Di tengah berbagai ketidakpastian global, Pemerintah akan terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional agar tetap kuat dan berkelanjutan. Capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,45% (ctc) pada Semester I-2026 menunjukkan bahwa kinerja perekonomian Indonesia masih berada pada jalur yang sesuai untuk mencapai target pertumbuhan yang telah ditetapkan. Ke depan, Pemerintah akan terus mendorong penguatan daya beli masyarakat, peningkatan investasi, percepatan hilirisasi, serta transformasi digital dan pengembangan UMKM sebagai upaya memperkuat daya saing dan menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional, Pemerintah terus mendorong penguatan ekonomi daerah melalui akselerasi investasi dan optimalisasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) serta Kawasan Industri (KI) untuk mengembangkan sektor unggulan daerah. Saat ini, terdapat 25 KEK dan 181 KI dengan total luas mencapai 125 ribu hektare. Khusus KEK, akumulasi investasi telah mencapai Rp368 triliun dan mampu menyerap hampir 250 ribu tenaga kerja.
“Salah satu sumber pertumbuhan baru yang dapat didorong adalah ekonomi digital. Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2025, nilai transaksi bruto ekonomi digital Indonesia mendekati USD100, tumbuh sekitar 14% yoy, sekaligus menjadi yang terbesar di Asia Tenggara,” jelas Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah Haryo Limanseto dalam acara Local Media Summit 2026, Jumat (23/10).
Untuk mendukung transformasi digital dan pertumbuhan ekonomi nasional, Pemerintah terus memperkuat pembangunan infrastruktur digital dan pasokan energi. Kapasitas pusat data nasional yang saat ini berada pada kisaran 0,45–0,58 GW berpotensi meningkat hingga 11 GW pada 2030. Sementara itu, Pemerintah merencanakan penambahan kapasitas energi sebesar 69,5 GW berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034, yang didukung juga oleh program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 GWp.
Untuk mencapai target tersebut, Indonesia membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang kompeten, dengan kebutuhan sekitar 9 juta talenta digital hingga 2030. Pemerintah terus merespons kebutuhan tersebut melalui penguatan pendidikan, program Beasiswa Talenta Digital (Digital Talent Scholarship), kerja sama pelatihan dengan penyedia teknologi dan negara lain, termasuk melalui WAICO, serta pemberian insentif Super Tax Deduction hingga 200% untuk kegiatan pelatihan vokasi.
Seiring dengan penguatan infrastruktur dan pengembangan talenta digital, Pemerintah juga mendorong pemanfaatan ekonomi digital untuk membuka peluang usaha dan memperluas pasar, termasuk bagi media lokal. Dengan jutaan pengguna internet pada 2026, media lokal dapat mengambil peran dalam mempromosikan produk UMKM, pariwisata, dan potensi unggulan daerah melalui pemasaran digital, produksi konten kreatif, serta kegiatan komunitas yang dapat menjadi sumber pendapatan baru.
Menutup sambutan, Staf Ahli Haryo juga menyampaikan bahwa industri media lokal saat ini menghadapi tantangan perubahan lanskap periklanan yang mendorong perlunya diversifikasi sumber pendapatan. Salah satunya melalui transformasi menuju konsep Beyond Media yang membuka peluang pengembangan layanan kreatif, pengelolaan komunitas, serta penyelenggaraan kegiatan bernilai komersial. Untuk itu, media lokal diharapkan semakin berdaya saing dan mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
“Dalam memperluas peluang bisnis tentu harus tetap diimbangi dengan independensi editorial dan kredibilitas informasi, karena kepercayaan publik merupakan modal utama keberlanjutan industri media,” pungkas Staf Ahli Haryo.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut diantaranya yakni Pemimpin Redaksi Suara.com, Country Program Manager International Media Support Indonesia, pimpinan dan pengelola media, serta pelaku usaha.





