Cari Blog Ini

Jumat, 17 Juli 2026

Harga di Peternak Unggas Naik 5 Persen, MBG Beri Stimulus Positif Bantu Jaga Stabilitas Pangan

 

JAKARTA — Adanya deklinasi harga produk ternak unggas diakui pelaku usaha disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat permintaan masyarakat. Kendati begitu, pertumbuhan positif harga di tingkat peternak unggas mulai dirasakan secara gradual.

Anggota Gabungan Peternak Rakyat Solo Raya Parjuni menuturkan faktor yang mempengaruhi antara lain momen bulan Suro dan penghentian sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah. Namun saat ini mulai dirasakan adanya growth atau pertumbuhan harga di kalangan peternak unggas.

"Memang mungkin karena kemarin momen di bulan Juni yaitu Suro, kalau di Jawa kan sedikit turun, ditambah mungkin program MBG off kemarin. Jadi itu juga menjadikan demand (permintaan) dari masyarakat itu turun," ungkap Parjuni dalam suatu dialog televisi swasta dikutip di Jakarta pada Jumat (17/7/2026).

Parjuni mengatakan mulai ada pertumbuhan harga, meskipun masih belum mencapai Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat peternak. Ia pun berharap pemerintah dapat terus mendukung peternak unggas, misalnya dengan pengguliran program bantuan pangan berupa telur dan daging ayam karkas.

"Kemarin itu harganya (telur) Rp 17.000 sampai Rp 18.000. Sampai dengan hari ini di kisaran Rp 20.000 sampai Rp 21.000. Jadi memang ada growth naik. (Dahulu) itu kan ada program stunting. Barangkali nanti bisa dibikin pola yang sama. Jadi konsepnya (dibahas) sekarang, September aplikasi. Itu saya kira nanti akan mengatasi," kata Parjuni.

Untuk diketahui, pada tahun 2023 dan 2024 Badan Pangan Nasional (Bapanas) sempat menugaskan ID FOOD melalui Kementerian BUMN untuk menyalurkan bantuan pangan pengentasan stunting kepada 1,4 juta keluarga masing-masing diberi 1 kilogram (kg) daging ayam dan 10 butir telur ayam per bulan. Alokasi bantuan diberikan untuk 3 bulan.

Dalam pelaksanaan bantuan pangan tersebut, pemerintah telah berkolaborasi dengan banyak peternak rakyat mandiri kecil, mikro, dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah). Sampai tahun 2024 tercatat telah terlaksana kemitraaan dengan total sampai 8.778 peternak yang terdiri dari 6.895 peternak ayam petelur dan 1.883 peternak ayam broiler.

Terpisah, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menerangkan rencana pengguliran kembali program bantuan pangan serupa di tahun ini masih menunggu. Rapat koordinasi terbatas (Rakortas) bidang pangan belum memutuskannya.

"(Bantuan pangan telur dan daging ayam) belum ada keputusan Rakortas. Tentu nanti kita masih perlu menunggu. Jika dimungkinkan diputuskan, (tentu) kita lakukan," jawab Deputi Bapanas Ketut saat ditanya awak media di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta (14/7/2026).

Walakin, Ketut memastikan kondisi harga telur dan ayam broiler di tingkat peternak saat ini telah memperlihatkan tren yang bergerak positif. Tentu ini juga merupakan implikasi program MBG yang sudah mulai berjalan kembali dan terbukti memberikan stimulus pengerek harga di hulu rantai pasok pangan.

"Jadi MBG itu ada pengaruhnya, dengan (sudah) melewati bulan Suro sekaligus juga mulai masuk anak sekolah, (lalu) MBG dimulai, ini merangkak sudah mulai naik. Nah kalau ini sudah dilewati, tentu harga akan mulai terkoreksi positif bagi peternak kita. Tolong biarkan dulu peternak kita menikmati, sehingga mencapai harga acuan yang kita tetapkan," jelas dia.

Berdasarkan pantauan harga Bapanas, per 16 Juli rerata harga ayam broiler secara nasional di tingkat peternak telah meningkat 5,53 persen dalam seminggu terakhir. Adapun seminggu yang lalu masih berada di Rp 20.878 per kg berat hidup. Kemudian bergerak naik pada 16 Juli menjadi Rp 22.032 per kg berat hidup.

Terpantau di Sumatera Selatan menjadi daerah dengan rerata harga ayam broiler paling rendah dengan Rp 19.500 per kg berat hidup. Sementara daerah dengan rerata harga paling tinggi adalah Riau di Rp 26.000 per kg berat hidup.

Untuk rerata harga daging ayam ras di tingkat konsumen juga mengalami kenaikan, namun terhitung masih di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan di Rp 40.000 per kg. Sementara rerata harga telur di tingkat konsumen secara nasional per 16 Juli berada di Rp37.040 atau minus 7,4 persen dari HAP.

Lebih lanjut, untuk rerata harga telur ayam di tingkat peternak secara nasional per 16 Juli telah mengalami pergerakan cukup siginifikan hingga 2,2 persen jika dibandingkan terhadap sepekan lalu. Dari Rp 22.495 per kg bergerak menjadi Rp 22.989 per kg.

Akan tetapi, rerata harga telur peternak di Sulawesi Utara telah mencapai Rp 27.067 atau melebihi HAP yang ditetapkan di Rp 26.500 per kg. Sementara di Banten masih di bawah HAP dengan rerata harga telur tingkat peternaknya di Rp 21.250 per kg.

Untuk rerata harga telur ayam ras secara nasional di tingkat konsumen juga naik tipis di Rp 27.798 per kg atau minus 7,34 persen dari HAP. Level harga tersebut patut dipahami masih di bawah HAP tingkat konsumen yang dipatok pada harga Rp 30.000 per kg.

Adapun pertumbuhan positif harga di peternak unggas tersebut diamini pula oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda. Dalam suatu dialog yang ditayangkan televisi swasta, Dirjen Agung menuturkan berkat program MBG yang telah kembali berjalan, memberi harapan kebangkitan bagi kalangan peternak.

"Untuk ayam di tingkat peternak harganya alhamdulillah per hari ini sudah Rp 22.000 dan sesuai dengan target kita. Kemudian kalau telur tadi masih sekitar Rp 22.000 juga. Memang karena dengan kembalinya beroperasi dapur-dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), ini salah satu yang tentu akan memicu peningkatan serapan," kata Agung.

"Kalau kami justru para petani, para peternak sangat terbantu dengan adanya program MBG ini, karena ada harapan MBG ini. Dan ingat 1 dapur itu membutuhkan 1,86 ton per bulan untuk telur. Ini tentu mendorong ekonomi rakyat," ungkap Dirjen Kementan Agung Suganda.

 

 


Sumber : https://badanpangan.go.id/blog/post/harga-di-peternak-unggas-naik-5-persen-mbg-beri-stimulus-positif-bantu-jaga-stabilitas-pangan