Jakarta, 13 Oktober 2026 — Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya (MCB) melakukan pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa Candi Borobudur untuk menjaga kestabilan struktur serta menangani pelapukan dan penggaraman batu. Pekerjaan ini dilakukan setelah monitoring dan kajian teknis pada Agustus 2026 lalu yang mengidentifikasi adanya pergeseran susunan batu, rongga, dan rekahan pada bagian yasti dan harmika, serta kerusakan material pada stupa induk.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dalam taklimat media bertajuk “Pemugaran Yasti Mahastupa Candi Borobudur” yang berlangsung di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, menjelaskan bahwa pemugaran yasti difokuskan pada pemulihan kestabilan struktur dengan tetap mengutamakan keaslian material. Menurutnya, penanganan ini penting karena yasti berada di bagian paling atas stupa induk sehingga kondisi strukturnya perlu dijaga untuk mendukung keutuhan bangunan.
“Pemugaran ini dilakukan berdasarkan temuan dan kajian teknis di lapangan, dengan mengutamakan penggunaan material asli. Setiap batu didokumentasikan, diberi nomor, dan dipasang kembali pada posisi semula. Hingga saat ini, belum ada batu yang diganti karena setiap tindakan harus didasarkan pada pemeriksaan yang cermat dan sesuai dengan prinsip pelestarian cagar budaya,” ungkap Menbud Fadli.
Selain pemugaran Yasti, Kementerian Kebudayaan juga melakukan konservasi Mahastupa untuk menangani pelapukan batu, rongga, rekahan, dan penggaraman yang dapat memengaruhi ketahanan material. Menbud Fadli menekankan bahwa perubahan kondisi lingkungan, termasuk dampak perubahan iklim dan paparan cuaca dalam jangka panjang, menjadi tantangan yang perlu diperhitungkan dalam upaya pelestarian Candi Borobudur.
“Pelestarian Candi Borobudur membutuhkan pemantauan dan penanganan yang berkelanjutan. Kita perlu memastikan setiap tindakan dilakukan berdasarkan kajian ilmiah, dengan mempertimbangkan kondisi material dan riwayat penanganannya. Dengan demikian, keutuhan struktur dan nilai penting Borobudur sebagai warisan budaya dapat terus dijaga untuk generasi mendatang,” tambah Menbud.
Lebih jauh, Menbud juga menyampaikan bahwa Kementerian Kebudayaan turut menerima aspirasi umat Buddha terkait rencana pemasangan chattra di puncak Mahastupa. Rencana tersebut masih “Kami menghargai aspirasi umat Buddha dan memandang pentingnya dialog dalam membahas rencana tersebut. Setiap langkah perlu melalui kajian yang cermat dan memperhatikan ketentuan pelestarian Candi Borobudur sebagai Warisan Dunia,” ungkap Menbud Fadli.
Sementara itu, Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha, turut menegaskan bahwa pelestarian Candi Borobudur perlu dilakukan dengan memperhatikan nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan spiritualitas yang terkandung di dalamnya. Wamen Giring juga menekankan pentingnya kesiapan menghadapi risiko perubahan iklim dan bencana yang dapat memengaruhi kelestarian cagar budaya.
“Borobudur merupakan mahakarya peradaban Nusantara yang menjadi warisan Indonesia sekaligus warisan dunia. Karena itu, upaya pelestariannya harus didukung kajian ilmiah dan perencanaan yang matang, termasuk dalam menghadapi perubahan iklim serta berbagai risiko bencana. Pada saat yang sama, pelestarian juga perlu memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar Borobudur melalui pengembangan ekonomi budaya yang berkelanjutan,” ucap Wamen Giring.
Pakar sekaligus Ketua Tim Penyusun Heritage Impact Assessment (HIA), Ali Akbar, juga menjelaskan bahwa kebutuhan pemugaran diketahui melalui serangkaian pemeriksaan teknis terhadap kondisi yasti. Tim menggunakan sejumlah metode, termasuk Ground Penetrating Radar (GPR), pemindaian ultrasonik, dan hammer test untuk mengidentifikasi kondisi struktur dan material.
