat transformasi hasil
riset menjadi kebijakan konkret di kelas.
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen,
Suharti, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas dedikasi SEAMEO
CECCEP di bawah kepemimpinan Vina Adriany yang telah mempersiapkan forum
ini dengan luar biasa. Dalam pandangannya, jalinan relasi di antara
para praktisi dan peneliti lintas negara merupakan fondasi terkuat bagi
keberhasilan pendidikan anak-anak.
“Hubungan yang terbangun di
ruangan ini, yang dibentuk oleh kerja bersama selama bertahun-tahun,
perbedaan pendapat yang jujur, dan rasa saling menghormati, merupakan
suatu bentuk infrastruktur kebijakan tersendiri,” ujar Suharti. Ia
menekankan bahwa riset kebijakan sering kali menjadi kerja sunyi yang
jarang menjadi sorotan utama media, namun konsisten membentuk masa depan
murid.
Semangat kebersamaan regional ini diperkuat oleh
Direktur SEAMEO Secretariat, Datuk Habibah Abdul Rahim. Ia menyebutkan
bahwa penandatanganan kerja sama yang bertepatan dengan momen peringatan
hari jadi SEAMEO yang ke-60, menjadi jembatan berharga untuk memperluas
akses praktik-praktik baik bagi anak-anak di seluruh kawasan. Ia
menekankan pentingnya merayakan semangat kolaborasi yang telah
mendefinisikan perjalanan organisasi selama enam dekade terakhir.
“Melalui
kolaborasi ini, kita berharap dapat memperluas peluang pembelajaran
lintas negara, memperkuat praktik-praktik yang menjanjikan, dan
berkontribusi pada sistem pendidikan yang lebih responsif serta inklusif
bagi murid di Asia Tenggara dan sekitarnya,” ujar Habibah.
Komitmen
global untuk mendengarkan kebutuhan lokal juga ditegaskan oleh Direktur
GPE KIX EMAP Hub, José Luís Benito Canêlhas. Lembaganya berkomitmen
mengoptimalkan kapasitas serta keahlian lokal yang sudah ada di negara
mitra seperti Indonesia dan Filipina. “Tujuan kami adalah mengangkat
keahlian yang memang sudah ada di negara-negara ini. Kami bekerja
bersama para pakar dan institusi yang setiap hari berjuang membuat
pendidikan menjadi lebih baik untuk anak-anak mereka, demi masa depan
mereka sendiri,” tegas José Luís.
Melalui
sinergi erat yang digerakkan oleh SEAMEO bersama seluruh pemangku
kepentingan lintas sektor, CPRN Summit 2026 diharapkan tidak hanya
melahirkan dokumen riset, melainkan panduan kebijakan yang inklusif dan
adil. Gotong royong berskala regional ini menjadi bukti nyata bahwa
seluruh pemangku kepentingan di Asia Tenggara bergerak dengan satu
ketulusan yaitu memastikan tidak ada satu pun murid yang terabaikan
dalam meraih masa depannya










