Jakarta, Menteri
Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai, pertumbuhan ekonomi
Indonesia yang berada di level 5,6 persen menunjukkan kondisi
perekonomian secara agregat berada dalam keadaan baik. Dalam konferensi
pers APBN KiTa yang diselenggarakan pada Selasa (21/07) di Jakarta,
Menkeu menegaskan bahwa kinerja ekonomi tidak dapat dinilai dari satu
sisi saja.
"Jangan lihat soal exit perusahaan
saja, jangan lihat satu sisi saja. Kita lihat data agregatnya 5,6
persen, artinya pertumbuhan ekonomi baik secara agregat. Pemerintah
kasih macam-macam stimulus," terangnya.
Menkeu menambahkan, pemerintah terus
berupaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional melalui berbagai
stimulus untuk mendorong aktivitas ekonomi. Oleh karena itu, ia meminta
masyarakat melihat kondisi perekonomian secara lebih menyeluruh dengan
mempertimbangkan berbagai indikator, bukan hanya fenomena yang terjadi
pada sektor atau perusahaan tertentu.
Lebih lanjut Menkeu menjelaskan bahwa
kondisi ekonomi makro dan mikro merupakan dua hal yang saling berkaitan.
Oleh karena itu, tidak tepat jika kondisi ekonomi makro dikatakan baik,
sementara kondisi ekonomi mikro secara keseluruhan dianggap buruk tanpa
melihat indikator yang lebih konkret.
"Makro (dan) mikro bukan hal yang lepas.
Tidak mungkin makronya bagus terus mikronya jelek. Berapa penciptaan
lapangan kerja baru dan pengangguran baru, di situ baru ketahuan
angkanya," tegasnya.
Selanjutnya, Menkeu juga menegaskan bahwa
keberhasilan kebijakan ekonomi tidak hanya tercermin dari angka
pertumbuhan, melainkan juga dari seberapa besar dampaknya terhadap
kehidupan masyarakat dan dunia usaha.
Sumber : https://www.kemenkeu.go.id/informasi-publik/publikasi/siaran-pers/Tumbuh-5,6-Persen,-Menkeu-Tegaskan







.jpeg)