“Pemeriksaan dengan berbagai metode menunjukkan bahwa bagian yasti masih utuh, tetapi kondisinya rapuh dan memiliki sejumlah rongga serta rekahan yang perlu ditangani. Karena posisinya berada di puncak Mahastupa, temuan tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pemugaran yang terukur dan berdasarkan hasil pemeriksaan teknis. Penanganan ini juga menjadi kesempatan untuk memahami lebih jauh kondisi bagian atas Borobudur yang sudah lama tidak mendapatkan pemugaran menyeluruh,” kata Ali Akbar.
Pemugaran Yasti dan konservasi Mahastupa dilaksanakan oleh tim gabungan Kementerian Kebudayaan melalui MCB dengan melibatkan tenaga ahli di bidang arkeologi, konservasi, teknik sipil dan struktur, serta metalurgi. Pekerjaan dilakukan secara bertahap melalui pemeriksaan, dokumentasi, dan analisis material sebelum tindakan lanjutan ditentukan. Pendekatan ini bertujuan memastikan penanganan sesuai dengan kondisi aktual bangunan serta tetap mempertahankan keaslian material.
Candi Borobudur telah melalui sejumlah pekerjaan pemugaran dan konservasi sejak dibangun sekitar abad ke-8 hingga ke-9 M. Pemugaran besar pertama berlangsung pada 1907–1911 di bawah pimpinan arkeolog Theodoor van Erp, sedangkan pemugaran besar berikutnya dilaksanakan pada 1973–1983 melalui kerja sama Pemerintah Indonesia dan UNESCO. Pada 2010, penanganan intensif juga dilakukan setelah erupsi Gunung Merapi menyebabkan abu vulkanik menyelimuti kawasan candi dan mengganggu sistem drainase.
Pemugaran Yasti kali ini menjadi penanganan pada bagian Mahastupa yang telah lama tidak tersentuh pemugaran. Selain memperkuat struktur, pekerjaan ini juga menjadi bagian dari upaya evaluasi terhadap material dan metode penanganan terdahulu berdasarkan perkembangan ilmu konservasi.
Selama pekerjaan berlangsung, Candi Borobudur tetap dibuka untuk pengunjung dengan penyesuaian jalur demi menjaga keselamatan pengunjung dan pekerja. Kunjungan reguler dan pilgrim dapat mengakses candi hingga lantai 8 atau teras 1, sedangkan kunjungan sunrise dan sunset tetap dapat berlangsung hingga lantai 9 atau teras 2. Pelataran utara ditutup sementara dan digunakan sebagai zona kerja.
Pekerjaan ditargetkan selesai pada 24 Oktober 2026, dengan kemungkinan penyesuaian berdasarkan kondisi teknis di lapangan. Pembukaan kembali area yang ditutup akan dilakukan secara bertahap setelah pemeriksaan akhir memastikan area aman untuk dikunjungi.
Turut hadir dalam kesempatan ini, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha Kementerian Agama, Supriyadi. Turut hadir mendampingi Menteri Kebudayaan, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra; Inspektur Jenderal, Fryda Lucyana; Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Publik, Ridwan; Direktur Warisan Budaya, Agus Widiatmoko; Direktur Promosi Kebudayaan, Undri; serta Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin.
Melalui pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa, Kementerian Kebudayaan berkomitmen menjaga keutuhan struktur, keaslian material, dan nilai penting Candi Borobudur melalui penanganan yang berbasis kajian ilmiah serta sesuai dengan prinsip pelestarian cagar budaya. Upaya ini diharapkan dapat memastikan keberlanjutan pelestarian Borobudur sebagai Warisan Dunia sekaligus menjaga warisan peradaban tersebut agar tetap dapat dipelajari dan diapresiasi oleh generasi mendatang.
Sumber : https://kemenbud.go.id/publikasi/berita/kementerian-kebudayaan-lakukan-pemugaran-yasti-dan




