Cari Blog Ini

Selasa, 13 Oktober 2026

Resmikan Galeri Prajnaparamita di Museum Nasional Indonesia, Menteri Kebudayaan Dorong Museum Sebagai Ruang Edukasi Inklusif dan Modern

 

Jakarta, 13 Oktober 2026 – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa hadirnya Galeri Prajnaparamita dengan huruf Braille serta tata pamer imersif merupakan langkah strategis dalam melestarikan warisan budaya sekaligus memperkuat fungsi museum sebagai ruang edukasi yang inklusif dan modern. Hal tersebut disampaikan saat Peresmian Galeri Prajnaparamita di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

Arca Prajnaparamita merupakan mahakarya tiga dimensi abad ke-13 M dari kawasan percandian Singasari, Jawa Timur. Arca ini melambangkan sosok dewi kebijaksanaan tertinggi sebagai personifikasi dari naskah sutra Buddha Mahayana. Diciptakan pada masa kejayaan Kerajaan Singasari saat ajaran Hindu dan Buddha berkembang harmonis, arca ini dipahat dengan kehalusan luar biasa dalam posisi meditasi vajrasana, dengan kedua tangan membentuk sikap dharmacakra mudra, serta diapit bunga teratai penopang naskah sutra di sisi kirinya. Raut wajahnya yang tenang dengan pandangan terpusat ke ujung hidung memancarkan kekhusyukan batin, keanggunan, dan ketenangan yang kini dihadirkan khusus bagi pengunjung Museum Nasional Indonesia.

Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa Arca Prajnaparamita yang dipamerkan merupakan artefak asli, sehingga publik dapat melihat langsung keanggunan mahakarya Nusantara secara utuh. Galeri Prajnaparamita turut dilengkapi dengan deskripsi berhuruf Braille, serta replika miniatur arca yang memungkinkan pengunjung merasakan langsung tekstur dan proporsi arca melalui sentuhan. Kehadiran informasi Braille, objek edukasi taktil, dan miniatur yang dapat disentuh menunjukkan bahwa kesempatan untuk mengenal warisan budaya terbuka bagi semua orang.

“Galeri Prajnaparamita ini menampilkan arca asli, bukan replika, secara khusus mahakarya dari nenek moyang kita. Salah satu pencapaian artistik dan estetika yang tertinggi. Bahkan kalau boleh dibilang, arca Prajnaparamita ini adalah Monalisa-nya Indonesia, Monalisa dari Jawa. Selain itu, dalam upaya pengembangan museum yang inklusif, termasuk bagi kalangan disabilitas terutama disabilitas netra, tersedia narasi dalam huruf braille, kemudian juga ada miniatur yang bisa dipegang. Jadi kira-kira bisa meraba bagaimana bentuk Arca Prajnaparamita,” kata Menbud.

Lebih lanjut, Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa tata pamer Galeri Prajnaparamita dirancang dinamis dengan memadukan teknologi digital serta tata cahaya modern untuk menarik minat generasi muda. Hal ini diselaraskan dengan tata ruang artistik berupa pendaran lampu berbentuk kelopak bunga lotus (padmasana) imersif yang menjadi pedestal atau dudukan persemayaman Arca Prajnaparamita.

Galeri Prajnaparamita diharapkan dapat menjadi salah satu signature serta point of interest utama di Museum Nasional Indonesia. Peninggalan bersejarah asal Candi Singasari, Jawa Timur, dari masa kejayaan Raja Kertanegara ini disajikan secara memikat guna menarik minat masyarakat untuk berkunjung dan menikmati pengalaman belajar sejarah secara lebih mendalam. Aktivasi melalui pameran temporer dan pameran artefak baru ini menjadi langkah strategis untuk menjadikan Museum Nasional Indonesia lebih dinamis dan interaktif.

“Galeri Prajnaparamita, Monalisa-nya dari Jawa atau Monalisa-nya Nusantara ini bisa menjadi suatu atraksi di Museum Nasional untuk mengapresiasi, menghargai karya dari nenek moyang kita yang menghadirkan sebuah arca yang begitu indah, menarik, dan luar biasa. Ke depannya juga diharapkan dapat melahirkan kajian yang semakin banyak,” ungkap Menteri Kebudayaan.

Hadir dalam acara peresmian Galeri Prajnaparamita yaitu Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama, Supriyadi. Turut hadir mendampingi Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo; Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra; Inspektur Jenderal, Fryda Lucyana; Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Publik, Ridwan; Direktur Warisan Budaya, Agus Widiatmoko; serta Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin.

Melalui peresmian Galeri Prajnaparamita Museum Nasional Indonesia diharapkan dapat meningkatkan antusiasme masyarakat untuk berkunjung serta menjadi lebih dinamis melalui penyajian artefak-artefak baru. Pengembangan galeri ini turut mengedepankan prinsip aksesibilitas dan inklusivitas sebagai langkah strategis untuk memperkuat peran museum sebagai ruang edukasi yang dapat diakses dan dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.




Sumber : https://kemenbud.go.id/publikasi/berita/resmikan-galeri-prajnaparamita-di-museum-nasional