Jakarta, 21 Juli 2026
- Kinerja APBN hingga 30 Juni 2026 menunjukkan kondisi yang semakin solid, ditandai dengan pertumbuhan Pendapatan Negara yang tetap kuat, realisasi Belanja Negara yang semakin meningkat dan terjaga proporsinya sepanjang tahun, serta pengelolaan fiskal yang tetap hati-hati untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi nasional.
- Realisasi Pendapatan Negara mencapai Rp1.459,4 triliun atau 46,3% dari target APBN 2026. Capaian ini tumbuh tinggi sebesar 21,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kinerja tersebut terutama didorong oleh penerimaan pajak yang mencapai Rp1.035,7 triliun dengan pertumbuhan 24,6% (yoy), penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp152,0 triliun yang tumbuh 3,4% (yoy), serta PNBP sebesar Rp271,0 triliun yang juga tumbuh 21,6% (yoy).
- Sementara itu, Belanja Negara terealisasi sebesar Rp1.656,0 triliun atau 43,1% dari target APBN 2026. Belanja Negara mengalami pertumbuhan sebesar 17,8% (yoy). Belanja Pemerintah Pusat (BPP) mencapai Rp1.298,6 triliun, didorong oleh peningkatan Belanja Kementerian/Lembaga (K/L) yang terealisasi sebesar Rp658,9 triliun dan Belanja nonK/L sebesar Rp639,7 triliun. Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) terealisasi sebesar Rp357,4 triliun atau 51,6% dari target APBN.
- Defisit APBN tercatat sebesar 0,76% PDB, dan keseimbangan primer surplus sebesar Rp85,1 triliun. Capaian ini mencerminkan pengelolaan fiskal yang sehat dan menjadi indikator penting terjaganya kesinambungan fiskal.
- Dalam rangka memperluas basis investor dan melakukan diversifikasi sumber pembiayaan, Pemerintah berencana melakukan penerbitan Panda Bonds pada 23 Juli 2026 (tergantung pada kondisi pasar) dengan target ekuivalen USD1 miliar. Berkenaan dengan rencana penerbitan Panda Bonds tersebut, telah dilakukan pemeringkatan oleh Lianhe Rating Co., Ltd. dengan peringkat AAA/Stable, yang merupakan level rating tertinggi. Hal ini mencerminkan kuatnya fundamental ekonomi Indonesia dan kredibilitas pengelolaan fiskal yang berkelanjutan.
- Pada pertengahan bulan Juli, Pemerintah juga berhasil mempertahankan peringkat kredit Republik Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil dari lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's Global Ratings (S&P). Keputusan tersebut menegaskan kepercayaan internasional terhadap ketahanan ekonomi Indonesia, kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter, serta kemampuan Pemerintah menjaga stabilitas ekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
- Pemerintah akan terus menjaga APBN tetap sehat, kredibel, dan adaptif untuk memperkuat stabilitas ekonomi, menjaga keberlanjutan fiskal, meningkatkan kepercayaan investor, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.







